Donny Budhi Utoyo adalah tokoh peletak dasar literasi digital / Internet Sehat di Indonesia pada 2002 yang kemudian dituliskannya dalam buku perdana Internet Sehat serta buku Kerangka Literasi Digital Indonesia. Kiprahnya di literasi digital mendapatkan penghargaan Fellow of Sosial Entrepreneur dari Ashoka Foundation pada 2010. ICT Watch, organisasi nirlaba bidang literasi digital yang didirikannya, mendapatkan penghargaan Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen - AJI pada 2014 dan penghargaan the World Information and the Information Society (WSIS) Award Winner dari ITU - PBB pada 2017 dan 2024.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Donny B. Utoyo | |
|---|---|
| Lahir | 06 November 1974 Yogyakarta, Indonesia |
| Pekerjaan | Aktivis |
| Pendidikan | Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor |
| Almamater | Magister Sains Universitas Indonesia Sarjana Teknik Universitas Gunadarma |
| Periode | 1999–sekarang |
Donny Budhi Utoyo (Donny B.U) (lahir 6 November 1974) adalah tokoh peletak dasar literasi digital / Internet Sehat di Indonesia pada 2002 yang kemudian dituliskannya dalam buku perdana Internet Sehat[1][2] serta buku Kerangka Literasi Digital Indonesia.[3] Kiprahnya di literasi digital mendapatkan penghargaan Fellow of Sosial Entrepreneur[4] dari Ashoka Foundation pada 2010. ICT Watch, organisasi nirlaba bidang literasi digital yang didirikannya, mendapatkan penghargaan Tasrif Award[5] dari Aliansi Jurnalis Independen - AJI pada 2014 dan penghargaan the World Information and the Information Society (WSIS) Award Winner dari ITU - PBB pada 2017[6][7] dan 2024.[8]
Donny B.U adalah salah satu inisiator Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi[9][10] dan menjadi Ketua Umum yang ketiga sejak 2023. Bersama rekan-rekannya sesama pegiat literasi digital ia turut memotori sejumlah kolaborasi penulisan dan peluncuran puluhan buku seri literasi digital [11][12][13][14] yang dapat diakses publik di https://literasidigital.id . Ia juga anggota tim perumus buku putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial (AI) Nasional[15][16] dan tim pengarah buku Indonesia Artificial Intelligence (AI) Literacy, Insights and Framework[17].
Ia menempuh pendidikan sarjana bidang Teknik Informatika di Universitas Gunadarma (1993 - 1998), S2 bidang Manajemen Komunikasi di Universitas Indonesia (1999 - 2002) - Jakarta, dan saat ini (2024) tengah menempuh program doktoral Sosiologi Pedesaan di Institut Pertanian Bogor (IPB), konsentrasi Digitalisasi dan Perubahaan Sosial.
Donny memulai karier jurnalistik sebagai wartawan di Detikcom sebagai wartawan bidang teknologi informasi dan komunikasi / TIK (1999) hingga pengunduran dirinya saat menduduki posisi sebagai Vice President Publisher Group (2010). Ia juga sempat menjadi kolumnis tetap (2001 - 2004) untuk rubrik TIK di majalah InfoKomputer dan Djakarta! serta pengajar mata kuliah Digital Media, e-Business System dan Cyber Journalism antara lain di Universitas Bina Nusantara dan Universitas Pelita Harapan (2002 - 2015).
Ia juga aktif dalam sejumlah forum internasional seperti Internet Governance Forum (IGF) dan the World Summit on the Information Society (WSIS) serta berkolaborasi dengan pemangku kepentingan majemuk (multistakeholder) menginisiasi Indonesia Internet Governance (ID-IGF) pada 2012, Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) pada 2013 dan Indonesia Child Online Protection (ID-COP) pada 2014.
Dalam sejumlah aktivisme literasi digital di Indonesia, Donny kerap terlibat dalam sejumlah inisiatif kolaborasi karya pengetahuan baik berupa film dokumenter ataupun buku yang dapat bebas diakses publik.[18][19] Inisiatifnya berupa film dokumenter tentang Internet Indonesia "Linimassa #1 dan Linimassa #2" menjadi bagian dari mata pelajaran tingkat SMA di Australia untuk pelajaran Indonesian: Second Language tingkat SMA di Australia.[20][21] Film yang ia proseduri tersebut juga pernah diputar secara khusus dalam CinemAsia Film Festival 2013 di Amsterdam, Belanda.[22][23] Film dokumenter pendek "Kelipat Duit Cepat di Internet" tentang problematika judi online dan pinjaman online (pinjol) ilegal di Indonesia, yang juga ia produseri, terpilih menjadi salah satu dari delapan film pendek Asia Tenggara yang diputar pada ajang Sinema Hak Digital[24] di Goethe-Institut Indonesien pada Februari 2024.[25] Beberapa buku lainnya semisal Pengantar Tata Kelola Internet (2018),[26] Tiga Tantangan Utama Transformasi Digital Indonesia: Kertas Posisi Masyarakat Sipil (2022),[27] Manajemen Strategi dan Praktik Komunikasi Publik via Kanal Digital (2022),[28] serta Digital Aman, Aman Bergerak (2023).[29]