Cerpelai belang Afrika, yang juga dikenal sebagai cerpelai tengkuk putih, cerpelai belang, atau cerpelai Afrika, adalah mamalia kecil asli Afrika Sub-Sahara, di mana sebarannya membentang dari paling utara di Kenya hingga ke selatan di Afrika Selatan. Hewan ini termasuk dalam famili Mustelidae dan merupakan satu-satunya anggota dari genus Poecilogale. Hewan ini memiliki tubuh yang panjang dan ramping dengan kaki pendek serta ekor yang lebat. Sebagai salah satu hewan karnivora terkecil di Afrika, panjangnya berukuran 24 hingga 35 cm tanpa ekor, dengan pejantan yang umumnya lebih besar daripada betina. Sebagian besar tubuhnya ditutupi bulu berwarna hitam, dengan pita putih khas yang membentang dari atas kepala hingga ke punggungnya, sedangkan ekornya sepenuhnya berwarna putih. Kerabat terdekat spesies yang masih hidup ini adalah polecat belang, dan mungkin juga berkerabat dengan spesies yang telah punah Propoecilogale bolti.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Cerpelai belang Afrika | |
|---|---|
| Individu dewasa di penangkaran | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Mammalia |
| Ordo: | Carnivora |
| Famili: | Mustelidae |
| Subfamili: | Ictonychinae |
| Genus: | Poecilogale Thomas, 1883 |
| Spesies: | P. albinucha |
| Nama binomial | |
| Poecilogale albinucha (Gray, 1864) | |
| Subspesies | |
|
Lihat teks | |
| Peta sebaran cerpelai belang Afrika | |
| Sinonim[2][3][4] | |
Cerpelai belang Afrika (Poecilogale albinucha), yang juga dikenal sebagai cerpelai tengkuk putih, cerpelai belang, atau cerpelai Afrika, adalah mamalia kecil asli Afrika Sub-Sahara, di mana sebarannya membentang dari paling utara di Kenya hingga ke selatan di Afrika Selatan. Hewan ini termasuk dalam famili Mustelidae dan merupakan satu-satunya anggota dari genus Poecilogale. Hewan ini memiliki tubuh yang panjang dan ramping dengan kaki pendek serta ekor yang lebat. Sebagai salah satu hewan karnivora terkecil di Afrika, panjangnya berukuran 24 hingga 35 cm (9,4 hingga 13,8 in) tanpa ekor, dengan pejantan yang umumnya lebih besar daripada betina. Sebagian besar tubuhnya ditutupi bulu berwarna hitam, dengan pita putih khas yang membentang dari atas kepala hingga ke punggungnya, sedangkan ekornya sepenuhnya berwarna putih. Kerabat terdekat spesies yang masih hidup ini adalah polecat belang, dan mungkin juga berkerabat dengan spesies yang telah punah Propoecilogale bolti.
Cerpelai belang Afrika paling sering terlihat di padang rumput sabana dan veld yang memiliki banyak gundukan rayap, tetapi juga pernah tercatat berada di semi-gurun, hutan hujan, fynbos, dan bahkan area yang digunakan oleh manusia seperti perkebunan tusam dan lahan pertanian. Hewan ini merupakan penggali yang kuat dan biasanya menggali liang untuk tempat tinggalnya. Walaupun jarang terlihat, spesies ini telah diklasifikasikan sebagai Risiko Rendah dalam Daftar Merah IUCN sejak tahun 1996 karena sebarannya yang luas serta toleransinya yang baik terhadap habitat. Tidak ada ancaman besar yang diketahui bagi spesies ini, meskipun hewan ini umum digunakan dalam pengobatan tradisional setempat. Burung hantu dan anjing peliharaan diketahui sering memangsanya, dan cerpelai ini terkadang mati karena bertarung dengan sesamanya. Cerpelai ini biasanya melarikan diri jika merasakan adanya ancaman, namun dapat juga mencoba mengusir penyerangnya dengan mengeluarkan suara, melakukan serangan tipuan, atau menyemprotkan cairan berbau menyengat dari kelenjar perinealnya.
Cerpelai belang Afrika merupakan predator berspesialisasi yang makanannya hampir sepenuhnya terdiri atas hewan pengerat, walaupun mereka sesekali juga memakan burung. Bahkan saat lapar, mereka akan mengabaikan jenis hewan kecil dan telur lainnya yang diberikan kepada mereka sebagai makanan. Hewan ini biasanya menggigit bagian belakang leher mangsanya sembari berguling-guling atau menendang punggung mangsanya, yang kemungkinan merupakan upaya untuk melepaskan sendi leher mangsanya. Sementara itu, mangsa yang berukuran lebih besar mungkin justru dimatikan dengan gigitan pada tenggorokannya, walaupun hanya betina yang pernah teramati melakukan metode ini. Cerpelai ini jarang meminum air dan hanya melakukannya dalam jumlah kecil ketika cuaca panas. Secara umum, spesies ini adalah hewan nokturnal dan bersifat soliter, meskipun kelompok kecil yang terdiri dari maksimal empat individu terkadang terlihat. Perkembangbiakannya berlangsung dari musim semi hingga akhir musim panas, dengan rata-rata dua hingga tiga bayi dilahirkan dalam satu seperindukan setelah masa kehamilan yang berlangsung sekitar 30 hari.

Cerpelai belang Afrika pertama kali dideskripsikan pada tahun 1864, ketika pakar zoologi Inggris John Edward Gray mempelajari selembar kulit hewan peliharaan tersebut yang dibeli oleh British Museum sepuluh tahun sebelumnya yang diberi label sebagai "zorila". Ia menyadari bahwa kulit ini tidak seperti spesies anggota famili mustelid lainnya yang sudah diketahui, dan menyimpulkan bahwa spesimen tersebut mewakili spesies baru yang kemudian dinamainya Zorilla albinucha.[5] Nama spesifiknya merupakan gabungan kata dari bahasa Latin albicode: la is deprecated yang bermakna 'putih' dan nuchacode: la is deprecated yang bermakna 'tengkuk'.[2] Lima tahun setelahnya, Gray menerbitkan katalog mengenai beberapa spesimen mamalia di British Museum, yang di dalamnya ia memindahkan spesies tersebut ke dalam genus Mustela sebagai Mustela albinucha, seraya menambahkan keterangan bahwa spesies tersebut hanya memiliki warna yang menyerupai zorila.[4] Pada tahun 1883, pakar zoologi Inggris lainnya, Oldfield Thomas, mendapati bahwa spesies tersebut memiliki perbedaan tengkorak yang signifikan jika dibandingkan dengan genera mustelid mana pun yang telah diketahui. Oleh karenanya, ia membentuk genus baru Poecilogale, dengan satu-satunya spesies yang dimasukkan adalah Poecilogale albinucha. Nama generik spesies ini diturunkan dari kata bahasa Yunani Kuno poikilos (ποικίλοςcode: grc is deprecated ), yang berarti 'beraneka warna' atau 'licik', dan galē (γαλῆcode: grc is deprecated ), yang berarti 'cerpelai'. Studi Thomas ini didasarkan pada pengamatan lima spesimen cerpelai belang Afrika, empat di antaranya disimpan di British Museum, sedangkan yang satunya berada di Museum Sejarah Alam Paris.[3]
Pada tahun 1865, naturalis asal Jerman Wilhelm Peters melaporkan dua temuan spesimen mustelid dari daerah Golungo Alto, Angola. Ia mendeskripsikan salah satunya sebagai spesies baru yang diberi nama Zorilla africana, dan berasumsi bahwa spesimen lainnya juga harus dianggap sebagai salah satu varietas dari spesies ini. Akan tetapi, penjelajah asal Austria Friedrich Welwitsch mengatakan kepadanya bahwa spesimen yang kedua merupakan perwakilan spesies yang telah diberi nama setahun sebelumnya sebagai Zorilla albinucha. Welwitsch meyakini bahwa kedua bentuk tersebut secara konsisten memiliki perbedaan, dan bahkan penduduk pribumi setempat menyebutnya dengan nama yang berbeda pula.[6] Di tahun yang sama, seorang pakar zoologi Portugis José Vicente Barbosa du Bocage meneliti dua potong kulit dan sebuah kerangka cerpelai belang Afrika asal Calandula, Angola dan mengusulkan agar nama ilmiah hewan itu diubah menjadi Zorilla flavistriata.[7] Saat ini, baik Zorilla africana maupun Zorilla flavistriata tidak lagi dianggap sebagai nama yang valid, dan sekarang diakui sebagai sinonim junior dari Poecilogale albinucha.[2]
Sejumlah subspesies cerpelai belang Afrika telah diusulkan sepanjang abad ke-20, meskipun terdapat perdebatan mengenai berapa banyak di antaranya yang valid. Beberapa penulis meyakini bahwa spesies tersebut bersifat monotipe dan semua subspesies yang diusulkan harus dianggap tidak valid.[2][8] Lima subspesies berikut ini diakui dalam edisi ketiga Mammal Species of the World, yang diterbitkan pada tahun 2005:[9]
| Subspesies | Otoritas trinomial | Deskripsi | Sebaran |
|---|---|---|---|
| P. a. albinucha | (Gray, 1864) | Hitam dengan belang punggung putih kekuningan dan ekor putih.[5] | |
| P. a. bechuanae | Roberts, 1931 | Lebih besar dari subspesies nominasi, dengan semburat hijau di bagian depan belang punggung putihnya.[10] | Vryburg, Provinsi Barat Laut dan Randfontein, Gauteng, Afrika Selatan[11] |
| P. a. doggetti | Thomas dan Schwann, 1904 | Warnanya serupa dengan subspesies nominasi tetapi dengan belang lateral yang lebih panjang dibandingkan dengan belang tengahnya dan memiliki tengkorak yang lebih besar.[12] | Uganda[12] |
| P. a. lebombo | Roberts, 1931 | Warnanya serupa dengan subspesies nominasi, tetapi ukurannya berada di antara subspesies tersebut dan P. a. transvaalensis.[10] | Ubombo, KwaZulu-Natal, Afrika Selatan[11] |
| P. a. transvaalensis | Roberts, 1926 | Belang punggungnya sebagian besar berwarna oker pucat, bukan putih seperti pada subspesies lainnya.[13] | Tzaneen, Limpopo, Afrika Selatan[11] |
Cerpelai belang Afrika adalah satu-satunya spesies dalam genus monotipe Poecilogale, yang termasuk ke dalam subfamili Ictonychinae di dalam famili Mustelidae. Ictonychinae terbagi menjadi dua tribus, yakni Ictonychini dan Lyncodontini. Spesies ini merupakan bagian dari Ictonychini, bersama dengan Polecat belang, Polecat belang Sahara, dan Polecat pualam. Analisis genetik menunjukkan bahwa kerabat terdekat cerpelai belang Afrika yang masih hidup adalah polecat belang, dan keduanya diklasifikasikan sebagai takson saudari dalam berbagai studi.[14][15][16] Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2008 mengemukakan bahwa garis keturunan kedua spesies ini terpisah antara 2,7 hingga 2,2 juta tahun yang lalu, sedangkan studi pada tahun 2012 mengusulkan rentang waktu yang lebih awal, yakni antara 4,3 hingga 3,4 juta tahun yang lalu.[14][15] Kladogram berikut ini menunjukkan posisi cerpelai belang Afrika di antara kerabat terdekatnya yang masih hidup menurut Gray dkk. (2022):[16]
| Ictonychinae |
| ||||||||||||||||||||||||
Sebuah spesies fosil, Propoecilogale bolti, pada awalnya dinamai sebagai anggota genus Ictonyx, tetapi telah ditempatkan dalam genus yang terpisah sejak tahun 1987. Spesies ini menunjukkan ciri-ciri pada tengkorak dan giginya yang merupakan bentuk peralihan antara Ictonyx dan Poecilogale, dan telah diduga sebagai nenek moyang dari cerpelai belang Afrika.[17] Spesimen fosil Propoecilogale telah ditemukan di endapan gua dari zaman Pliosen Akhir dan Pleistosen Awal di Afrika Selatan, yang menunjukkan bahwa hewan ini hidup antara 2,6 hingga 1,4 juta tahun yang lalu.[18][19]


Sebagai salah satu hewan karnivora terkecil yang ditemukan di Afrika (bersama dengan garangan kerdil), cerpelai belang Afrika memiliki tubuh yang ramping dan kaki pendek, serta secara proporsional merupakan mamalia terpanjang yang merupakan hewan asli benua tersebut. Hewan ini memiliki mata kecil, moncong yang pendek dan lebar, serta telinga yang pendek dan membulat.[2][20] Individu dewasa memiliki panjang kepala dan tubuh 24 hingga 35 cm (9 hingga 14 in), dengan ekor yang menambah panjangnya lagi sebesar 138 hingga 215 cm (54 hingga 85 in). Spesies ini menunjukkan dimorfisme seksual, dengan pejantan berukuran lebih besar daripada betina. Enam pejantan yang dijadikan sampel di KwaZulu-Natal pada tahun 1978 memiliki berat rata-rata 339 g (12 oz), dan tiga pejantan yang dijadikan sampel di bekas Provinsi Cape pada tahun 1981 memiliki berat rata-rata 357 g (13 oz). Sebagai perbandingan, 251 g (9 oz) dan 215 g (8 oz) adalah berat rata-rata betina menurut kedua penelitian yang sama tersebut, dengan penelitian pertama mengambil sampel enam betina dan yang kedua mengambil sampel dua betina.[2][21] Sebagian besar bulunya berwarna hitam, dengan bercak putih di bagian atas kepala yang terbelah menjadi dua, lalu menjadi empat belang putih hingga kekuningan pucat yang membentang di sepanjang punggungnya.[2][22] Belang tersebut dapat berubah warna dan menjadi lebih gelap; belang pada satu individu praremaja tercatat berubah dari putih menjadi warna madu muda dalam rentang waktu sekitar enam minggu, dan belang pada individu lain di penangkaran dilaporkan berubah dari kuning muda menjadi kuning pucat pekat.[23] Noda yang disebabkan oleh tanah di habitatnya dapat menyebabkan belang ini tampak merah, abu-abu, atau kuning, terutama pada musim hujan.[8] Lebar belang ini bervariasi pada setiap individu; beberapa spesimen yang ditemukan di Botswana memiliki belang yang mencapai lebar 15 cm (5,9 in), sedangkan pada spesimen lainnya hanya mencapai 07 cm (2,8 in). Ekornya berwarna putih sepenuhnya dan tampak lebat, dengan masing-masing bulunya tumbuh sekitar 3 cm (1 in). Sebagai perbandingan, sebagian besar tubuhnya memiliki bulu dengan panjang sekitar 1 cm (0,4 in), dan bulu pada tungkainya hanya sepanjang 05 cm (2,0 in).[2]
Kepalanya memanjang, dengan tengkorak beberapa betina yang diukur pada tahun 1951 mencapai panjang rata-rata 513 cm (202 in) dan lebar rata-rata 236 cm (93 in) pada bagian lengkung zigomatiknya (area pipi). Rahang bawahnya terpasang rapat pada sendi rahangnya, yang sangat membatasi kemampuannya untuk menggerakkan rahang dari sisi ke sisi. Gigi karnasalnya tajam, dan gigi taringnya panjang.[2] Sistem gigi geliginya memiliki rumus gigi 3.1.2.13.1.2.1, yaitu tiga gigi seri, satu gigi taring, dua gigi pramolar, dan satu gigi geraham pada setiap paruh rahang, dengan jumlah keseluruhan 28 gigi. Hal ini berbeda dengan polecat belang (kerabat terdekatnya yang masih hidup) karena ia memiliki satu gigi pramolar lebih sedikit di setiap sisi rahang dan satu gigi geraham lebih sedikit di setiap sisi rahang bawah.[17][24][25] Ketiadaan gigi-gigi tersebut merupakan sebuah sifat turunan yang berbeda dari kondisi leluhurnya yang dipertahankan oleh polecat belang, sama halnya dengan beberapa ciri tonjol (bagian yang menonjol) pada gigi geraham pertama (yaitu ketiadaan metakonid serta penyatuan metakon dan parakon).[17]

Seperti anggota famili mustelid lainnya, tungkai cerpelai belang Afrika masing-masing memiliki lima jari, dengan tiap jari dilengkapi sebuah cakar yang tajam. Cakar depannya lebih besar dan lebih melengkung daripada cakar belakang.[2][20] Setiap jari memiliki bantalan berbentuk oval di bagian bawahnya. Bagian bawah telapak kakinya sebagian besar tidak berbulu, yang mana masing-masing memiliki bantalan plantar besar bercuping empat, dengan setiap tungkai depan memiliki dua bantalan karpal tambahan di pergelangan tangan. Dalam aspek ini, ia berbeda dengan beberapa mustelid (yang telapak kakinya memiliki bagian bawah yang berbulu) dan paling mirip dengan pulasan dan cerpelai punggung garis. Namun, cerpelai belang Afrika berbeda dari kedua spesies ini karena memiliki cakar depan yang lebih besar serta jari ketiga dan keempat pada tungkai belakang yang letaknya lebih berdekatan. Hal ini menjadikannya contoh langka bagi mustelid yang bentuk telapak kakinya merupakan bentuk perantara antara telapak kaki kursorial (yang beradaptasi untuk berlari, seperti pada pulasan dan cerpelai punggung garis) dan telapak kaki fosorial (yang beradaptasi untuk menggali, seperti pada polecat belang).[26] Betina biasanya memiliki empat puting susu, meskipun beberapa ditemukan memiliki enam. Sebagaimana banyak mustelid lainnya, cerpelai belang Afrika memiliki sepasang kelenjar bau perineal yang berkembang dengan baik.[2]

Cerpelai belang Afrika mendiami sebagian besar wilayah Afrika di sebelah selatan khatulistiwa, dapat ditemukan mulai dari Republik Demokratik Kongo hingga Kenya di wilayah utara, dan membentang ke selatan hingga bagian selatan Afrika Selatan.[1] Spesies ini hidup di habitat lembap dengan curah hujan tahunan lebih dari 60 cm (24 in). Hewan ini sering ditemukan di lingkungan sabana dan veld yang memiliki gundukan rayap, dengan sebuah survei pada tahun 1978 mengungkapkan bahwa 75% penampakan cerpelai belang Afrika terjadi di padang rumput semacam itu.[2][8] Namun, spesies ini tampaknya memiliki toleransi terhadap berbagai jenis habitat, setelah pernah terlihat juga di semi-gurun, hutan hujan, fynbos, dan perkebunan pinus, serta bangkainya akibat tertabrak kendaraan juga pernah dikumpulkan di lahan pertanian. Mengingat adanya peningkatan penampakan di kawasan yang sebelumnya diyakini tidak sesuai untuk mereka (seperti di barat daya Afrika Selatan pada tahun 1998), cerpelai ini mungkin tersebar lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya.[1][20][21] Spesies ini umumnya hidup di ketinggian di bawah 1.500 m (4.921 ft), namun sesekali dapat ditemukan di tempat yang tingginya mencapai 2.200 m (7.218 ft).[2][8]

Cerpelai belang Afrika sebagian besar adalah hewan nokturnal, walaupun terkadang bisa dijumpai pada saat fajar atau senja. Spesies ini berjalan dengan gaya berjalan yang khas, dengan tubuh direntangkan atau dilengkungkan sembari moncongnya dipertahankan dekat dengan tanah, serta mengayunkan bagian depan tubuhnya dari sisi ke sisi dengan cara yang menyerupai ular. Hewan ini secara rutin berhenti untuk berdiri dengan kaki belakangnya agar dapat mengamati area sekitarnya.[8] Cerpelai ini adalah penggali yang andal dan membangun liang mereka sendiri, yang terkadang dilakukan secara berpasangan, dengan menggunakan tungkai depan untuk menggali tanah dan tungkai belakang untuk menendang tanah ke arah belakang.[2][21] Namun, terkadang mereka dapat beristirahat di rongga alami seperti batang kayu berongga atau celah bebatuan. Mereka membuang kotoran di lokasi jamban hewan yang sudah ditentukan, sembari mengangkat ekornya hampir vertikal saat melakukannya, yang kemungkinan sebagai cara untuk menandai wilayah dengan bau. Di alam liar, jamban-jamban ini umumnya berada di pangkal pohon dan gundukan rayap, sedangkan hewan di penangkaran mungkin akan membuang kotoran ke arah dinding vertikal.[2][23][27] Betina di penangkaran yang sedang menyusui anak-anaknya pernah tercatat mencelupkan lehernya ke dalam air saat cuaca sangat panas, yang mungkin bertujuan untuk mendinginkan dirinya sendiri sekaligus membawa air untuk membasahi dan mendinginkan anak-anaknya.[28]
Cerpelai belang Afrika secara umum bersifat soliter, tetapi sesekali bisa terlihat berpasangan atau dalam kelompok keluarga yang terdiri dari maksimal empat individu. Pejantan akan bersikap agresif ketika bertemu satu sama lain; pada awalnya mereka akan menegakkan bulu pada ekornya, mengeluarkan jeritan pendek, dan melakukan serangan tipuan, lalu akan memuncak menjadi pertarungan yang disertai gigitan, pukulan, dan jeritan agresif jika tidak ada individu yang mundur.[2] Spesies ini telah diidentifikasi dapat menghasilkan enam jenis panggilan yang berbeda. Selain panggilan peringatan dan agresif, serta panggilan ketiga yang merupakan transisi antara keduanya, terdapat panggilan lain yang menandakan ketundukan dari pejantan yang mundur. Selain itu, terdapat panggilan yang menandakan penyerahan diri saat bertarung, serta panggilan sapaan yang hanya digunakan antara pejantan dan betina maupun antara anak dan induknya. Cerpelai muda juga mengeluarkan panggilan bahaya ketika terpisah dari induknya.[27][29]
Cerpelai belang Afrika adalah predator spesialis yang diketahui berburu mamalia kecil dan burung, dengan sebagian besar makanannya terdiri dari hewan pengerat yang seukuran dengannya atau lebih kecil, dan mereka akan masuk ke dalam liang hewan pengerat tersebut untuk memburunya.[28][2] Walaupun mereka sesekali memakan reptil, serangga, dan telur, dalam percobaan yang dilakukan selama tahun 1970-an, cerpelai belang di penangkaran tidak menyerang atau memakan beberapa genus invertebrata (termasuk beragam serangga), reptil, amfibi, maupun telur ayam yang diberikan kepada mereka, bahkan saat dalam keadaan lapar.[28][2] Cerpelai ini berburu utamanya dengan menggunakan indra penciuman, menyerang mangsa dengan terjangan mendadak lalu menggigit bagian belakang lehernya. Setelah serangan pertama, mereka akan berguling-guling dan menendang punggung atau daerah panggul hewan mangsanya, mungkin dengan tujuan untuk melepaskan sendi leher mangsanya (sebagaimana dikemukakan pada tahun 1978 oleh peneliti Afrika Selatan, David T. Rowe-Rowe). Saat menghadapi mangsa yang lebih besar seperti tikus, yang beratnya bisa melebihi cerpelai itu sendiri, cerpelai betina dewasa justru menggigit bagian tenggorokannya, meskipun pejantan belum pernah tercatat melakukan hal ini. Mangsa secara umum dimakan secara utuh sembari cerpelai berada dalam posisi meringkuk, meskipun bulu dan kaki burung serta lambung mamalia terkadang disisakan. Tidak seperti polecat belang yang berkerabat dengannya, spesies ini tidak menggunakan tungkai depannya untuk menahan makanannya saat sedang makan. Walaupun cerpelai belang Afrika memakan mangsa yang lebih kecil dengan berat hingga 180 g (6,3 oz) dimulai dari bagian kepalanya, mangsa yang lebih besar justru dimakan dimulai dari bagian bahunya terlebih dahulu. Mereka terkadang menyimpan mangsa di dalam liangnya alih-alih langsung memakannya, memungut mangsa kecil pada kulit punggungnya dari atas tanah dan menyeret mangsa yang lebih besar ke arah belakang menuju tempat penyimpanannya. Usus cerpelai belang Afrika memiliki panjang antara 1,75 hingga 2 kali panjang tubuhnya tanpa ekor, dan makanan melewatinya dengan cukup cepat, dengan proses buang kotoran terjadi sekitar 165 menit setelah makanan dikonsumsi.[28]
Mereka tidak sering minum, karena mendapatkan sebagian besar kebutuhan cairannya melalui makanan mereka. Ketika mereka minum, mereka melakukannya dengan menjilat air menggunakan lidahnya. Seekor pejantan yang dipelihara di dalam kandang selama dua minggu pada musim dingin nyaris tidak minum air sama sekali selama waktu tersebut, dan hanya sesekali meminum air dalam jumlah kecil saat cuaca panas.[28]
Musim kawin cerpelai belang Afrika berlangsung panjang, mulai dari musim semi hingga akhir musim panas. Testis pejantan tetap membesar dari bulan September hingga April (musim semi hingga awal musim gugur) dan menyusut di sisa tahunnya. Suara gemeretak pelan, yang diyakini sebagai panggilan sapaan, dikeluarkan oleh pejantan ketika merayu betina selama masa ini. Jika sang betina reseptif, ia mungkin akan menunjukkan penerimaannya dengan bergerak mengelilingi pejantan. Pejantan kemudian akan menggigit pelan pipinya, mengendus vulvanya, dan menahan lehernya dari belakang. Selama kawin, pejantan terus mencengkeram leher betina dari belakang sembari mendekapkan tungkai depannya di sekitar area panggul betina. Durasi kopulasi bervariasi dan bisa sesingkat 27 menit, meskipun biasanya berlangsung antara 60 hingga 80 menit.[30] Setidaknya tiga kali sesi kopulasi dapat terjadi dalam satu hari. Betina membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan pejantan dan melahirkan satu seperindukan setiap tahun yang terdiri dari dua atau tiga ekor anak setelah masa kehamilan sekitar 30 hari, meskipun mereka dapat melahirkan seperindukan kedua jika yang pertama mati lebih awal.[2]
Kelahiran terjadi di dalam liang pada siang hari, dan induknya memakan plasenta setelahnya. Bayi yang baru lahir masing-masing hanya memiliki berat 4 g (0,14 oz). Mereka hampir tidak berbulu, dengan kulit merah muda yang terlihat di sebagian besar tubuh, surai bulu putih di bagian belakang kepala, dan punuk yang membentang dari belakang kepala hingga bahu. Induk mereka membawanya dengan menggigit punuk ini sampai punuk dan surai tersebut menghilang pada usia tujuh minggu, dan setelah itu sang induk akan membawanya dengan menggigit tengkuknya. Bayi yang baru lahir memiliki mata dan telinga yang tertutup, sehingga mereka buta dan tuli, meskipun celah mata dan daun telinga sudah terbentuk. Kulit mereka menjadi gelap pada usia tujuh hari, dan corak warna hitam dan putih yang mencolok pada spesies ini mulai terbentuk pada usia 28 hari. Gigi taring susu mereka tumbuh pada usia lima minggu, di mana pada saat itu mereka mulai memakan bagian lunak dari mangsa yang dibunuh oleh induknya, dengan gigi taring permanen tumbuh pada usia 11 minggu sebelum gigi taring susunya tanggal. Mata mereka terbuka pada usia 51 hingga 54 hari. Pada usia 11 minggu mereka mulai disapih (berhenti meminum susu), dan mereka mulai membunuh mangsanya sendiri pada usia 13 minggu. Mereka mencapai ukuran dewasa sepenuhnya pada usia 20 minggu, dan mencapai kematangan seksual pada usia delapan bulan.[30]
Umur cerpelai belang Afrika cukup pendek, dengan individu di penangkaran tercatat hanya hidup selama lima atau enam tahun.[2][31] Tuberkulosis limpa merupakan penyebab kematian yang umum terjadi pada beberapa cerpelai di penangkaran.[22] Mereka juga diketahui saling membunuh satu sama lain dalam pertarungan intraspesifik (pertarungan dengan sesama spesiesnya). Predator yang terdokumentasi memangsa individu liar meliputi burung hantu dan anjing peliharaan, dengan manusia juga terkadang menjebak dan membunuh mereka saat mendatangi kandang ayam atau untuk digunakan dalam pengobatan tradisional.[2][23] Beberapa menjadi korban tabrakan kendaraan, sebagaimana dibuktikan oleh temuan bangkai akibat tertabrak kendaraan di kawasan pertanian.[1] Cacing pita Taenia brachyacantha juga merupakan parasit yang diketahui menjangkiti spesies ini.[32]
Ketika terkejut, cerpelai belang Afrika mencoba kabur dengan melarikan diri ke dalam lubang, atau (menurut bukti anekdotal) sesekali dengan memanjat pohon. Jika tidak dapat melarikan diri, hewan ini dapat mengeluarkan suara yang menyerupai geraman atau jeritan sembari mengangkat ekornya dan melakukan serangan tipuan terhadap ancaman yang dirasakannya. Jika cara ini gagal, cerpelai tersebut dapat menyemprotkan cairan kekuningan berbau kasturi dari kelenjar perinealnya yang dapat disemprotkan hingga sejauh 1 m (3 ft 3 in).[2][23] Meskipun cairan ini memiliki bau yang kuat, manis, dan menyengat yang telah digambarkan sebagai bau "busuk", tampaknya cairan ini tidak memuakkan dan tidak seawet sekresi serupa dari sigung dan polecat belang.[27]
Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) pertama kali menilai status cerpelai belang Afrika pada tahun 1996 dan mendaftarkannya sebagai spesies Risiko Rendah dalam Daftar Merah IUCN, dengan status yang sama diberikan dalam penilaian-penilaian selanjutnya pada tahun 2008 dan 2015, dengan alasan bahwa meskipun tidak umum dijumpai, spesies ini memiliki sebaran yang luas dan toleransi habitat yang baik. IUCN tidak membuat perkiraan populasi untuk spesies ini, dan sekadar menyatakan bahwa jumlah individu dewasanya tidak diketahui, tetapi mencatat bahwa spesies ini "langka hingga tidak umum". Spesies ini tidak diketahui menghadapi ancaman besar apa pun, meskipun menjadi salah satu spesies yang paling rutin digunakan dalam pengobatan tradisional setempat. Selain itu, kulitnya digunakan sebagai jimat keberuntungan.[1] Modifikasi pada habitat padang rumput yang disukai cerpelai ini akibat aktivitas manusia seperti pertanian dan penggembalaan ternak juga dapat menimbulkan ancaman.[2]