Bilur-Bilur Penyesalan adalah film Indonesia tahun 1987 yang disutradarai oleh Nasri Cheppy. Film ini diperankan oleh Deddy Mizwar, Rano Karno dan Sophia Latjuba. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul Bilur-Bilur Penyesalan karya novelis Indonesia, Mira W..
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bilur-Bilur Penyesalan | |
|---|---|
| Sutradara | Nasri Cheppy |
| Produser | Handi Muljono |
| Skenario | Nasri Cheppy |
Berdasarkan | Bilur-Bilur Penyesalan oleh Mira W. |
| Pemeran |
|
| Penata musik | Harry Sabar |
| Sinematografer | Harry Susanto |
| Penyunting | Effendi Doytha |
Perusahaan produksi | PT. Kanta Indah Film |
Tanggal rilis | 1987 |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa | Bahasa Indonesia |
Bilur-Bilur Penyesalan adalah film Indonesia tahun 1987 yang disutradarai oleh Nasri Cheppy. Film ini diperankan oleh Deddy Mizwar, Rano Karno dan Sophia Latjuba. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul Bilur-Bilur Penyesalan karya novelis Indonesia, Mira W..
Kisah ini terentang sepanjang 21 tahun. Dan dalam waktu yang sekian panjang itu, peristiwa-peristiwa yang fantastis terjadi. Semarang 1967. Roy Paturungi (Deddy Mizwar), anak yatim, marah besar karena ujian dari dosen Handoko (Pitrajaya Burnama) tidak pernah lulus. Handoko mempunyai sentimen khusus, karena Roy saling cinta dengan anaknya Paramita (Sophia Latjuba) yang sudah ditinggal ibunya. Handoko tidak ingin anaknya lepas dari dirinya. Ia sangat posesif. Kemarahan Roy dilampiaskan dengan merusak mobil Handoko, hingga ia masuk penjara dua tahun. Keluar dari penjara, ia disembunyikan beberapa hari di kamar Paramita. Lalu menghilang. Hasilnya Paramita mengandung dan ketika tahu, Handoko terguncang dan meninggal. Dalam keadaan terguncang pula, Paramita melahirkan bayi kembar laki-laki. Ia menolak kehadiran bayi itu, karena dianggap penyebab mati ayahnya. Maka atas prakarsa dokter keluarga, dr. Alim (Henky Solaiman) dan rekan psikiaternya, kedua bayi itu diusahakan di adopsi oleh dua keluarga berbeda. Jakarta 1988. Dua bayi itu menjadi Ardi (Rano Karno), besar dalam keluarga sederhana, dan Erik (Tio Pakusadewo), tumbuh dalam keluarga berantakan tetapi kaya. Erik dan Ardi satu universitas, lain fakultas. Mereka mengincar gadis yang sama, Vina (Luci Parnita). Permusuhan terjadi dan Ardi selalu mengalah. Sementara Norma (Iyut Bing Slamet), mahasiswa di situ juga, lebih menaruh hati pada Ardi. Norma ini ternyata anak Roy. Dalam suatu pesta, Norma adu minum bir dengan Erik, lalu terjadi hubungan seks. Agaknya Norma sengaja memancing Ardi, hingga saat Ardi menemuinya dalam keadaan setengah telanjang dan mencoba menutupi tubuhnya, Norma berteriak seolah diperkosa. Maka Ardi ditahan. datanglah sang pembela, Paramita. Di pengedailan Paramita bisa membuktikan bahwa tidak terjadi perkosaan, bahkan dari hasil pemeriksaan medis yang dimintanya, terjadi keajaiban, darah dan sperma Erik sama persis dengan Ardi. Maka mulailah dijejaki dua anak ini. Tampil kembali dr Alim. Sementara itu, Roy memaksa Ardi mengawini Norma, persis saat Handoko memaksa Roy lebih 20 tahun silam. Ardi kemudian berduel mengalahkan Erik, agar mau menikah Norma. Saat pernikahan akan berlangsung, Alim bergegas untuk mencegah, karena mereka anak dari satu ayah. Roy yang sudah kepalang tanggung, tidak ingin mempermalukan anaknya, menabrak mati dr Alim. Kembali Roy masuk penjara. Di sini ia memotong nadinya untuk bunuh diri, hingga terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Maka berkumpulan semuanya dan terbukalah semua keruwetan. [1]
Selain film ini, novel Bilur-bilur Penyesalan karya Mira W. juga diadaptasi menjadi sinetron dengan judul Cinta Tak Pernah Salah. Sinetron yang dibuat pada tahun 2000 tersebut dibintangi oleh Paramitha Rusady dan Gunawan.