Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Cornel Simanjuntak

Cornel Simanjuntak (lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 1921 - meninggal di Yogyakarta, 15 September 1946 adalah seorang pencipta lagu-lagu heroik dan patriotik Indonesia berdarah Batak. Ia dianggap sebagai tokoh yang membawa bibit unggul perkembangan musik Indonesia.

pemusik asal Pematang Siantar, Sumatera Utara
Diperbarui 24 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Cornel Simanjuntak
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Cornel Simanjuntak" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(November 2025)
Ini adalah nama Batak Toba, marganya adalah Simanjuntak.
Cornel Simanjuntak
Lahir1921
Afdeeling Simeloengoen, Gemeente Pematang Siantar, Gouvernement van Sumatra, Hindia Belanda
Meninggal15 September 1946 (umur 25)
Pakem, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Republik Indonesia
Sebab meninggalTuberkulosis
Tempat pemakamanTaman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Yogyakarta
KewarganegaraanIndonesia
Dikenal atasKomponis dan Pencipta lagu patriotik Indonesia

Cornel Simanjuntak (lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 1921 - meninggal di Yogyakarta, 15 September 1946 (umur 25) adalah seorang pencipta lagu-lagu heroik dan patriotik Indonesia berdarah Batak. Ia dianggap sebagai tokoh yang membawa bibit unggul perkembangan musik Indonesia.

Riwayat hidup

Masa Pra-Kemerdekaan

Cornel Simanjuntak yang beragama Katolik dilahirkan di Pematang Siantar tahun 1921 dari keluarga pensiunan polisi kolonial. Cornel tamatan HIS St. Fransiscus Medan, 1937, HIK Xaverius College Muntilan 1942.[1] Kemudian Ia menjadi guru di Magelang beberapa bulan. Pindah ke Jakarta, Ia menjadi guru SD Van Lith. Namun, karena bakat seninya lebih garang, ia beralih profesi ke Kantor Kebudayaan Jepang, Keimin Bunka Shidosho. Di sanalah ia menciptakan lagu propaganda Jepang antara lain: Menanam Kapas, Bikin Kapal, Menabung — yang paling populer di antaranya berjudul Hancurkanlah Musuh Kita. Guru musiknya adalah Pater J. Schouten dan Ray serta juga mendiang Sudjasmin.

Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Cornel memiliki sejumlah pengalaman perang. Pada tahun 1945-1946, ia mengarahkan moncong senjatanya kepada tentara Gurkha/Inggris. Malang, dalam sebuah pertempuran di daerah Senen - Tangsi Penggorengan Jakarta, pahanya tertembak. Dirawat di RSUP. Belum sembuh benar, ia diselundupkan ke Karawang karena Gurkha melakukan pembersihan.

Dari Karawang ia dikirim ke Yogyakarta. Di kota inilah kemudian lahir lagu-lagu yang heroik dan patriotik. Antara lain: Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan, Teguh Kukuh Berlapis Baja, Indonesia Tetap Merdeka.

Peluru di paha Cornel konon tetap bersarang ketika penyakit kronis TBC menyerangnya — dan langsung menumbangkannya ke liang lahat. Ia meninggal pada tanggal 15 September 1946 di Sanatorium Pakem, Yogyakarta,[1] dalam status perjaka. Ia dimakamkan di Pemakaman Kerkop Yogyakarta.

Menjelang maut Cornel masih sempat mengangkat telepon untuk menyampaikan pesan-entah kepada siapa, entah pesan apa-tapi ia keburuh jatuh, dan mata serta mulutnya menjadi kaku. Menurut rekannya sesama pejuang, Karkono Kamajaya, menjelang ajal ia masih sempat menulis lagu bernama Bali Putra Indonesia. Lagu yang ditulis dengan gamelan itu belum selesai.

Pemindahan makam

Makam Cornel Simanjuntak di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta.

Pemindahan Cornel ke Taman Makam Pahlawan sebenarnya sudah diusulkan sejak September 1978. Hampir saja merepotkan, karena beberapa instansi meminta data-data berupa bintang jasa yang ada.

Ternyata Cornel tidak sebiji pun mengantongi persyaratan itu. Ia hanya mewariskan tanda kehormatan Piagam Satyalancana Kebudayaan yang dianugerahkan tahun 1961 oleh Pemerintah Indonesia. Letkol Suharsono S., Dan Dim 0734 Yogya, menganggap Satyalancana itu setingkat dengan Bintang Gerilya atau bintang-gemintang lainnya. Jadi bisa dipakai sebagai tiket masuk Mahkam Pahlawan, asal ada izin keluarga.

Usul yang didalangi para seniman yang tergabung dalam ‘Sasana Vocalia Yogya’ pimpinan Suyudono Hr tersebut, akhirnya jadi lancar ketika KSAD Jenderal Widodo memberikan persetujuannya.

Dari Kerkop, kerangka sempat diinapkan di Art Gallery Senisono di samping Gedung Agung. Maklumlah gedung mi dlanggap pusat kesenian Yogya. Selama itu lagu-lagu mendiang berkumandang terus-menerus dibawakan oleh sejumlah bocah dari Paduan Suara Bocah Bocah Sasana Vokalia. Serentetan tembakan salvo mendampingi prosesi ketika sisa-sisa tubuh Cornel Simanjuntak dalam liang lahat yang lebih terhormat di Taman Makam Pahlawan Semaki di kota yang sama. Hari itu, 10 Nopember 1978, Yogya mengenang kembali komponis pejuang itu.

“Gugur sebagai seniman dan prajurit tanah air,” demikian kalimat di batu nisan Cornel Simanjuntak.

Karya

  • Bungaku
  • Indonesia Tetap Merdeka
  • Kemuning
  • Kupinta Lagi
  • Maju Indonesia
  • Maju Tak Gentar
  • Mekar Melati
  • O Ale Alogo
  • Oh, Angin
  • Pada Pahlawan
  • Sorak Sorak Bergembira
  • Tanah Tumpah Darahku
  • Tjitra
  • Topan
Lembar musik untuk lagu 'O, Angin' dari artikel Liberty Manik di Majalah Zenith, No. 1, Tahun 1, 15 Januari 1951

Tanda kehormatan

  •  Indonesia
    • Bintang Mahaputera Nararya (25 Agustus 2025)[2]

Referensi

  1. 1 2 Ibrahim, Muchtaruddin; Riama, Espita; Maryam, Andi; Buchori, Sanggupri; Haryono, P Suryo; Wulandari, Triana; Gunawan, Restu (200). Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan V (PDF). Jakarta: CV Putra Prima. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Negara, Kementerian Sekretariat. "Presiden Prabowo Anugerahkan Tanda Kehormatan Kepada 141 Tokoh | Sekretariat Negara". www.setneg.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-26.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • VIAF
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Belanda
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Riwayat hidup
  2. Masa Pra-Kemerdekaan
  3. Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
  4. Pemindahan makam
  5. Karya
  6. Tanda kehormatan
  7. Referensi

Artikel Terkait

Indonesian Idol (musim 14)

musim seri televisi

Suku Batak Toba

salah satu kelompok etnik Batak

Indonesian Idol (musim 11)

musim seri televisi

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026