Bolide adalah istilah dalam astronomi yang merujuk pada objek astronomi yang memasuki atmosfer Bumi dan menghasilkan cahaya yang sangat terang akibat pemanasan permukaan oleh gesekan udara. Bolide dapat berasal dari komet, asteroid, atau meteoroid, dan memiliki bentuk fisik yang bervariasi, mulai dari batuan padat hingga massa es. Saat memasuki atmosfer, proses pemanasan dan ionisasi udara di sekitarnya menghasilkan cahaya yang terlihat dari permukaan Bumi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Bolide adalah istilah dalam astronomi yang merujuk pada objek astronomi yang memasuki atmosfer Bumi dan menghasilkan cahaya yang sangat terang akibat pemanasan permukaan oleh gesekan udara. Bolide dapat berasal dari komet, asteroid, atau meteoroid, dan memiliki bentuk fisik yang bervariasi, mulai dari batuan padat hingga massa es. Saat memasuki atmosfer, proses pemanasan dan ionisasi udara di sekitarnya menghasilkan cahaya yang terlihat dari permukaan Bumi.[1]
Meteor yang memancarkan cahaya saat memasuki atmosfer dapat diklasifikasikan sebagai bolide apabila kecerahannya melebihi magnitudo semu −4 atau lebih terang.[2] Secara khusus, istilah bolide digunakan untuk meteor yang mengalami ledakan di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi, sedangkan bolide yang sangat terang dikenal sebagai superbolide.[1]
Ukuran objek yang menimbulkan bolide dapat bervariasi dari sekitar satu meter hingga beberapa kilometer. Objek yang lebih besar, dalam kisaran 1–10 km, berpotensi menimbulkan ledakan besar atau membentuk kawah saat menabrak permukaan Bumi. Kecepatan masuk bolide ke atmosfer biasanya sangat tinggi, berkisar antara 20 hingga 70 km per detik (sekitar Mach 75).[3] Dalam literatur ilmiah, istilah bola api (fireball) dan bolide digunakan secara bergantian, meskipun bolide umumnya lebih menekankan pada ledakan atmosfer dan dampak energi tinggi dari objek tersebut.[4]
Bolide (bahasa Italia latin: /ˈboʊlaɪd/; bahasa Yunani Kuno βολίς (bolís) yang berarti 'peluru/missil')[5][6] istilah ini dapat merujuk pada fenomena yang berbeda-beda tergantung pada konteks penggunaannya, bergantung kepada makna yang dimaksud dalam publikasi tertentu.[7] Salah satu penggunaan awal muncul dalam Natural History, di mana Plinius Tua menggambarkan dua jenis prodigy, yaitu “lampades” dan “bolida”. Salah satu prodigy yang dijelaskan Plinius (sebuah "percikan" yang jatuh, membesar hingga "sebesar bulan", dan "kembali ke langit")[8] telah ditafsirkan oleh para astronom sebagai bolida dalam pengertian modern.[9]
Plinius menggambarkan sebuah benda yang mendekati Bumi dan kemudian tampak kembali ke langit, sesuai dengan lintasan yang biasanya dilalui oleh bola api (fireball) yang melintas di atas pengamat.[10] Sebuah bola api pada tahun 1771 yang meledak di atas Melun, Prancis,menjadi topik diskusi oleh astronom kontemporer sebagai bolida dan menjadi subjek penyelidikan resmi Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis yang dipimpin oleh Jean-Baptiste Le Roy.[11] Pada tahun 1794, Ernst Chladni menerbitkan sebuah karya yang mengemukakan bahwa meteor merupakan benda-benda kecil yang berasal dari luar angkasa dan dapat jatuh ke Bumi, serta bahwa terdapat objek-objek kecil di luar orbit bulan. Meskipun awalnya mendapat tanggapan skeptis, karya Chladni kemudian menjadi dasar bagi perkembangan ilmu meteoritika modern.[12]
Dalam astronomi, istilah ini digunakan untuk menyebut meteor yang sangat terang (fireball), terutama yang meledak di atmosfer.[7] Beberapa definisi astronomi menetapkan magnitudo semu sebesar −4 atau lebih terang.[3] Superbolida mencapai magnitudo semu −17 atau lebih terang,[13][14] sekitar 51 kali lebih terang daripada bulan purnama. Contoh superbolida termasuk meteorit Sutter’s Mill di California dan meteorit Chelyabinsk di Rusia.[15]
Dalam geologi, istilah bolida digunakan untuk merujuk pada peristiwa tumbukan yang sangat besar.[7] Definisi ini mencakup setiap benda tumbukan berskala besar yang membentuk kawah, tanpa membedakan komposisinya, apakah berupa asteroid berbatu atau logam, maupun komet yang tersusun dari es.[16]