Terdapat beberapa teori konspirasi yang tidak sah dengan berbagai tingkat ketenaran, yang biasanya dikaitkan namun tidak terbatas pada rencana pemerintah yang ditutup-tutupi, rencana pembunuhan terencana, pembuatan teknologi dan ilmu pengetahaun rahasia, dan skema tersembunyi lainnya yang berada di balik peristiwa sejarah, budaya dan politik tertentu. Beberapa teori terhalang oleh penyensoran dan bertentangan hukum seperti seperti penyangkalan Holocaust. Teori konspirasi biasanya berlawanan dengan konsensus atau tidak dapat disepakati menggunakan metode sejarah dan biasanya tidak sama dengan konspirasi terverifikasi seperti pretensi Jerman untuk menginvasi Polandia pada Perang Dunia II.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Terdapat beberapa teori konspirasi yang tidak sah dengan berbagai tingkat ketenaran, yang biasanya dikaitkan namun tidak terbatas pada rencana pemerintah yang ditutup-tutupi, rencana pembunuhan terencana, pembuatan teknologi dan ilmu pengetahaun rahasia, dan skema tersembunyi lainnya yang berada di balik peristiwa sejarah, budaya dan politik tertentu. Beberapa teori terhalang oleh penyensoran dan bertentangan hukum seperti seperti penyangkalan Holocaust. Teori konspirasi biasanya berlawanan dengan konsensus atau tidak dapat disepakati menggunakan metode sejarah dan biasanya tidak sama dengan konspirasi terverifikasi seperti pretensi Jerman untuk menginvasi Polandia pada Perang Dunia II.

Sejak Abad Pertengahan, Antisemitisme masih memegang karakteristik teori konspirasi. Tuduhan Antisemitik terus menerus berlanjut. Di Eropa pada Abad Pertengahan, Yahudi dituduh meracuni sumur, telah membunuh Yesus. dan memakan darah orang Kristen dalam ritual mereka (meskipun pada kenyataannya darah hewan dan manusia tidak kosher).
Pada paruh kedua abad ke-19, para pemegang teori konspirasi mengklaim bahwa Yahudi dan/atau Freemason berencana memegang kendali atas dunia. Teks paling terkenal yang menuduh keberadaan teori konspirasi Yudeo-Masonik adalah Protokol Para Tetua Sion. Sebuah manifestasi paling modern dari gagasan semacam itu adalah teori Pemerintah Pendudukan Zionis.
Berbagai teori konspirasi mengait-kaitkan Yahudi dengan perbankan,[1] yang meliputi teori yang menyatakan bahwa perbankan dunia didominasi oleh keluarga Rothschild,[2] bahwa Yahudi mengkontrol Wall Street,[2] dan bahwa Yahudi mengkontrol U.S. Federal Reserve System.[3] Sebuah teori terkait mengatakan bahwa Yahudi mengkontrol Hollywood atau media berita.[4][5][6]
Sebagian besar penyangkalan Holocaust mengklaim secara tersirat, atau secara terbuka, bahwa Holocaust adalah sebuah hoax yang dikembangkan melalui persekongkolan Yahudi untuk meningkatkan perhatian bangsa-bangsa lain terhadap Yahudi,[7] dan untuk membenarkan pembuatan Negara Israel. Karena itu, penyangkalan Holocaust dianggap sebagai teori konspirasi[8] antisemitik.[9]
Penulis Yahudi Inggris Bat Ye'or, pengarang Eurabia: The Euro–Arab Axis, yang kemudian disusul oleh jurnalis Italia Oriana Fallaci, mengeluarkan sebuah teori konspirasi anti-Arab yang menyatakan bahwa terdapat persekongkolan antara para kaum elit Prancis dengan Komunitas Ekonomi Eropa dan Liga Arab pada pertengahan 1970an untuk membentuk sebuah aliansi strategis melawan Amerika Serikat dan Israel, dan untuk membuat Eropa menjadi wilayah Islam.[10]
Pernikahan antar kepercayaan, khususnya antara Hindu dan Muslim, sering kali menjadi titik ketegangan dan berakibat kerusuhan komunal di India. Jihad Cinta, yang juga disebut Jihad Romeo, yang sebagian besar dianggap sebagai teori konspirasi, merupakan sebuah kegiatan dimana pria atau lelaki Muslim muda dikabarkan menargetkan para gadis muda yang berasal dari komunitas non-Muslim untuk berpindah agama ke Islam atas dasar cinta.[11][12][13][14]
Teori konspirasi anti-Katolik, teori konspirasi Yesuit, dan Vatikan beragam dalam tingkat keekstreman mereka. Teori konspirasi yang paling ekstrem menampilkan gagasan yang lebih realistis yang memandang bahwa Gereja Katolik merupakan etnitas politik yang mengendalikan peristiwa-peristiwa dunia atau ekonomi global, khususnya melalyu perbankan Vatikan; atau bahwa Gereja Katolik telah mengadakan dan sedang menutup-nutupi keterlibatan mereka dalam konspirasi politik dan praktik-praktik kejahatan dan tak bermoral lainnya. Teori-teori lainnya yang jatuh pada sisi paling ekstrem meliputi kepercayaan bahwa Gereja Katolik. Yesuit, atau Kesatria Kenisah menyimpan bukti atau dokumen berpengaruh pada masa lalu yang bertentangan dengan pengajaran Gereja, sebuah teori yang makin tenar dengan popularitas The Da Vinci Code karya Dan Brown.
Pada 1858, karya pseudo-sejarah Alexander Hislop, The Two Babylons menuduh bahwa Gereja Katolik Roma bermula dari sebuah agama misteri Babilonia dan menyatakan bahwa upacara dan ritualnya merupakan sebuah kelanjutan dari paganisme Babilonia. Pada masa yang sama, 50 Years In The Church of Rome dan The Priest, the Woman and the Confessional (1885) karya Charles Chiniquy yang mengaku sebagai pendeta menjadi populer karena menyatakan Katolik sebagai pagan rahasia.
Buku Avro Manhattan Vatican Moscow Alliance (1982), The Vatican Billions (1983) dan The Vatican's Holocaust (1986) memberikan pandangan bahwa Gereja menrancang peperangan demi mendominasi dunia. Karya Avro Manhattan menjadi dasar serangkaian traktat karya evangelis buku komik dan anti-Katolik modern terkenal Jack Chick yang juga menuduh kepausan mendukung Komunisme, dengan menggunakan Yesuit untuk melakukan revolusi, dan mendalangi Holocaust. Menurut Chick, Gereja Katolik adalah "Pelacur Besar" yang disebutkan pada Kitab Wahyu, dan akan mengirim Tatanan Dunia Baru Satanik sebelum dihancurkan oleh Yesus Kristus. Chick mengklaim bahwa Gereja Katolik berencana dan berupaya untuk menghancurkan atau merusak seluruh agama dan gereja lainnya, dan membuat berbagai peristiwa yang meliputi perpecahan, penutup-nutupan, dan pembunuhan para kritikusnya secara diam-diam. Berdasarkan pada gagasan Alberto Rivera, Chick juga mengklaim bahwa Gereja Katolik membantu mendirikan Islam sebagai sebuah alat unbtuk menjauhkan orang-orang dari Kekristenan dalam apa yang ia sebut Konspirasi Vatikan Islam. Menurut Alberto Rivera, Muhammad dimanipulasi oleh Gereja Katolik untuk membuat Islam dan menghancurkan Yahudi dan kelompok Kristen lainnya, dan istri pertama Muhammad, Khadijah binti Khuwailid, sebenarnya adalah seorang biarawati Katolik di sebuah biara Arab yang disuruh oleh seorang uskup untuk menikahinya dan menabur benih-benih yang kemudian menjadi Islam.[15] Rivera juga menuduh bahwa Vatikan membuat penampakan di Fatima (mengambil nama dari putri Muhammad) untuk menyanjung kaum Muslim.[15] Ia kemudian menyatakan bahwa Gereja Katolik telah mengadakan upaya pembunuhan Paus Yohanes Paulus II pada 1981 dengan menggunakan seorang Muslim sebagai penyamaran "untuk memberitahu dunia Muslim bahwa mereka masih dekat dengan kepercayaan Katolik..."[15] Rivera juga menyakini bahwa Yesuit bertanggung jawab atas pembuatan Komunisme dan Nazisme, sebab dari kedua Perang Dunia, Pembantaian Jonestown, dan pembunuhan Abraham Lincoln dan John F. Kennedy; bahwa Gereja Katolik ingin menyebarkan homoseksualitas dan aborsi; bahwa Gerakan Karismatik adalah sebuah front untuk Gereja Katolik; bahwa para Paus adalah Anti-Kristus; dan bahwa Gereja Katolik adalah Pelacur Besar.[15] Ia juga mengklaim bahwa Yesuit adalah dalang di balik Inkuisisi Abad Pertengahan pada abad ke-12, meskipun pada kenyataannya Yesuit baru didirikan pada 1534.[16][17]
Pengarang David Yallop menerbitkan buku buatannya dengan penjualan terbaik, In God's Name (1984), yang mengklaim bahwa Paus Yohanes Paulus I dibunuh oleh para pembuat skema Vatikan yang korup (lihat teori konspirasi Paus Yohanes Paulus I) dengan novel konspirasi lainnya, The Power and the Glory: Inside the Dark Heart of John Paul II's Vatican (2007), yang mengklaim bahwa Paus Yohanes Paulus II bersekongkol dengan para penguasa Soviet.[18]