Belanda Raya adalah sebuah konsep irredentisme yang berkeinginan menyatukan Belanda, Flandria, dan terkadang Brussel. Selain itu, sebuah negara Belanda Raya mungkin termasuk menganeksasi Westhoek Prancis, Suriname, area-area yang dahulunya berbahasa Belanda di Jerman dan Prancis, atau bahkan bagian Afrika Selatan yang beretnis Belanda dan/atau berbahasa Afrikaans, meskipun varian-varian tersebut lebih terbatas di kalangan kelompok kanan jauh. Usulan terkait adalah konsep Pan-Belanda, yang meliputi Wallonia dan kemungkinan juga Luksemburg.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Belanda Raya | |
|---|---|
| Luas | |
- Total | 55.652 km2 |
| Populasi | |
- Perkiraan 2022 | 25.785.400a[1][2] |
| 463/km2 | |
| PDB (nominal) | 2023 |
- Total | €1,662 triliuna[3] |
| |
Belanda Raya (bahasa Belanda: Groot-Nederlandcode: nl is deprecated ) adalah sebuah konsep irredentisme yang berkeinginan menyatukan Belanda, Flandria, dan terkadang Brussel. Selain itu, sebuah negara Belanda Raya mungkin termasuk menganeksasi Westhoek Prancis, Suriname, area-area yang dahulunya berbahasa Belanda di Jerman dan Prancis, atau bahkan bagian Afrika Selatan yang beretnis Belanda dan/atau berbahasa Afrikaans,[4] meskipun varian-varian tersebut lebih terbatas di kalangan kelompok kanan jauh. Usulan terkait adalah konsep Pan-Belanda, yang meliputi Wallonia dan kemungkinan juga Luksemburg.
Konsep Belanda Raya awalnya dikembangkan oleh Pieter Geyl,[5] yang berpendapat bahwa "orang Belanda", yang mencakup orang Flandria dan Belanda, terpisah hanya karena Perang Delapan Puluh Tahun melawan Spanyol pada abad ke-16.[6] Sedangkan Geyl – seorang anti-fasis – berpendapat dari perspektif sejarah dan budaya, gerakan fasis seperti Verdinaso dan Nazi dibangun berdasarkan gagasan Belanda Raya selama tahun 1930-an dan 1940-an dengan fokus pada nasionalisme etnik, sebuah konsep yang masih menonjol di antara beberapa pihak di spektrum kanan jauh. Pendukung konsep Belanda Raya lainnya dari abad ke-21 adalah moderat di Belgia dan Belanda yang berusaha meninggikan cita-cita Benelux menjadi persatuan politik yang lebih terpusat.[7]
Dukungan publik untuk persatuan Flandria dengan Belanda relatif kecil, khususnya di Flandria, di mana kemerdekaan Flandria dipandang sebagai alternatif utama untuk negara bangsa Belgia.
Belanda Raya tanpa Brussel:
| Area km2 | Populasi
(2022) |
PDB
(2023) | |
|---|---|---|---|
| 41.865 | 17.933,600 | €1.067.599 miliar | |
| 13.625 | 6.629,143 | €356.049 miliar | |
| Belanda Raya | 55.490 | 24.562.743 | €1.423,648 miliar |
Atau dengan Brussel:
| Area km2 | Populasi
(2022) |
PDB
(2023) | |
|---|---|---|---|
| 41.865 | 17.933,600 | €1.067.599 miliar | |
| 13.625 | 6.629,143 | €356.049 miliar | |
| 162 | 1.222.657 | €103,miliar | |
| Belanda Raya | 55.652 | 25.785.400 | €1.526.933 miliar |
Negara potensial ini juga dikenal sebagai Tanah Belanda (Dietsland), dari kata Diets – istilah kuno untuk bahasa Belanda Pertengahan. Sebutan ini populer hingga Perang Dunia II, tetapi karena dikaitkan dengan kolaborasionisme (terutama di Flandria), istilah ini kini jarang digunakan.[8] Ideologi ini sering disebut Belandaisme Raya (Groot-Nederlandisme). Istilah lain yang digunakan adalah Gerakan Belanda[9] (Dietse Beweging), sedangkan dalam literatur kerap disebut Pemikiran Belanda Raya (Grootnederlandse Gedachte).[5]
Belandaisme Raya sering disamakan dengan gerakan Orangis di Belgia yang ingin menyatukan kembali Kerajaan Bersatu Belanda setelah kemerdekaan Belgia. Meski banyak Orangis juga mendukung gagasan Belanda Raya, fokus utama mereka adalah memulihkan kekuasaan Oranye-Nassau di wilayah selatan karena alasan legitimasi politik.[10]
Bendera Prinsenvlag kadang digunakan oleh kelompok Orangis dan Belanda Raya, karena dulu merupakan simbol pendukung Willem I dari Oranye dalam Perang Delapan Puluh Tahun melawan Spanyol. Saat itu, wilayah berbahasa Belanda (kini Flandria dan Belanda) bersatu dalam Uni Utrecht, cikal bakal negara Belanda modern. Bendera ini juga pernah dipakai oleh Republik Belanda dan Kerajaan Bersatu Belanda, tetapi kini lebih sering diasosiasikan dengan kelompok sayap kanan di Belanda.
Istilah Pan-Belanda (Heel-Nederland) dulu dipakai untuk menggambarkan negara Belanda Raya yang bersifat teoretis,[11] tetapi kini lebih merujuk pada gerakan yang ingin menyatukan seluruh wilayah Negeri Rendah (Benelux) – termasuk Walonia dan Luksemburg – menjadi satu entitas multibahasa.[9]

Usulan pertama untuk menyatukan Belanda Selatan dengan Republik Belanda guna membentuk negara berbahasa Belanda yang lebih besar muncul setelah pecahnya Revolusi Prancis pada 1789.[12] Gagasan ini terwujud setelah Perang Napoleon tahun 1815, ketika Kongres Wina membentuk Kerajaan Belanda dari wilayah bekas Republik Belanda dan Belanda Austria. Setelah Belgia merdeka pada tahun 1830, muncul kembali minat di Flandria pada tahun 1860-an untuk bersatu dengan Belanda, karena sebagian warga Belgia berbahasa Belanda menentang dominasi kaum borjuis yang berbahasa Prancis.[13] Menjelang akhir abad ke-19, gerakan Belanda Raya tumbuh bersama Gerakan Flandria sebagai respons terhadap perlakuan rendah terhadap penutur Belanda dalam pemerintahan Belgia. Lagu "Waar Maas en Schelde vloeien" (juga dikenal sebagai "Het Lied der Vlamingen") karya Peter Benoit dan Emmanuel Hiel menjadi simbol gerakan ini.[14] Tahun 1895, nasionalis dari Flandria dan Belanda membentuk Algemeen-Nederlands Verbond (ANV) untuk memperkuat kerja sama antarwilayah, fungsi yang masih dijalankan hingga kini.[15]
Pendudukan Jerman di Belgia selama Perang Dunia I memperdalam perpecahan antara komunitas Walonia dan Flandria. Jerman menerapkan kebijakan Flamenpolitik dengan memisahkan administrasi Belgia berdasarkan bahasa untuk mempermudah kontrolnya.[16][17] Akibatnya, ANV semakin populer di Flandria dan Belanda, dan sekelompok mahasiswa radikal mendirikan Dietsch Studentenverbond (Persatuan Mahasiswa Diets).[18][19][20] Bahkan partai sosialis Belgia pertama, BWP, memiliki sejumlah anggota yang mendukung ide Belanda Raya di Antwerpen, termasuk Maurits Naessens.[10]
Pada awal abad ke-20, gagasan Belanda Raya mulai lebih terstruktur. Di Belanda, beberapa nasionalis menganggap Flandria bagian dari identitas Belanda yang lebih luas, pandangan yang juga disambut oleh nasionalis Flandria yang memperjuangkan pelestarian bahasa Belanda.
Selama Perang Dunia I (1914–1918), sebagian nasionalis Flandria berkolaborasi dengan Jerman karena kebijakan yang mendukung otonomi Flandria untuk melemahkan Belgia. Kolaborasi ini memunculkan nasionalisme Flandria radikal yang mendorong ide penyatuan dengan Belanda.
Setelah perang, Gerakan Flandria semakin kuat di Belgia dengan tuntutan kesetaraan bahasa dan otonomi lebih besar. Meskipun mayoritas fokus pada hak di dalam Belgia, sebagian kecil mendorong pemisahan penuh dan penyatuan dengan Belanda di bawah konsep Belanda Raya.
Pendudukan Jerman Nazi di Belgia dan Belanda selama Perang Dunia II menumbuhkan keyakinan bahwa negara Belanda Raya bisa tercapai melalui kolaborasi dengan Jerman. Namun, Nazi tidak bermaksud menyatukan Flandria dengan Belanda. Mereka lebih menginginkan serikat Pan-Jermanisme antara penutur Belanda yang dianggap ras Jermanik, atau tatanan baru di mana Belgia dan Belanda tetap berdiri sebagai negara satelit Jerman.[11] Setelah perang, gerakan ini merosot drastis karena dikaitkan dengan kolaborator Nazi, terutama Uni Nasional Vlaams (VNV) di Flandria dan Gerakan Nasionalis-Sosialis (NSB) di Belanda. Meski begitu, ide Belanda Raya masih mendapat dukungan dari sebagian kecil kelompok sayap kanan di kedua negara.[21]
Partai sayap kanan Vlaams Belang mendukung gagasan ini, karena mereka melihat pembentukan "Federasi Belanda" sebagai langkah logis setelah Flanders memisahkan diri dari Belgia. Pada tahun 2021, pemimpin partai nasionalis Flandria Aliansi Flandria Baru (N-VA), Bart De Wever, menyatakan dalam acara Trends Talk di Kanaal Z bahwa setelah Belgia menjadi negara konfederal, langkah berikutnya seharusnya adalah penyatuan Flandria dengan Belanda.[22] Pernyataan ini memicu kembali diskusi soal topik tersebut.
Di Belanda, ide ini muncul di agenda dua partai sayap kanan: Partai untuk Kebebasan (PVV) dan Forum untuk Demokrasi (FvD). Pada 12 Mei 2008, politisi PVV, Geert Wilders menyatakan di De Telegraaf bahwa ia tertarik dengan kemungkinan penyatuan Belanda dan Flandria. Berdasarkan hasil survei sebelumnya, ia mengusulkan referendum di kedua wilayah.[23] Wilders menegaskan tidak berniat memaksakan unifikasi, tetapi meminta Perdana Menteri saat itu, Jan Peter Balkenende, untuk membahas topik ini dengan pemerintah Flanders, yang kemudian permintaan ini ditolak. Ketua FvD, Thierry Baudet, juga mendukung ide serupa, menyebut bahwa ia "menyambut Flandria" ke dalam kerajaan dan bahkan mengatakan bahwa Flandria "sebenarnya milik kita" dalam sebuah konferensi.[24]
Kelompok kecil pendukung Belanda Raya lainnya meliputi partai Uni Rakyat Belanda (NVU) dan organisasi Belanda-Belgia Voorpost. Sejak tahun 2018, organisasi pemuda Geuzenbond aktif di Belanda dan Flandria.[25] Anggotanya mendirikan Asosiasi Mahasiswa Belanda Raya di Leiden pada tahun 2021,[26][27] dan membuka cabang di Nijmegen pada tahun 2023.[28]
Meskipun isu ini sudah lama tidak menjadi topik politik utama di Belanda, jajak pendapat tahun 2007 menunjukkan dua pertiga masyarakat Belanda mendukung penyatuan dengan Flandria.[29] Survei lain oleh RTL 4 bahkan mencatat 77% responden di Belanda mendukung gagasan Belanda Raya.[30]
Di Flandria, dukungan terhadap ide ini lebih kecil. Studi tahun 1999 oleh Jaak Billiet dari Universitas Katolik Leuven menunjukkan hanya 1–2% warga Flandria yang mendukung penyatuan. Survei daring yang tidak mewakili populasi kemudian menunjukkan hasil bervariasi, antara 2% hingga 51% responden mendukung unifikasi dengan Belanda.[31] Bagi sebagian orang Belanda, penyatuan dianggap sebagai bentuk ekspansi wilayah, sedangkan pihak Flandria khawatir akan kehilangan identitas budaya karena diserap oleh Belanda yang lebih besar dan berpenduduk lebih banyak.
Namun, kesulitan dalam formasi pemerintahan Belgia tahun 2007, serta sebagian pada 2019–2020, dan kemenangan dua partai separatis Flandria – Aliansi Flandria Baru (N-VA) dan Vlaams Belang – kembali memunculkan pembahasan soal kemungkinan Flandria memisahkan diri dari Belgia. Meski kedua partai tidak secara resmi mendukung gagasan Belanda Raya, para pemimpinnya (Tom Van Grieken dan Bart De Wever) serta Ketua DPR Belanda Martin Bosma[32] pernah menyatakan dukungan terhadap penyatuan setelah Flandria merdeka.[33][22]