Cloudflare, Inc. adalah perusahaan Amerika Serikat yang menyediakan jasa jaringan pengantaran konten, pencegahan DDoS, keamanan Internet, dan peladen nama domain terdistribusi. Produk Cloudflare adalah perantara pengunjung web dan penyedia hosting pengguna Cloudflare; Cloudflare berperan sebagai perantara terbalik situs web. Perusahaan ini bermarkas di San Francisco, California, dan memiliki kantor di London, Singapura, Champaign, Austin, Boston, dan Washington, D.C.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Didirikan | Juli 2009 (2009-07) |
|---|---|
| Kantor pusat | , |
| Pendiri |
|
| Tokoh kunci |
|
| Industri | Internet |
| Produk | Cloudflare |
| Layanan |
|
| URL | www |
Cloudflare, Inc. adalah perusahaan Amerika Serikat yang menyediakan jasa jaringan pengantaran konten, pencegahan DDoS, keamanan Internet, dan peladen nama domain terdistribusi. Produk Cloudflare adalah perantara pengunjung web dan penyedia hosting pengguna Cloudflare; Cloudflare berperan sebagai perantara terbalik (reverse proxy) situs web. Perusahaan ini bermarkas di San Francisco, California, dan memiliki kantor di London, Singapura, Champaign, Austin, Boston, dan Washington, D.C.[1][2]
Cloudflare didirikan pada 26 Juli 2009 oleh Matthew Prince, Lee Holloway, dan Michelle Zatlyn.[3][4][5] Prince dan Holloway sebelumnya berkolaborasi pada Project Honey Pot, sebuah produk dari Unspam Technologies yang sebagian menginspirasi dasar Cloudflare.[6] Pada 2009, perusahaan tersebut didanai modal ventura.[7] Pada 15 Agustus 2019, Cloudflare mengajukan dokumen S-1 untuk penawaran umum perdana di Bursa Efek New York dengan simbol saham NET.[8] Saham tersebut mulai diperdagangkan secara publik pada 13 September 2019 dengan harga $15 per saham.[9]
Pada 2020, salah satu pendiri dan COO Cloudflare Michelle Zatlyn diangkat menjadi presiden.[10]
Cloudflare telah mengakuisisi berbagai perusahaan layanan web dan keamanan, termasuk StopTheHacker (Februari 2014),[11] CryptoSeal (Juni 2014),[12] Eager Platform Co. (Desember 2016),[13] Neumob (November 2017),[14] S2 Systems (Januari 2020),[15] Linc (Desember 2020),[16] Zaraz (Desember 2021),[17] Vectrix (Februari 2022),[18] Area 1 Security (Februari 2022),[19] Nefeli Networks (Maret 2024), BastionZero (Mei 2024),[20] dan Kivera (Oktober 2024).[21]

Sejak setidaknya 2017, Cloudflare menggunakan dinding lampu lava di kantor pusatnya di San Francisco sebagai sumber keacakan untuk kunci enkripsi, bersama pendulum ganda di kantor London dan penghitung Geiger di kantor Singapura.[22] Instalasi lampu lava tersebut menerapkan metode Lavarand, di mana kamera mengubah bentuk tidak terduga dari gelembung "lava" menjadi gambar digital.[23][22]
Per Q4 2022, Cloudflare menyediakan layanan berbayar kepada 162.086 pelanggan.[24]
Pada Oktober 2024, Cloudflare memenangkan gugatan melawan Sable Networks, sebuah patent troll. Sable membayar Cloudflare $225.000, memberikan lisensi bebas royalti, dan menghibahkan paten mereka ke publik dengan meninggalkan hak paten tersebut.[25]
Pada November 2025, diumumkan bahwa Cloudflare setuju mengakuisisi Replicate, sebuah platform berbasis San Francisco yang memungkinkan pengembang perangkat lunak menjalankan, menyesuaikan, dan menerapkan model pembelajaran mesin open-source melalui API tanpa mengelola infrastruktur.[26]
Pada 1 Juni 2012, kelompok peretas UGNazi membobol beberapa akun milik CEO Cloudflare Matthew Prince dan mengalihkan pengunjung situs 4chan ke akun Twitter yang dimiliki UGNazi. Mereka diduga menggunakan rekayasa sosial untuk menipu staf dukungan AT&T agar memberikan akses ke pesan suara Prince, lalu mengeksploitasi kerentanan dalam penggunaan sistem autentikasi dua faktor Google oleh Cloudflare. Setelah menguasai akun email Prince, UGNazi dapat mengarahkan domain 4chan melalui basis data Cloudflare.[27][28]
Dari September 2016 hingga Februari 2017, sebuah bug besar Cloudflare yang dijuluki Cloudbleed[29] membocorkan data sensitif, termasuk kata sandi dan token autentikasi, dari situs pelanggan dengan mengirimkan data tambahan sebagai bagian dari respons permintaan web.[30]
Pada 18 November 2025, Cloudflare mengalami gangguan global besar yang menyebabkan meluasnya galat 500, memperlambat banyak platform, membuatnya sulit dijangkau, atau sepenuhnya tidak dapat diakses oleh pengguna di seluruh dunia.[31][32][33]
Layanan yang terdampak mencakup Twitter, Spotify, Letterboxd, Uber, Indeed, Canva, Grindr, IKEA, Archive of Our Own, Wplace, situs berita seperti Axios dan Politico, layanan AI dan LLM seperti ChatGPT, Sora, dan Microsoft Copilot, gim daring seperti League of Legends, serta layanan yang mengandalkan perangkat lunak tantangan keamanan milik Cloudflare, Turnstile.[34][35][36][37] Akses ke WARP, layanan VPN Cloudflare, juga sempat dinonaktifkan di London.[38] Selama gangguan, juru bicara Cloudflare menyatakan bahwa perusahaan melihat “lonjakan lalu lintas tidak biasa”, yang menyebabkan sebagian lalu lintas yang melewati jaringan mereka mengalami galat.[39]
Pada pukul 14:23 UTC, The Guardian melaporkan bahwa Cloudflare telah merilis perbaikan.[40] Mereka juga melaporkan bahwa pemeliharaan dijadwalkan berlangsung di berbagai lokasi, meskipun belum diketahui apakah hal tersebut terkait dengan gangguan tersebut.[41] Pada pukul 14:42 UTC, Cloudflare menginformasikan di halaman status bahwa perbaikan telah diterapkan dan dibutuhkan waktu untuk menyelesaikan masalah pascadeployment.[42]
Sebuah laporan postmortem teknis dirilis sehari setelah gangguan. Cloudflare menyebutkan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh perubahan konfigurasi pada sebuah database, yang menyebabkan berkas tidak valid dikirim ke seluruh server dalam jaringan.[43][35]
has deployed a fix and is slowly recovering service
company's engineers had been due to carry out maintenance today