Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Penggundulan hutan di Kalimantan

Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia, yang terbagi antara Indonesia, Malaysia dan Brunei, tak hanya memiliki hutan hujan, tetapi juga hutan dataran tinggi dan rendah tropis yang tutupan hutannya telah mengalami deforestasi sejak tahun 1960-an, karena ekonomi penduduk asli di kawasan tersebut mengalami industrialisasi yang cepat. Pada 1980an dan 1990an, hutan-hutan Kalimantan mengalami perubahan yang dramatis. Hutan-hutan tersebut mengalami tingkat yang tak seimbang dalam sejarah manusia, pembakaran, penebangan dan penggundulan, dan umumnya diganti dengan lahan pertanian, atau penanaman kelapa sawit. Setengah akuisisi kayu tropis global tahunan sekarang berasal dari Kalimantan. Selain itu, penanaman kelapa sawit dengan cepat mengancam sisa-sisa hutan hujan utama. Kebanyakan penggundulan hutan bersifat ilegal. Dampak dari penggndulan hutan ini akan sangat merugikan bagi seluruh aspek kehidupan manusia, berkontribusi pada bencana alam, perubahan iklim, peningkatan suhu global, dan penipisan lapisan ozon.

deforestasi terhadap wilayah hutan di Pulau Kalimantan
Diperbarui 27 Juli 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Penggundulan hutan di Kalimantan
Ada usul agar Penebangan hutan di Kalimantan digabungkan ke artikel ini. (Diskusikan) Diusulkan sejak Juli 2025.
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Penggundulan hutan di Kalimantan" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(November 2021)
Sebuah citra satelit Pulau Kalimantan pada 19 Agustus 2002 yang menampilkan asap dari kebakaran lahan gambut.

Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia, yang terbagi antara Indonesia, Malaysia dan Brunei, tak hanya memiliki hutan hujan, tetapi juga hutan dataran tinggi dan rendah tropis yang tutupan hutannya telah mengalami deforestasi[1] sejak tahun 1960-an, karena ekonomi penduduk asli di kawasan tersebut mengalami industrialisasi yang cepat. Pada 1980an dan 1990an, hutan-hutan Kalimantan mengalami perubahan yang dramatis. Hutan-hutan tersebut mengalami tingkat yang tak seimbang dalam sejarah manusia, pembakaran, penebangan dan penggundulan, dan umumnya diganti dengan lahan pertanian, atau penanaman kelapa sawit. Setengah akuisisi kayu tropis global tahunan sekarang berasal dari Kalimantan. Selain itu, penanaman kelapa sawit dengan cepat mengancam sisa-sisa hutan hujan utama. Kebanyakan penggundulan hutan bersifat ilegal. Dampak dari penggndulan hutan ini akan sangat merugikan bagi seluruh aspek kehidupan manusia, berkontribusi pada bencana alam, perubahan iklim, peningkatan suhu global, dan penipisan lapisan ozon.[2]

World Wildlife Fund membagi Kalimantan dalam sejumlah wilayah ekologi yang berbeda yang meliputi hutan hujan dataran rendah Borneo yang meliputi sebagian besar pulau tersebut, dengan luas 427.500 kilometer persegi (165.100 sq mi), hutan gambut Borneo, Kerangas atau hutan jantung Sundaland, hutan rawa air tawar Barat Daya Borneo, dan mangrove Paparan Sunda. Hutan hujan pegunungan Borneo membentang di dataran tinggi pulau tersebut, di atas ketinggian 1.000 meter (3.300 ft). Kawasan tersebut mewakili habitat beberapa spesies terancam, seperti orangutan dan gajah dan endemik-endemik langka seperti luwak.

Selain pengaruh Borneo dalam konservasi keragaman hayati dan penyerapan karbon, hutan-hutan memiliki signifikansi dalam keamanan air dan kedaulatan pangan untuk komunitas lokal penduduk asli.[3]

Referensi

  1. ↑ Ramadhany, Nugraha (2023-07-26). "Laju Deforestasi Hutan Akibat Aktivitas Pertambangan di Provinsi Kalimantan Timur". Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan. 7 (1): 10–19. doi:10.26760/jrh.v7i1.10-19. ISSN 2579-4264.
  2. ↑ Nurul Hikmah (2023-03-21). "LITERATURE REVIEW UNITED NATIONS AND INDONESIAN GOVERNMENT FOR MANAGEMENT DEFORESTATION CASES IN KALIMANTAN ISLAND". PubBis : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi Publik dan Administrasi Bisnis. 7 (1): 105–112. doi:10.35722/jurnalpubbis.v7i1.728. ISSN 2550-1054.
  3. ↑ "Claims over Mount Sadong to be probed, says Awg Tengah". The Borneo Post. 20 November 2013.

Pranala luar

  • mongabay.com – Kalimantan at the Crossroads: Dipterocarp Forests and the Future of Indonesian Borneo
  • WWF – Borneo's wildlife threatened by illegal trade and deforestation
  • "Borneo's Moment of Truth" National Geographic
  • TED.com TED talk: "Willie Smits restores a rain forest" Diarsipkan 2014-02-08 di Wayback Machine.
  • Mongabay: Borneo

Templat:Pengawahutanan

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Referensi
  2. Pranala luar

Artikel Terkait

Kalimantan Barat

provinsi di Pulau Kalimantan, Indonesia

Hutan hujan tropis di Indonesia

(Dryobalanops spp.). Hutan hujan tropis di Indonesia telah mengalami laju pembalakan atau deforestasi yang tinggi. Penyebabnya adalah pengelolaan hutan yang tidak

Transmigrasi

pemindahan penduduk dari wilayah padat seperti Jawa, Bali, dan Madura ke wilayah kurang berpenduduk di luar pulau tersebut, seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026