Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Dekoherensi kuantum

Dekoherensi kuantum atau hilangannya kohesi kuantum merupakan suatu proses di mana perilaku suatu sistem berubah dari yang dapat dijelaskan oleh mekanika kuantum menjadi yang dapat dijelaskan oleh mekanika klasik. Dalam mekanika kuantum, partikel-partikel seperti elektron dijelaskan oleh fungsi gelombang yang merupakan representasi matematis dari keadaan kuantum suatu sistem. Fungsi gelombang juga digunakan untuk menjelaskan berbagai efek kuantum melalui interpretasi probabilitas. Ketika ada hubungan fase yang pasti antara keadaan-keadaan yang berbeda, sistem dikatakan kohesif. Hubungan fase yang pasti ini diperlukan untuk melakukan komputasi kuantum pada informasi kuantum yang terkodifkasi dalam keadaan kuantum. Tetapi, kohesi hanya dapat dipertahankan dalam batas-batas tertentu dan tergantung pada hukum fisika kuantum. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengendalian dekoherensi menjadi penting dalam pengembangan teknologi komputasi kuantum. Pengenalan konsep dekoherensi pertama kali dilakukan pada tahun 1970 oleh fisikawan asal Jerman, H. Dieter Zeh, dan menjadi subjek penelitian aktif sejak tahun 1980-an.

Wikipedia article
Diperbarui 21 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dekoherensi kuantum
Ketika suatu benda terkena hamburan sinar dari foton-foton sekitarnya, gerakannya dalam fisika klasik tidak akan berubah rata-rata oleh sinar yang dihamburkan tersebut. Tetapi, dalam fisika kuantum, interaksi antara foton-foton yang dihamburkan dengan benda yang terkena hamburan tersebut akan membuat keduanya terikat satu sama lain (entangled). Hal ini mengakibatkan kohesi fase dari benda yang dihamburkan menjadi tidak terlokalisasi hanya pada benda tersebut saja, tetapi menyebar ke seluruh sistem. Sehingga pola interferensi tidak dapat diamati secara jelas.

Dekoherensi kuantum atau hilangannya kohesi kuantum merupakan suatu proses di mana perilaku suatu sistem berubah dari yang dapat dijelaskan oleh mekanika kuantum menjadi yang dapat dijelaskan oleh mekanika klasik. Dalam mekanika kuantum, partikel-partikel seperti elektron dijelaskan oleh fungsi gelombang yang merupakan representasi matematis dari keadaan kuantum suatu sistem. Fungsi gelombang juga digunakan untuk menjelaskan berbagai efek kuantum melalui interpretasi probabilitas. Ketika ada hubungan fase yang pasti antara keadaan-keadaan yang berbeda, sistem dikatakan kohesif. Hubungan fase yang pasti ini diperlukan untuk melakukan komputasi kuantum pada informasi kuantum yang terkodifkasi dalam keadaan kuantum. Tetapi, kohesi hanya dapat dipertahankan dalam batas-batas tertentu dan tergantung pada hukum fisika kuantum. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengendalian dekoherensi menjadi penting dalam pengembangan teknologi komputasi kuantum. Pengenalan konsep dekoherensi pertama kali dilakukan pada tahun 1970 oleh fisikawan asal Jerman, H. Dieter Zeh, dan menjadi subjek penelitian aktif sejak tahun 1980-an.[1]

Referensi

  1. ↑ Bacciagaluppi, Guido (2020). Zalta, Edward N. (ed.). The Role of Decoherence in Quantum Mechanics (Edisi Fall 2020). Metaphysics Research Lab, Stanford University.

Bacaan lanjutan

  • Bacciagaluppi, Guido (21 April 2020) [3 November 2003]. "The Role of Decoherence in Quantum Mechanics". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 3 January 2022.
  • Collins, Graham P. (17 Oktober 2005). "Quantum Bug: Qubits might spontaneously decay in seconds". Scientific American.
  • Schlosshauer, Maximilian (2007). Decoherence and the Quantum-to-Classical Transition (Edisi 1). Berlin/Heidelberg: Springer. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Joos, E.; et al. (2003). Decoherence and the Appearance of a Classical World in Quantum Theory (Edisi 2). Berlin: Springer. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Omnes, R. (1999). Understanding Quantum Mechanics. Princeton: Princeton University Press.
  • Zurek, Wojciech H. (2003). "Decoherence and the transition from quantum to classical – Edisi Revisi", arXiv:quant-ph/0306072, 44:36–44 (1991)
  • Schlosshauer, Maximilian (23 Februari 2005). "Decoherence, the Measurement Problem, and Interpretations of Quantum Mechanics". Reviews of Modern Physics. 76 (2004): 1267–1305. arXiv:quant-ph/0312059. Bibcode:2004RvMP...76.1267S. doi:10.1103/RevModPhys.76.1267. S2CID 7295619.
  • Halliwell, J. J.; Perez-Mercader, J.; Zurek, Wojciech H., ed. (1996). The Physical Origins of Time Asymmetry. Bag. 3: Dekoherensi. ISBN 0-521-56837-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Berthold-Georg Englert, Marlan O. Scully & Herbert Walther, Quantum Optical Tests of Complementarity, Nature, Vol 351, hal. 111–116 (9 Mei 1991) dan The Duality in Matter and Light Scientific American, hal. 56–61, (Desember 1994).
  • Mario Castagnino, Sebastian Fortin, Roberto Laura dan Olimpia Lombardi, A general theoretical framework for decoherence in open and closed systems, Classical and Quantum Gravity, 25, hal. 154002–154013, (2008).
  • Carroll, Sean (Oktober 2021). Primanda, Andya, ed. Something Deeply Hidden, Quantum Worlds and the Emergence of Spacetime [Yang Jauh Tersembunyi, Fisika Kuantum dan Teori Banyak-Dunia]. Diterjemahkan oleh Kosen, Sandoko. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9786024816490.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Referensi
  2. Bacaan lanjutan

Artikel Terkait

Mekanika kuantum

cabang fisika yang menjelaskan alam dalam skala atom

Komputasi kuantum

membangun komputer kuantum yang berguna. Sangat sulit untuk mempertahankan keadaan kuantum qubit, karena mereka mengalami dekoherensi kuantum. Oleh karena itu

Penerowongan kuantum

Dalam mekanika kuantum, penerowongan kuantum merupakan salah satu fenomena berskala nano di mana sebuah partikel melanggar asas mekanika klasik dengan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026