Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiKelenteng Boen Tek Bio
Artikel Wikipedia

Kelenteng Boen Tek Bio

Boen Tek Bio atau Vihara Padumuttara adalah klenteng tertua di Kota Tangerang, selain Klenteng Boen San Bio. Klenteng ini terletak di Jl. Bhakti No. 14, Pasar Lama, Kota Tangerang

bangunan kuil di Indonesia
Diperbarui 21 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kelenteng Boen Tek Bio
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Kelenteng Boen Tek Bio" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Maret 2025)
Boen Tek Bio
文德廟
Boen Tek Bio.jpg
Klenteng Boen Tek Bio tahun 2020
Agama
AfiliasiTridharma
WilayahBanten
DewaBuddha Gautama, Kwan Im Hud Couw, Kwan Seng Tee Kun , Hok Tek Tjeng Sin
Lokasi
LokasiKota Tangerang, Banten
NegaraIndonesia
Arsitektur
TipeKlenteng
GayaTionghoa
Didirikan1684
saat prosesi gotong toapekong 21 September 2024

Boen Tek Bio (Hanzi: 文德廟) atau Vihara Padumuttara adalah klenteng tertua di Kota Tangerang, selain Klenteng Boen San Bio. Klenteng ini terletak di Jl. Bhakti No. 14, Pasar Lama, Kota Tangerang [1][2]

Sejarah

Dibangun pada tahun 1684, Boen Tek Bio merupakan bagian penting dari sejarah Kota Benteng, khususnya sejarah permukiman kaum Cina Benteng di Tangerang. Bagian tertua dari bangunan ini berasal dari tahun 1775. Klenteng ini mengalami renovasi besar pada tahun 1844, kemudian sayap sisi kanan dan kiri ditambahkan pada tahun 1875, serta halaman belakang pada tahun 1904.[3]

Boen Tek Bio memiliki sejarah hubungan yang erat dengan birokrasi pemerintahan kolonial Tionghoa (lihat 'Kapitan Cina') di Tangerang. Para donor untuk tanah makam klenteng pada tahun 1878 mencakup seluruh jaringan opsir Tionghoa di Tangerang:[4]

  • Lim Tjong Hien, Kapitein der Chinezen
  • Lim Mo Gie, Luitenant der Chinezen
  • Oey Khe Tay, Luitenant der Chinezen
  • Tan Tiang Po, Luitenant der Chinezen

Klenteng ini menerima izin resmi dari pemerintah pada tanggal 6 Januari 1912.

Bangunan Hasil Renovasi tahun 1844

Perkumpulan Keagamaan Dan Sosial Boen Tek Bio

Klenteng Boen Tek Bio sendiri memiliki organisasi yang disebut Perkumpulan Keagamaan Dan Sosial Boen Tek Bio yang bergerak dalam bidang keagamaan dan sosial, dan merupakan salah satu organisasi tertua di Indonesia yang masih tetap ada keberadaannya hingga sekarang. Didirikan pada tanggal 12 Januari 1912, semula bernama Perkumpulan Boen Tek Bio dengan ketua pertamanya adalah Souw Sian Tjong Sia (Anak dari Souw Siauw Tjong- Luitenant der Chineezen titulair di Batavia 1877-1898). Souw Sian Tjong disebut-sebut sebagai tuan tanah Kedaung-Sewan, memilliki tanah dari Paroeng Kuda sampai ke Kedaung. Sia merupakan gelar yang diberikan kepada anak-anak pejabat Tionghoa pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Adik dari Souw Siauw Tjong sendiri yaitu Souw Siauw Keng pernah menjabat sebagai Letnan Cina (Luitenant der Chineezen) di Tangerang periode tahun 1884-1897.

Keajaiban

Seperti diketahui bahwa yang mempunyai kepercayaan kepada YMS Kwan Im Hud Couw, telah sering kali memperoleh dan mengalami pertolongannya. Banyak kisah yang menceritakan keajaiban YMS Kwan Im Hud Couw yang sudah terbukti, misalnya :

1. Pada 1881, Ketika itu, di waktu siang hari mendadak di Kampung Kali Pasir yang berada di tepi kali Cisadane sebelah timur dan berdekatan dengan pemukiman masyarakat Tionghoa di Pasar Lama terjadi kebakaran hebat. Dalam ketakutan dan kebingungan beberapa orang datang ke Kelenteng Boen Tek Bio dan bersujud di hadapan YMS Kwan Im Hud Couw meminta supaya bahaya kebakaran itu tidak menyebar ke lain tempat. Setelah itu tiba-tiba saja tampak angin yang tadinya bertiup begitu kencang telah berubah menjadi tenang dan perlahan-lahan kebakaran pun dapat dipadamkan tanpa menyebar ke lain tempat.

2. Pada tahun 1883 saat Gunung Krakatau meletus terjadi tsunami 7 hari 7 malam tapi Boen Tek Bio menunjukkan daya magisnya sehingga Klenteng tidak terendam dan banyak yang berlindung disitu.

3. Kira-kira pertengahan tahun 1887, di waktu tengah malam air sungai Cisadane yang mengalir dari daerah Bogor ke Tangerang telah meluas dengan sangat hebat sekali, sehingga menggenangi sebagian besar kota Tangerang setinggi lebih dari 1 meter. Banyak sekali hewan ternak yang mati dan penduduk yang tidak berdaya melihat harta bendanya terhanyut. Namun, sungguh ajaib, air tersebut mengalir ke sisi kiri dan kanan dari Kelenteng Boen Tek Bio, sehingga halaman maupun bagian dalam dari Klenteng Boen Tak Bio tidak tengenang air. Penduduk Tangerang banyak yang berlindung di Klenteng Boen Tek Bio pada saat peristiwa itu. Menyaksikan hal ini, maka kepercayaan masyarakat Tangerang dengan serta merta menjadi semakin tebal terhadap Klenteng Boen Tek Bio khusunya kepada YMS Kwan Im Hud Couw.

4. Pada waktu 1942, Jepang masuk Tangerang, jatuh dua buah bom martir, yang satu di atas wawungan Klentang Boen Tek Bio dan yang satunya lagi di samping belakang, tetapi bom itu tidak meledak.

5. Pada tahun dahulu di mana pengobatan dengan cara dokter (modern) masih sulit ditemukan, banyak penduduk Tangerang bahkan dari daerah lain yang memohon kepada YMS Kwan Im Had Couw untuk disembuhkan dari penyakit youg dideritu dengan melakukan ciamsi (bilah-bilih bumbu yang rigunakan untuk memohon pertolongan), dalam hal ini yang dimaksud adalah ciamsi obot dam hasil yung keluar dari ciam si tersebut disebut yo cian (resep obat). Apabila yo cian tersebut poa pwee, moka obatnya di beli toko abat cina/sinshe.

Tiga Serangkai

Klenteng Boen Tek Bio (Vihara Padumuttara) memiliki dua saudara yaitu Klenteng Boen San Bio (Vihara Nimmala) berada di Pasar Baru Tangerang yang di bangun tahun 1689, dan Klenteng Boen Hay Bio (Vihara Karuna Jala) berada di Pasar Lama Serpong di bangun tahun 1694 ketiganya dibangun dipinggiran kali Cisadane dan berada pada satu garis lurus.

Arti filosofi dari ketiga klenteng tersebut Kebajikanya (Tek) Setinggi Gunung (San) dan Seluas Lautan (Hay)

Menariknya ketiga klenteng ini dibangun dalam satu garis lurus, semuanya menghadap ke sungai, dan Boen Tek Bio berapa ditengah bersandar pada Boen San Bio (Gunung) dan menghadap Boe Hay Bio (Lautan)

Daftar Altar

Bangunan Utama :

1. Thian Kong

2. Kongco Sam Kwan Tay Tee

3. Buddha Gautama, Bi Lek Hud

4. Ema Kwan Im Hud Couw, Kongco Kwan Seng Tee Kun, Kongco Hok Tek Tjeng Sin (Tuan Rumah)

5. Cap Pe Lo Han (9 pertama)

6. Cap Pe Lo Han (9 terakhir)

Sayap Kiri :

1. Kongco Kha Lam Ya

2. Makco Thian Siang Seng Bo

3. Kongco Kong Tje Tjo Soe, Pek Houw, Pek Tjoa

4. Kongco Sam Kwan Tay Tee

Sayap Kanan :

5. Bodhisattva Tee Cong Ong Pho Sat

6. Kongco Kwan Seng Tee Kun

7. Kongco Hok Tek Tjeng Sin

8. Kongco Kong Tek Cun Ong, Kongco Su Beng Cao Kun

Arak- Arakan Gotong Toapekong 12 Tahun Sekali

Prosesi YMS Kwan Im Hud Couw 12 tahunan atau dikenal dengan Perayaan Arak arakan Gotong Toapekong biasanya disambut dengan sangat meriah oleh masyarakat Tangerang maupun umat Perkumpulan Boen Tek Bio Tangerang pada khususnys. Pengunjung yang menyaksikan perayaan ini tidak terbatas dari masyarakat Tangerang saja, tetapi juga berdatangan dari berbagai propinsi di Indonesia. Perayaan ini biasanya dilaksanakan setiap tahun shio Naga (liong) pada bulan 8 penanggalan Imlek (Pe Gwee) Perayaan kali ini (Sabtu, 21 September 2024) merupakan yang ke-15 kalinya. Dalam Perayaan ini, jalan-jalan dipadati oleh ribuan bahkan puhan ribu orang yang ingin menyaksikan jalannya Perayaan tersebut. Untuk kelancaran perjalanan tiga joli yang berisi kimsin Kongco Kha Lam Ya, kimsin Kongco Kwan Seng Tee Kun, dan kimsin YMS Kwan Im Hud Couw; permainan tarian liong mendahului bergerak bergerak di depan untuk membuka jalan. Dengan adanya liong ini maka secara otomatis penonton akan menyingkir karena takut terkena kepala atau ekor liong. Karena menurut kisahnya liong ini memang bertugas sebagai pengawal YMS Kwan Im Hud Couw.

Klenteng Boen Tek Bio diperkirakan berdiri pada tahun 1684. Jika tahun 2024 merupakan Perayaan yang ke-15, maka jika kita menghitung mundur Perayaan yang ke-1 jatuh pada tahun 1856. Namun, menurut kisahnya. Kelenteng Boen Tek Bio sebelum tahun 1844 masih merupakan rumah. Kemudian di renovasi secara besar-besaran terhadap Klenteng Boen Tek Bio tersebut yang telah direncanakan pada tahun Naga (Liong). Baik pekerja atau ahlinya pun didatangkan dari Tiongkok, sehingga kimsin yang di puja seperti YMS Kwan Im Hud Couw, kimsin YS Kongco Ka Lam Ya, kimsin YS Kongco Hok Tek Ceng Sin, dan kimsin Ys Kongco Kwan Seng Tee Kun dipindahkan sementara ke Klenteng Boen San Bio.

Setelah renovasi Klenteng Boen Tek Bio selesai pada tahun 1856 (12 tahun kemudian), kimsin-kimsin yang dipindahkan sementara ke klenteng Boen San Bio dikembalikan ke tempat semula pada bulan 8 penanggalan Imlek (Pe Gwee). Ketika perpindahan tersebut diiringi oleh masyarakat (umat) kelenteng Boen Tek Bio. Untuk memperingati perpindahan tersebut. Maka Gotong Toapekong ke-1 jatuh pada tahun 1856. Perayaan ini menjadi tradisi masyarakat Tangerang pada umumnya dan umat Boen Tek Bio Tangerang khususnya. Tujuan arak-arakan itu adalah untuk menolak bala dan membersihkan hawa jahat (kurang baik) supaya masyarakat aman, damai, dan sejahtera. Perayaan ini bukan sekadar tradisi saja, tetapi merupakan puncak penghargaan, penghormatan, dan rasa terimakasih dari umat Klenteng Boen Tek Bio keoada YMS Kwan Im Hud Couw

Saat ini tradisi Gotong Toapekong 12 Tahunan sudah ditetapkan menjadi Warisan budaya tak benda oleh Kemendikbud-Ristek pada 22 Agustus 2024.[butuh rujukan]

Berikut daftar perayaan tradisi Gotong Toapekong:

  • 1856 : Pertama Kali
  • 1868 : Kedua
  • 1880 : Ketiga
  • 1892 : Keempat
  • 1904 : Kelima
  • 1916 : Keenam
  • 1928 : Ketujuh
  • 1940 : Kedelapan
  • 1952 : Kesembilan
  • 1964 : Kesepuluh (tahun terakhir melewati Boen San Bio)
  • 1976 : Kesebelas
  • 1988 : Kedua belas namun dibatalkan karena bertepatan dengan wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX
  • 2000 : Ketiga belas
  • 2012 : Keempat belas
  • 2024 : Kelima belas
  • 2036 : Keenam belas (akan datang)

Referensi

  1. ↑ Salmon, Claudine (2003). Klenteng-klenteng dan masyarakat Tionghoa di Jakarta, Seri gedung-gedung ibadat yang tua di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
  2. ↑ Moerthiko (1980). Riwayat klenteng, vihara, lithang, tempat ibadat Tridharma se-Jawa. Sekretariat Empeh Wong Kam Fu. Diakses tanggal 10 October 2017.
  3. ↑ "Klenteng Boen Tek Bio". Indonesia Kaya. Indonesia kaya. Diakses tanggal 10 October 2017.
  4. ↑ "West-Java. Tangeran OM EEN STUK GROND. Koopsom en schadeloosstelling". Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. NV Mij tot Expl. van Dagbladen. 16 October 1939. Diakses tanggal 20 October 2017.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Perkumpulan Keagamaan Dan Sosial Boen Tek Bio
  3. Keajaiban
  4. Tiga Serangkai
  5. Daftar Altar
  6. Arak- Arakan Gotong Toapekong 12 Tahun Sekali
  7. Referensi

Artikel Terkait

Kuil Hindu di Indonesia

India ke Indonesia pada abad ke-19, sejumlah kuil bergaya India didirikan di berbagai kota di Indonesia, terutama di Medan dan Jakarta. Kuil-kuil Hindu India

Horyuji

bangunan kuil di Jepang

Kuil Hirohara

bekas kuil Shinto peninggalan masa pendudukan Jepang di kota Medan; satu-satunya kuil Shinto yang masih bertahan di Asia Tenggara sejak menyerahnya Jepang

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026