Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Distosia bahu

Distosia bahu adalah kondisi bayi terhalang proses lahirnya melalui vagina, saat bahu bayi terhalang oleh tulang pubis ibu. Salah satu gejalanya adalah kepala bayi masuk kembali ke dalam vagina, yang dikenal dengan kondisi "gejala kura-kura". Komplikasi bisa terjadi dalam bentuk cedera brachial plexus, atau patah tulang selangka yang dialami bayi. Sementara ibu bisa mengalami robek vagina atau perineal, perdarahan post partum, atau pecah atau robeknya rahim.

kondisi bahu bayi tersangkut saat persalinan
Diperbarui 13 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Distosia bahu
Distosia bahu
Tindakan penekanan area suprapubic dilakukan untuk menangani kondisi distosia bahu
SpesialisasiObstetri
GejalaRetraction of the babies head back into the vagina[1]
KomplikasiBayi mengalami cedera bahu, patah tulang selangka, robek vagina atau area pireneal, perdarahan post partum[2]
Faktor risikoDiabetes gestasional, sebelumnya ibu pernah mengalami kondisi serupa, proses kelahiran vaginal melalui operasi, obesitas ibu, ukuran kepala bayi terlalu besar, dan bius epidural[3]
Metode diagnostikTubuh bayi gagal keluar dalam waktu 1 menit setelah kepala muncul[3]
PengobatanIbu diminta mendorong kaki ke arah luar dan atas, mendorong perut bawah sedikit di atas tulang pubis, memutar bahu bayi secara manual, dan meminta ibu mengambil pose merangkak[2][3]
Frekuensi~ Sekitar 1 persen dari kelahiran melalui vagina[3]

Distosia bahu adalah kondisi bayi terhalang proses lahirnya melalui vagina, saat bahu bayi terhalang oleh tulang pubis ibu.[4][5] Salah satu gejalanya adalah kepala bayi masuk kembali ke dalam vagina, yang dikenal dengan kondisi "gejala kura-kura".[1] Komplikasi bisa terjadi dalam bentuk cedera brachial plexus (rangkaian gerak di sekitar bahu, termasuk otot, syaraf, sendi, dan tulang), atau patah tulang selangka yang dialami bayi.[3][6] Sementara ibu bisa mengalami robek vagina atau perineal, perdarahan post partum, atau pecah atau robeknya rahim.[2][7]

Kondisi ini digolongkan kedaruratan obstetri, yang berarti bisa mengancam jiwa ibu maupun anak.[8][9] Upaya mengatasi kondisi ini termasuk di antaranya adalah: ibu diminta untuk mendorong kakinya ke arah luar dan atas, tenaga kesehatan mendorong perut bawah, sedikit di atas tulang pubis, atau melakukan Episiotomi.[8] Jika cara-cara ini tidak juga berhasil, maka dilakukan usaha secara manual untuk memutar bahu bayi atau ibu diminta mengambil pose merangkak bisa dicoba. Distosia bahu terjadi di sekitar 0.4% sampai 1.4% kelahiran melalui vagina.[10] Meskipuan digolongkan kedaruratan obstetri, tetapi realitasnya kematian akibat kondisi ini sangat jarang terjadi.[11]

Faktor risiko yang menyertai kondisi ini diabetes gestasional, sebelumnya pernah mengalami kondisi ini, operasi melahirkan melalui vagina, obesitas ibu, ukuran bayi terlalu besar, dan bius epidural.[12] Diagnosis terhadap kondisi ini ditegakkan begitu badan bayi tidak kunjung keluar dalam satu menit sejak kepala bayi keluar.[12] Kondisi ini digolongkan sebagai proses melahirkan yang terhalangi (obstructed labour).[13]

Gejala

Salah satu karakter yang muncul, walau sebenarnya jarang, adalah gejala kura-kura. Dalam kondisi ini, kepala bayi masuk kembali ke dalam vagina setelah sempat keluar, mirip dengan gerakan kura-kura yang memasukkan kepalanya ke dalam tempurung saat merasa terancam. Muka bayi juga terlihat merah dan membengkak.

Referensi

  1. 1 2 Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  2. 1 2 3 "Shoulder dystocia" (PDF). Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 2013. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 October 2020. Diakses tanggal 3 October 2018.
  3. 1 2 3 4 5 Dahlke, JD; Bhalwal, A; Chauhan, SP (June 2017). "Obstetric Emergencies: Shoulder Dystocia and Postpartum Hemorrhage". Obstetrics and Gynecology Clinics of North America. 44 (2): 231–243. doi:10.1016/j.ogc.2017.02.003. PMID 28499533.
  4. ↑ "Shoulder dystocia" (PDF). Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 2013. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 October 2020. Diakses tanggal 3 October 2018.
  5. ↑ Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  6. ↑ Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  7. ↑ Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  8. 1 2 "Shoulder dystocia" (PDF). Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 2013. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 October 2020. Diakses tanggal 3 October 2018.
  9. ↑ Isabella, CM, dkk (2023-01). "KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL" (PDF). repositori.widyagamahusada.ac.id. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  10. ↑ Dahlke, JD; Bhalwal, A; Chauhan, SP (June 2017). "Obstetric Emergencies: Shoulder Dystocia and Postpartum Hemorrhage". Obstetrics and Gynecology Clinics of North America. 44 (2): 231–243. doi:10.1016/j.ogc.2017.02.003. PMID 28499533.
  11. ↑ Gherman, Robert B.; Gonik, Bernard (2009). "Shoulder Dystocia". The Global Library of Women's Medicine. doi:10.3843/GLOWM.10137.
  12. 1 2 Dahlke, JD; Bhalwal, A; Chauhan, SP (June 2017). "Obstetric Emergencies: Shoulder Dystocia and Postpartum Hemorrhage". Obstetrics and Gynecology Clinics of North America. 44 (2): 231–243. doi:10.1016/j.ogc.2017.02.003. PMID 28499533.
  13. ↑ Buck, Carol J. (2016). 2017 ICD-10-CM Standard Edition - E-Book (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. hlm. 108. ISBN 9780323484572. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-04-30. Diakses tanggal 2018-10-03.


Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • FAST
Nasional
  • Republik Ceko
  • Israel

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Gejala
  2. Referensi

Artikel Terkait

Pengguguran kandungan

penghentian kehamilan secara sengaja

Mohammad Reza Pahlavi

Raja kedua dari Dinasti Pahlavi dan syah terakhir dari monarki Iran

Manusia

nama umum Homo sapiens, satu-satunya spesies genus Homo yang masih ada

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026