Bulurejo (ꦧꦸꦭꦸꦫꦺꦗ) adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Desa ini dikenal sebagai salah satu desa agraris yang tetap mempertahankan tradisi lokal dan kearifan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Terletak di wilayah barat Kabupaten Kebumen, Bulurejo (ꦧꦸꦭꦸꦫꦺꦗ) menyuguhkan perpaduan antara hamparan sawah yang luas, serta kawasan tumbuhan nipah yang menjadi sumber kehidupan masyarakatnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bulurejo (ꦧꦸꦭꦸꦫꦺꦗ) | |
|---|---|
Desa | |
| Koordinat: 7°40′3″S 109°23′32″E / 7.66750°S 109.39222°E / -7.66750; 109.39222[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Bulurejo,_Ayah,_Kebumen¶ms=7_40_3_S_109_23_32_E_type:city(2322)_region:ID-JT <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">7°40′3″S</span> <span class=\"longitude\">109°23′32″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">7.66750°S 109.39222°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">-7.66750; 109.39222</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBA\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt6\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBQ\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwBg\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Bulurejo,_Ayah,_Kebumen&params=7_40_3_S_109_23_32_E_type:city(2322)_region:ID-JT\" class=\"external text\" id=\"mwBw\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwCA\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCQ\"><span class=\"latitude\" id=\"mwCg\">7°40′3″S</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwCw\">109°23′32″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDA\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDQ\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDg\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwDw\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEA\">7.66750°S 109.39222°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEQ\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEg\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwEw\">-7.66750; 109.39222</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFA\"/></span>"}' id="mwFQ"/> | |
| Negara | Indonesia |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten | Kebumen |
| Kecamatan | Ayah |
| Pemerintahan | |
| • Kepala Desa | Ali Imron |
| Luas | |
| • Total | 258,1 ha (6,378 acre) |
| Populasi (2025) | |
| • Total | 2.322 |
| • Kepadatan | 90/km2 (230/sq mi) |
| Zona waktu | UTC+7 (WIB) |
| Kode Pos | 54473 |
| Situs web | https://bulurejo.kec-ayah.kebumenkab.go.id/index.php |
Bulurejo (ꦧꦸꦭꦸꦫꦺꦗ) adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Desa ini dikenal sebagai salah satu desa agraris yang tetap mempertahankan tradisi lokal dan kearifan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Terletak di wilayah barat Kabupaten Kebumen, Bulurejo (ꦧꦸꦭꦸꦫꦺꦗ) menyuguhkan perpaduan antara hamparan sawah yang luas, serta kawasan tumbuhan nipah yang menjadi sumber kehidupan masyarakatnya.
Masyarakat Bulurejo (ꦧꦸꦭꦸꦫꦺꦗ) hidup dengan ritme alam. Setiap pagi, suara orang pemanjat nira dan aroma rebusan gula merah menyeruak dari dapur-dapur rumah warga—cerminan kehidupan yang masih berakar pada kekuatan komunitas dan kerja keras. Desa ini tidak hanya menyimpan potensi pertanian yang besar, tetapi juga nilai-nilai solidaritas, gotong royong, dan kesederhanaan yang menjadi identitasnya.

Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 258,1 hektar dan jumlah penduduk sebanyak 2.322 jiwa pada tahun 2025. Sebagian besar penduduk bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani, menjadikan Bulurejo (ꦧꦸꦭꦸꦫꦺꦗ) sebagai desa dengan basis ekonomi agraris yang kuat.
Secara administratif, Desa Bulurejo (ꦧꦸꦭꦸꦫꦺꦗ) dipimpin oleh seorang kepala desa yang bertanggung jawab kepada camat. Sejak bulan Agustus 2019, jabatan kepala desa diemban oleh Ali Imron. Struktur pemerintahan desa terdiri atas unsur kepala desa, sekretaris desa (carik), kepala urusan (kaur), kepala seksi (kasi), dan kepala dusun (kadus) yang menjalankan tugas pelayanan publik serta pengelolaan pemerintahan desa sehari-hari.
Letak Desa Bulurejo (ꦧꦸꦭꦸꦫꦺꦗ) cukup strategis, dengan jarak hanya sekitar 3 km dari pusat kecamatan. Waktu tempuh menuju kantor kecamatan maupun pusat fasilitas umum terdekat adalah sekitar 15 menit (0,25 jam) menggunakan kendaraan. Namun, informasi terkait ketersediaan angkutan umum masih perlu diperbarui untuk kepentingan mobilitas warga dan pengunjung desa.
Desa Bulurejo merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, yang memiliki sejarah panjang sejak masa penjajahan Belanda. Asal-usul desa ini berkaitan erat dengan peran seorang tokoh spiritual bernama Mbah Dikta Leksana, yang dikenal sebagai sosok taat beragama, pekerja keras, dan gigih dalam membuka lahan serta membangun komunitas.
Pada masa itu, wilayah Bulurejo masih berupa hutan dan semak belukar. Mbah Dikta Leksana adalah tokoh pertama yang membuka kawasan tersebut menjadi lahan pemukiman dan area persawahan. Pembukaan wilayah ini menghasilkan beberapa grumbul (dusun) awal yang kelak menjadi cikal bakal Desa Bulurejo.
Pada tahun 1923, tiga wilayah utama—Pagebangan, Kalibulu, dan Blader—digabung menjadi satu kesatuan administratif dengan nama Desa Bulurejo. Kepala desa pertama adalah H. Yusup. Berikut ini daftar kepala desa yang pernah menjabat:
Sejarah pembangunan Desa Bulurejo mencerminkan dinamika masyarakat dalam menghadapi tantangan dan kemajuan, baik dalam bentuk bencana, tekanan kolonial, maupun kemajuan di bidang pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan.
Desa Bulurejo merupakan desa agraris yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian, perkebunan rakyat, dan peternakan. Mata pencaharian warganya dahulu adalah sebagai tukang nderes, yakni pemanjat pohon kelapa yang mengambil air nira untuk diolah menjadi gula merah. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ciri khas lokal, tetapi juga mencerminkan warisan budaya dan keterampilan tradisional yang masih lestari hingga kini. Proses pembuatan gula merah membutuhkan ketelatenan, dimulai dari menyadap nira, kemudian merebusnya selama beberapa jam hingga kadar airnya menguap, dan akhirnya mencetak endapan gula dalam bentuk bulat pipih.
Selain itu, sebagian penduduk bekerja sebagai petani, buruh tani, pedagang, buruh bangunan, serta pegawai negeri sipil (PNS), TNI, dan Polri. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian warga juga mulai mengembangkan usaha peternakan sapi dan kambing secara mandiri, baik untuk keperluan konsumsi maupun pasar lokal. Aktivitas peternakan ini menjadi alternatif penghasilan tambahan dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat desa.
Berdasarkan data yang tercatat, distribusi mata pencaharian penduduk adalah sebagai berikut:
| No | Mata Pencaharian | Jumlah (orang) |
|---|---|---|
| 1 | Petani | 412 |
| 2 | Buruh Tani | 600 |
| 3 | Buruh Bangunan | 100 |
| 4 | PNS / TNI / Polri | 14 |
| 5 | Pedagang | 35 |
| 6 | Peternak Sapi dan Kambing | 50 |
| 7 | Lain-lain | 674 |
| Total | 1.885 |
Kegiatan pertanian di Desa Bulurejo sangat dipengaruhi oleh pola musim. Pada musim penghujan, lahan sawah dimanfaatkan untuk menanam padi sebagai komoditas utama, serta tanaman palawija seperti kacang panjang dan timun. Sementara pada musim kemarau, sebagian lahan dialihfungsikan untuk menanam semangka dan aneka sayur mayur, yang juga memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.
Salah satu potensi alam yang menjadi penopang perekonomian desa adalah kawasan hutan kelapa rakyat yang dikenal dengan nama Hutan Kiwel. Kawasan ini tidak hanya menjadi pusat kegiatan penyadapan nira, tetapi juga simbol identitas agrikultur lokal yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Bulurejo.
Berdasarkan data tahun 2025, jumlah penduduk Desa Bulurejo mencapai 2.322 jiwa, yang terdiri atas 1.178 jiwa laki-laki dan 1.144 jiwa perempuan. Jumlah Kepala Keluarga (KK) tercatat sebanyak 664 KK, dengan 208 KK tergolong sebagai rumah tangga miskin.
Komposisi penduduk ini mencerminkan struktur sosial yang cukup seimbang antara jumlah laki-laki dan perempuan, dengan rasio hampir merata. Tingkat rumah tangga miskin yang mencapai lebih dari 30% menunjukkan adanya tantangan dalam aspek kesejahteraan sosial dan ekonomi yang masih perlu mendapat perhatian khusus dalam perencanaan pembangunan desa.
| Keterangan | Jumlah | Keterangan Tambahan |
|---|---|---|
| Total Penduduk | 2.322 jiwa | |
| Laki-laki | 1.178 jiwa | Sekitar 50,7% |
| Perempuan | 1.144 jiwa | Sekitar 49,3% |
| Kepala Keluarga (KK) | 664 | |
| Rumah Tangga Miskin | 208 KK | Sekitar 31,3% dari total KK |
Struktur penduduk berdasarkan kelompok usia menunjukkan bahwa Desa Bulurejo didominasi oleh penduduk usia produktif (15–49 tahun), yang memberikan potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan sosial masyarakat. Berikut adalah distribusi penduduk berdasarkan kelompok usia:
| Rentang Usia | Jumlah Jiwa | Persentase |
|---|---|---|
| 0–14 tahun | 671 jiwa | Sekitar 28,9% |
| 15–49 tahun | 1.450 jiwa | Sekitar 62,5% |
| > 50 tahun | 201 jiwa | Sekitar 8,6% |
Dominasi penduduk usia produktif menjadi aset penting dalam mendorong pembangunan desa di berbagai sektor. Sementara itu, jumlah penduduk usia anak dan lanjut usia tetap memerlukan perhatian dalam aspek layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Desa Bulurejo terletak di bagian selatan Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, dan berbatasan langsung dengan wilayah administrasi dari dua kabupaten, yaitu Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Cilacap. Posisi geografis ini menjadikan Bulurejo sebagai desa strategis yang menghubungkan daerah pesisir selatan Kebumen dengan wilayah tetangga di Cilacap. Berikut ini adalah batas-batas wilayah Desa Bulurejo:
Letak yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Cilacap menjadikan Desa Bulurejo memiliki hubungan sosial dan ekonomi yang cukup erat dengan desa-desa tetangga di kabupaten tersebut, terutama dalam aktivitas perdagangan hasil pertanian dan transportasi lokal.
Desa Bulurejo dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana untuk menunjang kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual warganya.
Dalam hal transportasi dan aksesibilitas, desa memiliki beragam jenis infrastruktur jalan, di antaranya:

Untuk mendukung konektivitas antardusun dan menyeberangi aliran sungai kecil, terdapat 6 buah jembatan yang dibangun secara strategis.


Dalam bidang keagamaan, desa ini memiliki masjid dan musala yang tersebar di seluruh dusun sebagai pusat kegiatan ibadah dan sosial keagamaan.
Berikut adalah daftar tempat ibadah yang terdapat di Desa Bulureja, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, beserta data lokasi, luas, dan kapasitasnya:
| No | Jenis | Nama Tempat Ibadah | Dusun | RT | RW | Luas Tanah (m²) | Luas Bangunan (m²) | Kapasitas (orang) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Masjid | Baitussolihin | Gemilir | 3 | 3 | 820 | 324 | 350 |
| 2 | Masjid | Roudlotul Huda | Kalibulu | 1 | 1 | 0 | 0 | 300 |
| 3 | Langgar/Mushola | Baiturrohman | Pagebangan | 1 | 2 | 210 | 54 | 75 |
| 4 | Langgar/Mushola | Baitussolihin | Pagebangan | 3 | 2 | 240 | 54 | 80 |
| 5 | Langgar/Mushola | Miftahul Huda | Gemilir | 4 | 3 | 140 | 48 | 50 |
| 6 | Langgar/Mushola | An Nur | Kalibulu | 4 | 1 | 200 | 36 | 80 |
| 7 | Langgar/Mushola | Nur Rohman | Pagebangan | 2 | 2 | 180 | 45 | 50 |
| 8 | Langgar/Mushola | Al Ikhlas | Pagebangan | 5 | 2 | 140 | 36 | 45 |
| 9 | Langgar/Mushola | Al Huda | Pagebangan | 2 | 2 | 180 | 54 | 68 |
| 10 | Langgar/Mushola | Al Aamiin | Gemilir | 4 | 2 | 140 | 48 | 60 |
| 11 | Langgar/Mushola | Addannuri Rojab | Pagebangan | 2 | 1 | 140 | 54 | 60 |
| 12 | Langgar/Mushola | Al Falah | Pagebangan | 3 | 2 | 140 | 48 | 50 |
| 13 | Langgar/Mushola | Darul Mutakin | Gemilir | 3 | 3 | 180 | 54 | 70 |
Catatan: Data pada tabel ini disusun berdasarkan informasi terakhir yang tersedia dari pendataan desa tahun berjalan.

Sarana pendidikan mencakup 4 Unit Sekolah, meliputi :
yang melayani jenjang pendidikan anak usia dini, dasar dan menengah.
Di bidang kesehatan, tersedia 1 klinik kesehatan yang melayani pemeriksaan umum, imunisasi, dan konsultasi dasar bagi warga desa.
Sebagai pusat pemerintahan desa, terdapat 1 balai desa yang menjadi tempat pelayanan administrasi, musyawarah warga, dan kegiatan pemerintahan lainnya.
Sebagai desa yang telah berkembang dari akar sejarah yang panjang, Desa Bulurejo tidak hanya kaya akan nilai budaya dan warisan agraris, tetapi juga terus membangun kualitas kehidupan masyarakatnya melalui sektor pendidikan, kesehatan, serta ekonomi kerakyatan. Penduduk desa ini hidup dalam suasana sosial yang relatif stabil, dengan gotong royong sebagai fondasi utama interaksi warga.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan terus meningkat di Desa Bulurejo. Meskipun sebagian besar masyarakatnya bekerja di sektor pertanian, mereka tetap berupaya menyekolahkan anak-anak hingga jenjang menengah atas, bahkan ke jenjang pendidikan tinggi bagi yang memiliki kesempatan lebih. Adapun jumlah penduduk yang telah menamatkan pendidikan berdasarkan jenjang sebagai berikut:
| No | Jenjang Pendidikan | Jumlah (orang) |
|---|---|---|
| 1 | Tamat SLTA / Sederajat | 240 |
| 2 | Diploma (D1/D2/D3) | 8 |
| 3 | Sarjana (S1/S2/S3) | 4 |
| Total | 1.089 |
Jumlah lulusan SLTA yang cukup signifikan menunjukkan bahwa desa ini memiliki potensi sumber daya manusia yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung transformasi ekonomi desa ke arah yang lebih produktif.
Kesehatan masyarakat merupakan aspek penting yang terus dijaga oleh kader desa dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Pembantu (Pustu). Berbagai kegiatan seperti Posyandu Balita, penyuluhan gizi, imunisasi rutin, dan monitoring kesehatan lansia dilakukan secara berkala untuk menjaga kesejahteraan ibu dan anak serta kelompok rentan lainnya.
Kegiatan Posyandu dilaksanakan secara rutin bagi balita, remaja, dan lansia di Balai Pertemuan Desa Bulurejo. Kegiatan ini didampingi oleh Bidan Desa dan para kadernya . Antusiasme warga cukup tinggi, mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala.
Selain itu, dilaksanakan juga Posyandu khusus bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) oleh organisasi kemasyarakatan yang peduli kesehatan. Pemeriksaan dilakukan langsung di rumah masing-masing ODGJ oleh para kader dan tim kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan di Bulurejo tidak hanya bersifat umum, tetapi juga inklusif, menjangkau kelompok masyarakat dengan kebutuhan khusus.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dasar cukup baik, didukung oleh kebiasaan hidup bersih serta akses terhadap layanan kesehatan yang meskipun sederhana, namun aktif dan fungsional.
Sektor ekonomi Desa Bulurejo masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan industri rumah tangga. Pekerjaan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi penggerak utama roda ekonomi desa. Adapun potensi ekonomi yang tercatat sebagai berikut:
Pertanian tanaman padi sawah seluas 158,1 hektar
Terdapat 159 unit industri rumah tangga yang bergerak dalam produksi gula merah, keripik, anyaman bambu, dan produk rumahan lainnya.
Belum tercatat secara rinci namun meliputi jasa informal dan usaha mikro
Sektor industri rumah tangga tumbuh sebagai respons terhadap keterbatasan lapangan kerja formal, sekaligus menjadi sarana pemberdayaan ekonomi perempuan dan ibu rumah tangga.
Dengan kombinasi antara ketahanan pangan berbasis pertanian, peningkatan pendidikan, kesadaran kesehatan, serta tumbuhnya industri rumahan, Desa Bulurejo memiliki fondasi sosial ekonomi yang kuat untuk melangkah menuju masa depan yang lebih mandiri dan sejahtera.
Masyarakat Desa Bulurejo memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat yang masih dijaga hingga kini, meskipun beberapa praktik tradisional telah mengalami penyesuaian seiring perkembangan zaman. Nilai-nilai spiritual, penghormatan terhadap alam, serta warisan leluhur sangat kental dalam kehidupan sosial masyarakat desa ini.
1. Larangan Hajatan pada Bulan Syura
Dahulu, sebagian besar masyarakat Bulurejo meyakini bahwa pada bulan-bulan tertentu—terutama bulan Syura (Muharram)—tidak diperkenankan mengadakan hajatan seperti pernikahan atau khitanan. Hal ini didasarkan pada kepercayaan bahwa melanggar pantangan tersebut dapat mendatangkan malapetaka atau kesialan bagi keluarga yang bersangkutan.
2. Ritual Tumpeng Jabel (Mogana) di Sawah
Menjelang musim tanam dan panen padi, masyarakat akan memberikan sesaji berupa kembang telon yang diletakkan di sudut-sudut pematang sawah. Saat menjelang panen, digelar kenduri di sawah dengan membuat Tumpeng Jabel (juga disebut Mogana), sebagai bentuk rasa syukur dan harapan akan keberkahan hasil panen. Kenduri ini dilakukan bersama-sama oleh para petani di lokasi sawah yang akan dipanen.
3. Tradisi Syuran dan Penyembelihan Kambing
Pada bulan Syura, warga mengadakan tradisi Syuran dengan menyembelih kambing. Kepala kambing tersebut dikubur di perempatan jalan sebagai bentuk tolak bala. Daging kambing dimasak menjadi masakan tradisional becek, dan sebagian organ dalam dicampur dengan berbagai rempah dan bahan sesaji (obo rampe komaran). Acara kemudian ditutup dengan kenduri sore hari yang diikuti warga.
4. Sedekah Bumi (Baritan/Sadranan) dan Hiburan Rakyat


Setiap grumbul (dusun) di Desa Bulureja memiliki tradisi Baritan atau Sadranan—yakni sedekah bumi sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Acara ini sering disertai hiburan seperti wayangan dan tayuban. Namun, untuk efisiensi waktu dan biaya, kegiatan ini kini digelar di tingkat desa secara kolektif.
5. Ziarah dan Sesaji Sebelum Hajatan
Sebelum menggelar hajatan seperti pernikahan atau khitanan, calon pengantin atau anak yang dikhitan diwajibkan melakukan ziarah (resik) ke makam leluhur dan tempat-tempat yang dikeramatkan. Sehari sebelum acara, keluarga tuan rumah juga memasang sesaji (kucingan) di berbagai titik seperti rumah, pojok tarub (tenda hajatan), sumur, dan tempat keramat lainnya. Biasanya, keluarga juga meminta bimbingan dari seorang sesepuh (Goni), tokoh yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Jika tradisi ini tidak dilaksanakan, diyakini hajatan dapat tertimpa kesialan.
6. Ritual Nylusup Saat Kematian
Saat ada warga yang meninggal dunia, sebelum jenazah dibawa ke pemakaman, sanak saudara almarhum melakukan ritual nylusup, yaitu berjalan melingkar sebanyak tiga kali di bawah jenazah yang sedang dipikul. Tradisi ini dilandasi kepercayaan bahwa dengan melakukan nylusup, arwah almarhum tidak akan membayangi atau mengganggu kehidupan para kerabat yang ditinggalkan.
7. Kesenian Ebeg Banyumasan: Bangkit Turonggo Asih

Salah satu kekayaan budaya khas Desa Bulureja adalah kesenian rakyat Ebeg Banyumasan, yang dilestarikan oleh kelompok seni Bangkit Turonggo Asih. Kelompok ini merupakan penerus dari grup sebelumnya, Mudo Setyo Budoyo, dan secara resmi dibentuk kembali pada tahun 2018 oleh Bapak Sarwono, yang juga berperan sebagai penimbul, bersama Bapak Mad Yani (dikenal sebagai “Kaki Banjir”).

Kelompok ini memiliki sekitar 10–15 penari dan pengiring gamelan. Sinden utama adalah Ibu Mukinarti, didampingi oleh Bu Tasini dan Bu Rosimah. Musik dipimpin oleh Mas Damar dan Bapak Meno sebagai pengendang, sedangkan tata rias dan koreografi ditangani oleh Ibu Sirus. Pertunjukan mereka dikenal tidak hanya karena kualitas seni, tetapi juga unsur humor, spontanitas, dan interaksi langsung dengan penonton yang membuat setiap pementasan menjadi tontonan yang hidup dan merakyat.
Grup ini tidak hanya menjadi ruang pentas, tetapi juga ruang perjumpaan antara generasi muda dan tua dalam satu irama budaya. Banyak dari para anggotanya adalah warga desa yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang seni, tetapi dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya, mereka membentuk ikatan yang kokoh sebagai pelaku seni rakyat.
Pertunjukan Ebeg Banyumasan oleh Bangkit Turonggo Asih bukan sekadar tontonan. Ia menjadi medium penyaluran ekspresi kolektif—menggabungkan semangat, tawa, dan kenangan akan leluhur. Dalam setiap gerak kuda lumping yang menghentak tanah, tersimpan cerita tentang kerja keras, kesetiaan terhadap warisan, dan keberanian untuk terus hidup di tengah keterbatasan.
Salah satu ciri khas pertunjukan mereka adalah humor spontan dari para sinden, terutama Ibu Mukinarti, yang dikenal mampu mencairkan suasana dengan gaya bicara blak-blakan, ekspresi lucu, dan kejenakaan yang tidak dibuat-buat. Di beberapa pementasan, bahkan terlihat para sinden njundal-njundal (bertingkah lucu) atau berpura-pura kesurupan, membuat penonton tak berhenti tertawa. Momen seperti ini sangat dinanti, terutama oleh anak-anak dan warga yang jarang mendapat hiburan langsung di desa.

Penonton yang hadir pun bukan hanya dari kalangan warga setempat, namun juga dari desa-desa tetangga yang antusias datang ketika ada informasi pertunjukan. Atmosfer pentas menjadi ajang temu warga, seperti pasar malam budaya yang mempersatukan lintas usia dan status sosial.
Kehadiran Bangkit Turonggo Asih menjadi simbol bahwa di tengah gempuran budaya modern, masyarakat Desa Bulureja tetap memiliki semangat kuat dalam menjaga akar tradisi.