Bonnie Jeanne Dunbar adalah seorang mantan antariksawati NASA. Ia pensiun dari NASA pada September 2005 dan kemudian menjabat sebagai presiden dan CEO The Museum of Flight sampai April 2010. Ia terbang dalam lima misi Space Shuttle antara tahun 1985 hingga 1998, termasuk dua kali melakukan penyandaran dengan stasiun luar angkasa Mir.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bonnie J. Dunbar | |
|---|---|
| Lahir | 03 Maret 1949 Sunnyside, Washington |
| Status | Pensiun |
| Kebangsaan | Amerika Serikat |
| Nama lain | Bonnie Jeanne Dunbar |
| Pekerjaan | Ilmuwan |
| Karier luar angkasa | |
| Antariksawati NASA | |
| Misi | STS-61-A, STS-32, STS-50, STS-71, STS-89 |
Lambang misi | |
Bonnie Jeanne Dunbar (lahir 3 Maret 1949) adalah seorang mantan antariksawati NASA. Ia pensiun dari NASA pada September 2005 dan kemudian menjabat sebagai presiden dan CEO The Museum of Flight sampai April 2010.[1] Ia terbang dalam lima misi Space Shuttle antara tahun 1985 hingga 1998, termasuk dua kali melakukan penyandaran dengan stasiun luar angkasa Mir.
Lulusan University of Washington, tempat ia meraih gelar Master of Science di bidang teknik keramik, Dunbar kemudian menjadi insinyur riset senior di Divisi Antariksa Rockwell International. Di sana, ia merancang peralatan dan proses manufaktur untuk membuat ubin keramik yang digunakan pada sistem perlindungan termal Space Shuttle.
Pada tahun 1978, ia bergabung dengan NASA sebagai pengendali penerbangan atau petugas muatan. Ia juga bertugas sebagai pengendali panduan dan navigasi untuk Skylab saat proses deorbit dan masuk kembali ke atmosfer pada Juli 1979. Pada tahun 1980, ia terpilih sebagai salah satu dari sembilan belas kandidat astronaut dalam NASA Astronaut Group 9.
Ia melakukan lima kali penerbangan luar angkasa, yaitu pada misi STS-61-A, STS-32, STS-50, STS-71, dan STS-89, serta menjalani pelatihan di Rusia sebagai kosmonaut.
Dunbar meninggalkan NASA untuk menjadi presiden sekaligus CEO Museum of Flight di Seattle, tempat ia terlibat dalam pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) bagi siswa sekolah menengah. Pada periode 2013 hingga 2015, ia memimpin STEM Center di University of Houston dan juga menjadi anggota fakultas di Cullen College of Engineering. Pada tahun 2016, ia diangkat sebagai profesor teknik dirgantara John and Bea Slattery di Texas A&M University, serta menjabat sebagai Direktur Institute for Engineering Education and Innovation (IEEI) di sana dari 2016 hingga 2020.
Bonnie Jeanne Dunbar lahir di Sunnyside, Washington, pada 3 Maret 1949, sebagai anak tertua dari empat bersaudara pasangan Robert dan Ethel Dunbar. Ia memiliki dua adik laki-laki dan satu adik perempuan. Ayahnya adalah veteran Korps Marinir Amerika Serikat yang kembali dari Perang Dunia II dan membeli lahan seluas 40 acre atau sekitar 16 hektare di Outlook, Washington, melalui undian bagi para veteran pada tahun 1948. Ia tumbuh besar di pertanian tersebut, sudah bisa mengemudikan traktor saat berusia sekitar sembilan tahun,[2][3] dan membantu ayahnya memperbaiki traktor.[4] Future Farmers of America tidak menerima perempuan, sehingga saat ia berusia sembilan tahun, ayahnya mendirikan klub 4-H agar ia bisa mengikuti kegiatan pameran ternak. Ia melakukan itu hingga usia delapan belas tahun,[2] meski menjadi satu-satunya perempuan di sana.[3] Pada Oktober 1957, Dunbar bersama orang tuanya memandang langit malam untuk mencari Sputnik, satelit buatan pertama. Ia kemudian tertarik pada dunia luar angkasa, membaca novel fiksi ilmiah karya H. G. Wells dan Jules Verne, serta mengikuti kisah nyata para anggota Mercury Seven.[4][5] Pada tahun 1962, keluarganya mengunjungi Seattle World's Fair, yang menampilkan wahana imajiner perjalanan ke luar angkasa, paviliun sains, serta Space Needle.[2]
Dunbar bersekolah di Outlook Elementary, sekolah kecil di pedesaan yang hanya sampai kelas delapan.[4] Saat ia mengatakan kepada kepala sekolah bahwa ia bercita-cita membangun wahana antariksa, ia disarankan untuk mempelajari aljabar.[2] Ia kemudian melanjutkan ke Sunnyside High School. Di sana, ia mengambil pelajaran fisika, kimia, serta matematika seperti aljabar, trigonometri, analisis, dan prakalkulus. Ia aktif di klub matematika, debat, pidato, dan Latin. Ia juga berolahraga dan menjadi pemandu sorak selama tiga tahun.[4][3][5] Konselor karier di sekolahnya menyarankan agar ia menikah dengan petani dan memiliki anak karena latar belakangnya dari keluarga petani. Dunbar tidak mengikuti saran tersebut dan justru meminta arahan dari guru fisikanya.
Ia memperoleh nilai tinggi dalam kemampuan spasial dan bahasa Inggris pada tes SAT. Namun, siswa laki-laki dengan kemampuan spasial serupa diarahkan ke bidang sains dan teknik, sementara pilihan tersebut tidak dianggap cocok bagi perempuan saat itu.[4]
Setelah lulus dari sekolah menengah pada tahun 1967,[2] Dunbar ingin melanjutkan ke California Institute of Technology atau Massachusetts Institute of Technology karena banyak astronaut berasal dari sana. Namun, institusi pertama saat itu belum menerima mahasiswa perempuan, dan yang kedua tidak terjangkau secara biaya.[3] Ia kemudian diterima di University of Washington dan mendapatkan bantuan keuangan melalui program National Defense Student Loan. Ia menjadi anggota pertama dalam keluarganya yang kuliah. Baik Dunbar maupun orang tuanya tidak mengetahui bahwa ia harus memilih jurusan tertentu di dalam universitas dan tidak bisa mengambil kelas secara bebas sesuai minat. Ia sebenarnya tertarik pada penyair Romantis seperti Lord Byron, Percy Shelley, dan John Keats. Namun, karena tetap ingin membangun wahana antariksa, guru fisikanya menyarankan agar ia mengambil jurusan teknik.[5]
Sebagai mahasiswa di University of Washington, Dunbar mengambil beban kuliah yang berat. Ia juga aktif di Dewan Mahasiswa Teknik dan bermain di tim bisbol kampus. Saat tahun pertama, ia ingin bergabung dengan program Air Force Reserve Officer Training Corps, tetapi program tersebut belum menerima perempuan. Ia kemudian menjadi relawan di Angel Flight, organisasi pendukung militer yang terbuka untuk laki-laki dan perempuan. Untuk memenuhi kebutuhan, ia bekerja sebagai pelayan di Greek Pastry Shop di kawasan The Ave dan juga di bioskop di University District. Pada tahun kedua, ia bergabung dengan perkumpulan mahasiswi Kappa Delta, cabang Sigma Iota.[6] James I. Mueller, dekan jurusan teknik keramik, mengetahui ketertarikannya pada dunia antariksa. Ia memiliki hibah dari NASA untuk mengembangkan ubin keramik pada sistem perlindungan termal Space Shuttle. Ia kemudian meyakinkan Dunbar untuk mengganti jurusan dari teknik aeronautika ke teknik keramik. Saat liburan musim panas, ia ikut dalam tim penelitian yang melakukan studi difraksi sinar-X pada berbagai jenis serat silika yang dipertimbangkan untuk digunakan dalam ubin tersebut.[7][5]
Ia lulus dengan gelar Bachelor of Science di bidang teknik keramik pada tahun 1971, dan sempat melanjutkan studi pascasarjana di University of Illinois.
Pekerjaan di bidang teknik sulit didapat pada tahun 1971, sehingga Dunbar menerima posisi sebagai manajer kantor di sebuah perusahaan penyedia linen di Seattle. Dua bulan kemudian, ia mendapatkan pekerjaan di divisi layanan komputer di Boeing berkat pengalamannya menulis program dengan Fortran IV. Boeing kemudian melatihnya menggunakan COBOL, dan ia bekerja di pabrik Boeing Renton. Setelah satu setengah tahun, ia mendapat panggilan dari Mueller yang memberi tahu bahwa ia memperoleh hibah dari NASA dan menanyakan minat Dunbar untuk melanjutkan studi. Hibah tersebut digunakan untuk meneliti pemanfaatan beta-alumina sebagai elektrolit padat dalam baterai.[5] Dunbar meneliti kinetika difusi ion dalam natrium beta-alumina dengan bimbingan Suren Sarian. Ia meraih gelar Master of Science di bidang teknik keramik dari University of Washington pada tahun 1975.
Pada tahun 1975, Dunbar diundang untuk mengikuti penelitian di Atomic Energy Research Establishment di Oxfordshire sebagai ilmuwan tamu. Ia meneliti perilaku pembasahan cairan pada permukaan padat. Sebelum berangkat ke Inggris, ia sudah menerima posisi di Downey, California, sebagai insinyur riset senior di Divisi Antariksa Rockwell International yang mulai pada Oktober 1976. Tugasnya mencakup pengembangan peralatan dan proses untuk membuat ubin sistem perlindungan termal Space Shuttle, yang sebelumnya telah ia pelajari saat masih mahasiswa. Dunbar juga menjadi perwakilan Rockwell dalam komite evaluasi konsep industrialisasi luar angkasa yang dipimpin oleh Kraft Ehricke, serta dinobatkan sebagai Engineer of the Year di Rockwell pada tahun 1978 atas kontribusinya pada sistem perlindungan termal tersebut.[3][5]