Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Candi Sisangkilon

Candi Sangkilon adalah situs cagar budaya yang berada di Desa Sangkilon, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Candi Sangkilon juga dikenali sebagai salah satu peninggalan arkeologi yang diperhatikan di wilayah Padang Lawas, walaupun kondisinya saat ditemukan sudah tidak utuh dan hingga kini belum sepenuhnya dipugar.

Wikipedia article
Diperbarui 4 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Candi Sangkilon adalah situs cagar budaya yang berada di Desa Sangkilon, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Candi Sangkilon juga dikenali sebagai salah satu peninggalan arkeologi yang diperhatikan di wilayah Padang Lawas, walaupun kondisinya saat ditemukan sudah tidak utuh dan hingga kini belum sepenuhnya dipugar.[1][2]


Deskripsi dan Lokasi

Candi Sangkilon terletak di sekitaran perkebunan kelapa sawit yang tidak terlalu jauh jaraknya dari aliran Sungai Sangkilon. Saat pertama kali ditemukan, bangunan utama dari candi Sangkilon sudah berada dikondisi yang kurang baik, hanya tersisa sebagian kaki candi dan bagian tubuh candi tanpa atap.[1][3]

Bangunan utama Candi Sangkilon berukuran 11 x 11 m dengan tinggi sekitar 3,1 m. Bagian yang masih tersisa adalah sebagian kaki serta dinding dari sisi barat dan bagian utara. Pada bagian ujung-ujung tangga candi utama, terhias sepasang hiasan makara dengan ukiran makhluk raksasa pada bagian mulut candi yang sudah dalam kondisi tidak sempurna. [1][3]

Selain bangunan induk, di situs ini juga terdapat tiga gundukan tanah yang diyakini sebagai bekas bangunan candi lain, meskipun strukturnya tidak lagi terlihat jelas:[1][3]

  • Gundukan A: Berukuran 6 x 9 m dengan tinggi 6 m.
  • Gundukan B: Berukuran 6 x 9 m dengan tinggi 4 m.
  • Gundukan C: Berukuran 5 x 6 m dengan tinggi 1 m.

Sejarah Penemuan dan Penelitian

Penemuan Candi Sangkilon sudah diketahui sejak masa penjajahan Belanda pada abad ke-19. Sejumlah pakar dari Belanda, yakni Kerkhoff, Schnitger, Von Rosenberg, Van den Bosch, Franz Junghun, dan Van Stein Callenfels, sudah melakukan penelitian di situs ini. Pada tahun 1854, Von Rosenberg menemukan fragmen-fragmen dari arca Buddha di lokasi candi Sangkilon.[1][3]

Penelitian yang cukup lama dan rinci dilakukan oleh Schnitger pada tahun 1935. Schnitger menemukan sebuah prasasti lempengan emas berukuran 5 x 14 cm di bilik bangunan induk Candi Sangkilon. Prasasti ini menggunakan aksara Nagari dan menggunakan bahasa Sanskerta. Terlihat kemiripan dengan Prasasti Muara Takus yang berasal dari abad ke-14. Schnitger juga menemukan arca di halaman candi yang mengindikasikan ciri dari golongan Buddha Vajrayana, termasuk arca berbentuk buaya dengan wajah menyeramkan dan dua arca raksasa yang berada dalam posisi menyembah.[1][3]

Berdasarkan hasil penelitiannya, Schnitger memiliki pendapat bahwasanya candi-candi di daerah Padang Lawas, yakni Candi Sangkilon, dibangun pada periode yang sama dengan stupa-stupa peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya yang berada di Muara Takus, Provinsi Riau, diperkirakan sekitar abad ke-12.[1][3]

Setelah kemerdekaan Indonesia, penelitian di situs Candi Sangkilon dilanjutkan Dinas Purbakala dan Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN), yang sekarang disebut Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Situs ini menunjukkan bukti persebaran agama Hindu hingga ke tengah Pulau Sumatera yang erat kaitannya dengan jaringan perdagangan yang menghubungkan Sriwijaya dengan Kerajaan Chola di India.


Status Cagar Budaya dan Tantangan Pelestarian

Candi Sangkilon punya peran penting dalam studi sejarah dan ilmu pengetahuan mengenai arsitektur candi. Oleh karenanya, Candi ini telah teregistrasi sebagai Cagar Budaya dan mendapatkan penetapan resmi dari kementerian melalui Surat Keputusan Menteri No. PM.88/PW.007/MKP/2011.[2][3]

Walaupun sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, Candi Sangkilon hingga saat ini belum mendapatkan pemugaran yang memadai dan rendah perawatan. Kondisi ini diperparah dengan pengawasan yang kurang sehingga menyebabkan candi rentan terhadap aktivitas perusakan, terutama oleh pencuri artefak. Sebagai contoh, pada tahun 2009 ditemukan galian liar sedalam 3 m dengan panjang 4 m di sebelah selatan candi. Selain lubang galian, pemburu harta karun juga memindahkan bata-bata dari reruntuhan candi secara tidak teratur sehingga menambah kerusakan pada situs. Perhatian dan upaya pelestarian yang lebih serius sangat dibutuhkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada Candi Sangkilon.[1][3]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 https://www.kompas.com/stori/read/2023/07/06/140000579/sejarah-candi-sangkilon-yang-dirusak-pemburu-harta-karun?page=all
  2. 1 2 https://budaya-indonesia.org/Candi-Sangkilon
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbaceh/profil-situs-candi-sangkilon-padang-lawas-sumatera-utara/

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Deskripsi dan Lokasi
  2. Sejarah Penemuan dan Penelitian
  3. Status Cagar Budaya dan Tantangan Pelestarian
  4. Referensi

Artikel Terkait

Daftar cagar budaya di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026