Moa raksasa (Dinornis) adalah genus burung ratite yang sudah punah yang masuk kedalam famili moa. Spesies ini endemik terhadap Selandia Baru.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Dinornis maximus | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | |
| Filum: | |
| Kelas: | |
| Superordo: | |
| Ordo: | |
| Famili: | |
| Genus: | Dinornis |
| Spesies | |
|
Moa raksasa pulau Utara, D. novaezelandiae (type) | |
| Sinonim | |
Moa raksasa (Dinornis) adalah genus burung ratite yang sudah punah yang masuk kedalam famili moa. Spesies ini endemik terhadap Selandia Baru.
Dinornis merupakan salah satu burung terbesar yang pernah hidup. Burung ini memiliki tinggi 3 m dan berat 300 kg. Sayapnya berwarna coklat kemerahan dan seperti rambut, dan menutupi hampir seluruh tubuh kecuali bagian bawah kaki dan kebanyakan kepala. Kakinya besar dan kuat, dan burung ini memiliki leher panjang yang membuat mereka dapat mencapai tanaman tinggi.
Moa raksasa, seperti moa lainnya, dihabisi oleh koloni manusia yang memburunya untuk makanan. Semua taxa pada genus ini punah pada tahun 1500 di Selandia Baru.
Tiga spesies Dinornis:
Dinornis mendiami dataran rendah yang tertutup hutan di Selandia Baru. Sebagai herbivora, mereka menggunakan paruh mereka yang kuat untuk memotong ranting, daun, dan buah-buahan dari pohon. Analisis koprolit (kotoran yang membatu) menunjukkan bahwa mereka memakan berbagai jenis tanaman dari hutan podokarpus dan semak belukar.
Salah satu fakta paling menarik dari genus ini adalah dimorfisme seksual yang ekstrem. Berdasarkan analisis DNA purba, ditemukan bahwa burung betina berukuran jauh lebih besar daripada burung jantan—bahkan hingga 1,5 kali tinggi dan 2,8 kali berat jantan. Saking bedanya, pada awalnya para ilmuwan mengira jantan dan betina adalah spesies yang sepenuhnya berbeda.
Sebelum kedatangan manusia, satu-satunya predator alami Moa raksasa adalah Elang Haast. Namun, setelah pemukiman manusia pertama pada akhir abad ke-13, populasi Moa menyusut drastis. Kombinasi antara perburuan berlebihan dan pembukaan lahan hutan melalui pembakaran menyebabkan seluruh genus ini lenyap hanya dalam waktu kurang dari 200 tahun.
