Beton semprot adalah beton yang memiliki nilai kelecakan maksimum 80 + 3 mm serta terdapat pembatasan penggunaan agregat kasar (Split) maksimum 9,5 mm (3/8"). Kuat tekan campuran beton semprot pada umur 28 hari harus memenuhi persyaratan minimal 28 MPa. Jika dibandingkan beton konvensional, beton semprot memiliki ciri khas yakni adukan lebih kering. Hal ini dipengaruhi karena penggunaan Beton semprot mengharuskan penggunaan Faktor Air Semen (FAS) 0.35-0.45 dan kadar udara 3-4 % agar beton bisa ditembak dan menempel pada lereng.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. (November 2025) |
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Beton semprot adalah beton yang memiliki nilai kelecakan maksimum (kemudahan pengerjaan dinyatakan dengan nilai/angka slump) 80 + 3 mm serta terdapat pembatasan penggunaan agregat kasar (Split) maksimum 9,5 mm (3/8"). Kuat tekan campuran beton semprot pada umur 28 hari harus memenuhi persyaratan minimal 28 MPa. Jika dibandingkan beton konvensional, beton semprot memiliki ciri khas yakni adukan lebih kering. Hal ini dipengaruhi karena penggunaan Beton semprot mengharuskan penggunaan Faktor Air Semen (FAS) 0.35-0.45 dan kadar udara 3-4 % agar beton bisa ditembak dan menempel pada lereng.[1]
Beton ini biasanya digunakan untuk memperbaiki lereng ataupun dinding pada terowongan/bendungan dan diaplikasikan dengan menggunakan mesin penyemprot (Concrete Pump). Pekerjaan beton semprot pada lereng biasanya sebagai upaya untuk menjaga stabilitas permukaan lereng agar tidak mengalami erosi.[1]
Beton Semprot memiliki banyak spesifikasi dan metode penggunaan, sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, lokasi pekerjaan, waktu dan durasi pekerjaan, dan faktor lainnya. Beton semprot dapat dihasilkan dari campuran kering (dry mix) atau campuran basah (wet mix).[1][2]
Metode ini ditemukan oleh Carl Ethan Akeley di tahun 1910. Pengaplikasian beton sangat berbeda dibandingkan teknik lainnya. Biasanya, instalasi beton dilakukan dengan cara penuangan. Namun, teknik ini memanfaatkan kelecakan adukan beton sehingga mampu menempel pada permukaan lereng mapun atap.