Denny Abdi adalah seorang diplomat karier yang kini menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam. Ia dilantik sebagai Duta Besar RI untuk Vietnam oleh Presiden Joko Widodo pada 14 September 2020. Denny Abdi menyerahkan Surat Kepercayaan dari Presiden Joko Widodo kepada Presiden Vietnam Nguyễn Phú Trọng pada tanggal 17 Maret 2021. Sebelum menjabat sebagai duta besar, ia adalah direktur Asia Tenggara di kementerian luar negeri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Denny Abdi | |
|---|---|
| Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri | |
| Mulai menjabat 17 September 2025 | |
| Duta Besar Indonesia untuk Vietnam | |
| Mulai menjabat 14 September 2020 | |
| Presiden | Joko Widodo Prabowo Subianto |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 12 Januari 1970 Sungai Penuh, Jambi, Indonesia |
| Kebangsaan | |
| Suami/istri | Kristien Abdi |
| Almamater | Universitas Andalas (S.E.) Universitas Indonesia (M.Si.) |
|
| |
Denny Abdi (lahir 12 Januari 1970)[1] adalah seorang diplomat karier yang kini menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam.[2] Ia dilantik sebagai Duta Besar RI untuk Vietnam oleh Presiden Joko Widodo pada 14 September 2020.[3] Denny Abdi menyerahkan Surat Kepercayaan dari Presiden Joko Widodo kepada Presiden Vietnam Nguyễn Phú Trọng pada tanggal 17 Maret 2021.[4] Sebelum menjabat sebagai duta besar, ia adalah direktur Asia Tenggara di kementerian luar negeri.
Lahir di Sungai Penuh pada 12 Januari 1970, Denny Abdi adalah keturunan Minang.[5] Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh Yayasan Prayoga. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SD Agnes Padang dari tahun 1976 sampai 1982, diikuti oleh SMP Maria Padang, dari tahun 1982 sampai 1985. Ia bersekolah di SMA Don Bosco Padang dari tahun 1985 sampai 1988 sebelum belajar manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas di Padang. Selama masa kuliahnya, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan, menjabat sebagai sekretaris jenderal badan perwakilan mahasiswa fakultasnya dan memimpin himpunan mahasiswa jurusannya, selain menjadi anggota AIESEC. Ia memperoleh gelar sarjananya pada tahun 1995. Setelah diterima di departemen luar negeri, dari tahun 1997 sampai 1999 Denny menempuh pendidikan magister hubungan internasional di Universitas Indonesia.[6]
Denny memulai tahun ketiga kuliahnya sebagai asisten manajer lapangan di perusahaan Ferrostaal Indonesia pada tahun 1991 selama dua tahun. Ia kemudian bekerja di perusahaan Sumatera Jaya Commodities sebagai manajer ekspor selama tiga tahun sejak tahun 1993, mewakili perusahaan tersebut di berbagai asosiasi ekspor. Ia sempat bekerja di Bank Universal di Jakarta sebagai direct funding officer pada tahun 1997 sebelum melamar ke departemen luar negeri pada tahun yang sama. Ia diterima di departemen luar negeri sebagai calon pegawai negeri sipil dan mengikuti pendidikan diplomatik dasar serta kursus bahasa Prancis.[6]
Denny memulai tugasnya sebagai pegawai negeri sipil penuh setelah meraih gelar magisternya pada tahun 1999. Jabatan diplomatiknya dimulai dengan penugasan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra dengan pangkat sekretaris kedua dari tahun 2001 hingga 2005. Setelah itu, ia menjabat sebagai asisten juru bicara presiden untuk hubungan internasional, Dino Patti Djalal, dari tahun 2005 hingga 2007 dan asisten sekretaris jenderal Kementerian Luar Negeri, Imron Cotan, dari tahun 2007 hingga 2008.[7]
Denny melanjutkan tugasnya di luar negeri, di Perutusan Tetap Republik Indonesia di New York dari tahun 2008 hingga 2012 dengan pangkat sekretaris pertama,[5] dan kemudian sebagai konselor. Ia kemudian diangkat sebagai kepala subdirektorat untuk urusan ekonomi dan keuangan internasional pada Direktorat Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup, Kementerian Luar Negeri dari tahun 2012 hingga 2015 dan di Perutusan Tetap Republik Indonesia di Jenewa dengan pangkat konselor dari tahun 2015 hingga 2017.[7]
Pada 26 April 2017, Denny dilantik sebagai Direktur Asia Tenggara pertama di Kementerian Luar Negeri.[8] Denny mengelola hubungan bilateral Indonesia dengan seluruh negara anggota ASEAN, Timor Leste, Palau, dan Kepulauan Marshall. Dalam perannya ini, ia menyoroti pentingnya mengubah pola pikir dari mengekspor bahan mentah menjadi produk bernilai tambah dan menekankan perlunya inovasi dan investasi berkelanjutan untuk meningkatkan perdagangan dan mengurangi defisit dengan negara-negara tertentu seperti Singapura dan Thailand. Ia juga menunjukkan potensi ekonomi digital yang signifikan di Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai pasar terbesar.[9]
Pada 19 Maret 2020, Denny dicalonkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Duta Besar untuk Vietnam.[10] Setelah lulus penilaian oleh komisi I Dewan Perwakilan Rakyat pada bulan Juni,[11] ia dilantik sebagai Duta Besar pada 14 September.[12] Ia menyerahkan surat kepercayaannya kepada Presiden Vietnam Nguyễn Phú Trọng pada 17 Maret 2021.[13] Menurut Denny, ia tidak mengalami kesulitan beradaptasi dengan tugasnya di Vietnam karena adanya kemiripan makanan, suasana, dan cuaca dengan Indonesia. Untuk menyediakan makanan Indonesia bagi dirinya dan para tamu, Denny mendatangkan seorang juru masak dari Indonesia.[14] Selama SEA Games 2021 di Hanoi, kedutaan besar terlibat dalam koordinasi transportasi, akomodasi, makanan, fasilitas pelatihan, dan penerjemah bagi tim Indonesia serta mendorong warga negara Indonesia di Hanoi untuk menghadiri pertandingan dan menyemangati para atlet, terutama di akhir pekan.[15] Di akhir masa jabatannya, ia menerima Medali Persahabatan dari Wakil Menteri Luar Negeri Nguyễn Mạnh Cường pada 31 Oktober 2025.[16] Denny mengumumkan kepergiannya kepada Ketua Majelis Nasional Trần Thanh Mẫn pada 30 Oktober[17] dan Perdana Menteri Phạm Minh Chính pada 31 Oktober.[18]
Pada 17 September 2025, Denny dilantik sebagai sekretaris jenderal Kementerian Luar Negeri.[19] Pada 29 November 2025, Denny terpilih sebagai ketua ikatan alumni Universitas Andalas[20] dengan dukungan dari menteri luar negeri Sugiono.[21]