Benediktus Yosef Labre (1748-1783) adalah seorang santo yang menjadi peziarah dan hidup seperti seorang pengemis. Ia dilahirkan sebagai anak sulung dari delapan belas bersaudara. Pamannya adalah seorang pastor paroki yang mengajar di sekolahnya. Setelah dewasa, Benediktus mulai mengembara. Pada awalnya, ia mengunjungi biara-biara dan berniat untuk masuk ke dalam biara. Setelah beberapa kali keinginannya untuk masuk biara ditolak, Benediktus memutuskan untuk menjadi seorang peziarah yang mengunjungi satu tempat suci ke tempat suci lainnya. Sebagai peziarah, ia hidup sangat miskin, yakni dengan pakaian compang-camping dan telanjang kaki. Meskipun penampilan Benediktus seperti pengemis, tetapi ia mencurahkan kehidupannya kepada Tuhan sehingga ia tidak merasa terikat dengan baju yang bersih ataupun tempat tinggal yang mewah. Ia menjadi teladan mengenai kecilnya arti benda-benda duniawi jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Hidup Benediktus penuh doa dan ia sering mendapat karunia penglihatan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Santo Benediktus Yosef Labre | |
|---|---|
| Lahir | (1748-03-25)25 Maret 1748 Amettes, Boulogne-sur-Mer, Prancis |
| Meninggal | 17 April 1783(1783-04-17) (umur 35) Roma |
| Dihormati di | Gereja Katolik Roma |
| Beatifikasi | 1859, Roma oleh Paus Pius IX |
| Kanonisasi | 8 Desember 1881, Roma oleh Paus Leo XIII |
| Pesta | 16 April |
Benediktus Yosef Labre (1748-1783) adalah seorang santo yang menjadi peziarah dan hidup seperti seorang pengemis.[1][2] Ia dilahirkan sebagai anak sulung dari delapan belas bersaudara.[1] Pamannya adalah seorang pastor paroki yang mengajar di sekolahnya.[1] Setelah dewasa, Benediktus mulai mengembara.[1] Pada awalnya, ia mengunjungi biara-biara dan berniat untuk masuk ke dalam biara.[1][2] Setelah beberapa kali keinginannya untuk masuk biara ditolak, Benediktus memutuskan untuk menjadi seorang peziarah yang mengunjungi satu tempat suci ke tempat suci lainnya.[1] Sebagai peziarah, ia hidup sangat miskin, yakni dengan pakaian compang-camping dan telanjang kaki.[2] Meskipun penampilan Benediktus seperti pengemis, tetapi ia mencurahkan kehidupannya kepada Tuhan sehingga ia tidak merasa terikat dengan baju yang bersih ataupun tempat tinggal yang mewah.[1] Ia menjadi teladan mengenai kecilnya arti benda-benda duniawi jika dibandingkan dengan kasih Tuhan.[1] Hidup Benediktus penuh doa dan ia sering mendapat karunia penglihatan.[2]