Defekasi merupakan kelanjutan dari pencernaan dan adalah proses biologis esensial di mana organisme mengeluarkan material limbah padat, semipadat, atau cair yang dikenal sebagai feses dari saluran pencernaan melalui anus atau kloaka. Tindakan ini memiliki beragam sebutan, mulai dari istilah teknis, istilah umum, istilah kasar (boker), eufemisme, hingga istilah kekanak-kanakan. Topik ini, yang biasanya dihindari dalam percakapan sopan, menjadi dasar bagi humor skatologis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

artikel ini mungkin ditulis dari perspektif antroposentrisme yang berlebihan. |

Defekasi (atau buang air besar) merupakan kelanjutan dari pencernaan dan adalah proses biologis esensial di mana organisme mengeluarkan material limbah padat, semipadat, atau cair yang dikenal sebagai feses (atau tinja) dari saluran pencernaan melalui anus atau kloaka. Tindakan ini memiliki beragam sebutan, mulai dari istilah teknis (misalnya buang air besar), istilah umum (seperti berak), istilah kasar (boker), eufemisme ("ke belakang", "panggilan alam", atau "membuang hajat"), hingga istilah kekanak-kanakan ("eek", "pup"). Topik ini, yang biasanya dihindari dalam percakapan sopan, menjadi dasar bagi humor skatologis.
Manusia mengeluarkan feses dengan frekuensi yang bervariasi, mulai dari beberapa kali sehari hingga beberapa kali seminggu.[1] Gelombang kontraksi otot (dikenal sebagai peristalsis) di dinding usus besar menggerakkan materi feses melalui saluran pencernaan menuju rektum. Flatus (buang angin) juga dapat dikeluarkan. Makanan yang tidak tercerna juga dapat dikeluarkan bersama feses, dalam proses yang disebut egesti. Ketika burung berdefekasi, mereka juga mengeluarkan urine dan urat dalam massa yang sama, sedangkan hewan lain mungkin juga kencing secara bersamaan saat defekasi, namun proses tersebut terpisah secara spasial. Defekasi juga dapat menyertai proses persalinan dan kematian. Bayi mengeluarkan substansi unik yang disebut mekonium sebelum mengonsumsi makanan eksternal.Terdapat sejumlah kondisi medis yang berkaitan dengan defekasi, seperti diare dan konstipasi (sembelit), yang beberapa di antaranya bisa berakibat serius. Kekhawatiran yang lebih sederhana dan umum adalah pemeliharaan kebersihan anal, yang biasanya mengharuskan pembersihan area tersebut segera setelah defekasi. Feses yang dikeluarkan dapat membawa penyakit, paling sering melalui kontaminasi makanan. E. coli adalah perhatian khusus.
Sebelum masa toilet training, feses manusia paling sering ditampung dalam popok. Setelah itu, di banyak masyarakat, orang umumnya berdefekasi di toilet. Toilet bilas gaya Barat mengharuskan posisi duduk, berbeda dengan toilet jongkok. Namun, buang air besar sembarangan, praktik berdefekasi di luar ruangan tanpa menggunakan toilet jenis apa pun, masih tersebar luas di beberapa negara berkembang;[2] beberapa orang di negara-negara tersebut membuang hajat ke laut. Negara-negara maju menggunakan instalasi pengolahan air limbah atau pengolahan setempat untuk air limbah hitam.

Gerakan peristaltis dari otot-otot dinding usus besar menggerakkan tinja dari saluran pencernaan menuju ke rektum.[3] Pada rektum terdapat bagian yang membesar (disebut ampulla) yang menjadi tempat penampungan tinja sementara. Otot-otot pada dinding rektum yang dipengaruhi oleh sistem saraf sekitarnya dapat membuat suatu rangsangan untuk mengeluarkan tinja keluar tubuh. Jika tindakan pembuangan terus ditahan atau dihambat maka tinja dapat kembali ke usus besar yang menyebabkan air pada tinja kembali diserap, dan tinja menjadi sangat padat. Jika buang air besar tidak dapat dilakukan untuk masa yang agak lama dan tinja terus mengeras, konstipasi dapat terjadi. Sementara, bila ada infeksi bakteri atau virus di usus maka secara refleks usus akan mempercepat laju tinja sehingga penyerapan air sedikit. Akibatnya, tinja menjadi lebih encer sehingga perut terasa mulas dan dapat terjadi pembuangan secara tanpa diduga. Keadaan demikian disebut dengan diare.
Ketika rektum telah penuh, tekanan di dalam rektum akan terus meningkat dan menyebabkan rangsangan untuk buang air besar. Tinja akan didorong menuju ke saluran anus. Otot sphinkter pada anus akan membuka lubang anus untuk mengeluarkan tinja.
Selama buang air besar, otot dada, diafragma, otot dinding abdomen, dan diafragma pelvis menekan saluran cerna. Pernapasan juga akan terhenti sementara ketika paru-paru menekan diafragma dada ke bawah untuk memberi tekanan. Tekanan darah meningkat dan darah yang dipompa menuju jantung meninggi.
Buang air besar dapat terjadi secara sadar dan tak sadar (contohnya buang air besar saat melakukan proses persalinan). Kehilangan kontrol dapat terjadi karena cedera fisik (seperti cedera pada otot sphinkter anus), radang, penyerapan air pada usus besar yang kurang (menyebabkan diare, kematian, dan faktor fatal).
Pada dasarnya, frekuensi buang air besar pada setiap orang bervariasi. Meski begitu, ada masanya ketika orang yang biasanya buang air besar hanya tiga hari sekali pun tidak mampu mengeluarkan setelah empat atau lima hari, bahkan seminggu. Atau, yang biasanya buang air besar tiap hari tidak mampu mengeluarkan feses setelah lebih dari dua hari.[4]

Posisi dan perilaku saat buang air besar tergantung dari masing-masing kebudayaan yang berlaku atau kebiasaan masing-masing orang.
Pada beberapa daerah seperti Asia Timur, pedesaan Timur Tengah, dan beberapa daerah di Eropa Selatan terbiasa melakukannya dengan posisi jongkok. Sementara di kebanyakan dunia Barat dengan posisi duduk.
Pada beberapa kebudayaan, setelah membuang air besar, bagian anus dan bokong dibersihkan dengan kertas toilet atau kertas tisu, dan mungkin bahan lainnya seperti dedaunan. Ada pula yang membersihkannya dengan basuhan air.