Cukilan adalah sebuah desa di kecamatan Suruh di Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Terletak disebelah Utara kota Kecamatan Suruh, berjarak sekitar 7 km dari kantor Kecamatan Suruh. Secara administratif letak geografis Desa Cukilan Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang dibatasi oleh 5 desa, 2 kecamatan, dan 1 Kabupaten pada sisi-sisinya. Batas-batas desa Cukilan:
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Cukilan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Tengah | ||||
| Kabupaten | Semarang | ||||
| Kecamatan | Suruh | ||||
| Kode pos | 50776 | ||||
| Kode Kemendagri | 33.22.04.2016 | ||||
| Luas | 6,5km² | ||||
| Jumlah penduduk | 6.060 | ||||
| Kepadatan | 150 jiwa/km² | ||||
| |||||
Cukilan adalah sebuah desa di kecamatan Suruh di Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Terletak disebelah Utara kota Kecamatan Suruh, berjarak sekitar 7 km dari kantor Kecamatan Suruh. Secara administratif letak geografis Desa Cukilan Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang dibatasi oleh 5 desa, 2 kecamatan, dan 1 Kabupaten pada sisi-sisinya. Batas-batas desa Cukilan:
| Sebelah Utara | : Desa Dadapayam |
| Sebelah Barat | : Desa Krandon Lor dan Desa Terban, Kec. Pabelan |
| Sebelah Selatan | : Desa Reksosari dan Desa Gunung Tumpeng |
| Sebelah Timur | : Desa Kedungringin dan Kab. Boyolali |
Luas Wilayah Desa Cukilan Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang memiliki luas secara keseluruhan sebesar 621,18 ha, secara administratif terdiri 7 dusun, 7 RW dan 41 RT.
Desa Cukilan terbagi atas 8 dusun:
Ketinggian wilayah Desa Cukilan Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang berada antara 350–550 m di atas permukaan laut (dpl), dengan ketinggian terendah berada di Dusun Gejugan dan tertinggi di Dusun Krajan 1. Berdasarkan tingkat kelandaiannya wilayah Desa Cukilan termasuk wilayah perbukitan.
Dari luas wilayah Desa Cukilan Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang sebesar 621,18 ha dengan penggunaan lahan untuk pertanian sawah seluas 157,91 ha, pertanian bukan sawah seluas 321,49 ha, dan penggunaan bukan pertanian seluas 141,80 ha.
Penggunaan lahan pertanian sawah dengan irigasi seluas 88,50 ha dan tadah hujan seluas 69,41 ha. Penggunaan lahan pertanian bukan sawah untuk tegal/kebun seluas 232,87 ha, perkebunan seluas 34,80 ha, dan hutan rakyat seluas 53,82 ha.
Wilayah Desa Cukilan memiliki iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 2000–3000 mm/ tahun, suhu udara berkisar antara 20-30 °C, kecepatan angin 0,37-0,71 knot, dan kelembapan udara 38,5-98%.
| Jumlah Penduduk 2024 | 6,060 |
Rincian Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama:
| Agama
| ||
| Islam | 5,998 | |
| Kristen | 61 | |
| Katolik | 1 | |
| Hindu | 0 | |
| Buddha | 0 | |
| Konghucu | 0 | |
| Kepercayaan terhadap Tuhan YME | 0 | |
Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, memiliki akar sejarah Islam yang kuat yang berkaitan dengan tokoh penyebar agama Islam, Ki Ageng Cukil Wanakusuma. Beliau berasal dari Tuluh Watu, Magelang, dan merupakan orang pertama yang menetap di Desa Cukilan. Sejak kecil, Ki Ageng Cukil Wanakusuma telah mendalami ilmu agama, ilmu peperangan, dan ilmu kanuragan. Ketika dewasa, ia menjadi abdi dalem prajurit Kerajaan Yogyakarta dan mendapatkan nama tambahan Wanakusumo, sehingga dikenal sebagai Ki Ageng Cukil Wanakusuma.
Sebagai penyebar Islam, Ki Ageng Cukil Wanakusuma memiliki pengaruh besar dalam perkembangan agama Islam di Cukilan. Hingga saat ini, makamnya masih dianggap keramat dan banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Peziarah datang untuk berdoa dan menghormati jasanya dalam penyebaran Islam.
Salah satu tradisi Islam yang masih bertahan di Cukilan adalah tradisi Saparan, yang dilaksanakan setiap bulan Safar dalam kalender Islam. Tradisi ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada Kamis Pon dan Jumat Wage, dan diikuti oleh masyarakat setempat serta warga dari luar desa. Tradisi ini bertujuan untuk tilik kubur, yaitu ziarah ke makam keluarga yang telah meninggal, sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Cukil Wanakusuma sebagai tokoh Islam yang pertama kali tinggal di Cukilan.
Seiring waktu, ajaran Islam yang disebarkan oleh Ki Ageng Cukil Wanakusuma terus berkembang dan menjadi bagian dari identitas budaya dan spiritual masyarakat Cukilan, menjadikan desa ini sebagai salah satu pusat keislaman yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat dan lestari hingga kini.
Desa Cukilan dilayani oleh 2 Gereja Yaitu:
Penginjilan di Cukilan dan Jangglengan berawal dari persekutuan kecil yang diinisiasi oleh mahasiswa Kristen di Salatiga pada akhir 1960-an. Dalam upaya memperluas jangkauan Injil, pelayanan semakin berkembang pada 1970-an, dengan fokus pada daerah-daerah yang masih kuat dengan tradisi Islam Kejawen, termasuk Cukilan dan Jangglengan.
Para penginjil memulai pelayanan mereka melalui ibadah dari rumah ke rumah, membangun hubungan dengan masyarakat sekitar, dan memberikan pemahaman tentang ajaran Kristen. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada aspek teologi, tetapi juga merangkul budaya lokal dan kehidupan sosial, mengikuti model penginjilan yang pernah dilakukan oleh Kiai Sadrach, di mana tradisi Jawa masih diakomodasi dalam penyebaran ajaran Kristen.
Seiring berjalannya waktu, beberapa warga mulai tertarik dan mengikuti kegiatan persekutuan dan pengajaran Alkitab. Misi ini cukup berhasil, terutama di Cukilan, di mana beberapa orang memilih untuk dibaptis dan menjadi jemaat tetap. Sementara itu, Jangglengan juga mengalami pertumbuhan, meskipun lebih lambat dibanding daerah lain.