Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bekantan

Bekantan, kahau, kera belanda atau monyet belanda adalah jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna hitam kemerahan. Bekantan merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan, rawa dan hutan pantai. Ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lain adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Kampung Wisata Bekantan dijadikan sebagai tempat wisata edukasi.Bekantan terdapat di Kalimantan Selatan, Timur dan Utara.

spesies monyet berhidung panjang
Diperbarui 11 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bekantan

Bekantan
Status konservasi

Terancam  (IUCN 3.1)[1]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Subordo: Haplorhini
Infraordo: Simiiformes
Famili: Cercopithecidae
Genus: Nasalis
Spesies:
N. larvatus
Nama binomial
Nasalis larvatus
Wurmb, 1787

Bekantan,[2] kahau, kera belanda[3] atau monyet belanda[4] (Nasalis larvatus) adalah jenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna hitam kemerahan. Bekantan merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan, rawa dan hutan pantai.[5] Ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lain adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Kampung Wisata Bekantan dijadikan sebagai tempat wisata edukasi.[6]Bekantan terdapat di Kalimantan Selatan, Timur dan Utara.

Spesies ini hidup di daerah yang sama dengan orangutan kalimantan dan monyet-monyet seperti lutung kelabu.[7] Bekantan termasuk kedalam genus monotipik Nasalis.[8][9]

Bekantan merupakan fauna identitas provinsi Kalimantan Selatan.[note 1] Hewan ini dikenal dengan berbagai nama, misalnya proboscis monkey atau long-nosed monkey dalam bahasa Inggris, kera bekantan dalam bahasa Malaysia, bangkatan untuk Brunei, sementara penduduk sekitar juga menyebutnya pika, bahara bentangan, dan raseng.[10][11] Bekantan termasuk jenis mamalia yang dilindungi dari ancaman kepunahan akibat dari konversi lahan hutan dan degradasi habitat. Berdasarkan hal ini, Bekantan temasuk satwa dengan status terancam punah (Endangered) dalam daftar merah IUCN.[12] Spesies ini dilindungi baik oleh organisasi dunia maupun pemerintah Indonesia.[note 2] Spesies ini ditempatkan dalam CITES apendiks I.[13]

Taksonomi

Bekantan termasuk kedalam subfamili Colobinae pada monyet dunia lama. Bekantan memiliki dua subspesies:

  • N. l. larvatus (Wurmb, 1787), yang hidup pada seluruh sebaran spesiesnya kecuali Kalimantan timur laut.[14]
  • N. l. orientalis (Chasen, 1940), yang hanya ditemukan di Kalimantan timur laut.[14]

Namun, perbedaan dari kedua subspesies tersebut hanya sedikit, sehingga tidak semua ahli mengakui N. l. orientalis.

Etimologi

Nama "bekantan" berasal dari bahasa Banjar, yaitu bekantang, yang secara harfiah berarti monyet.[15]

Kehidupan

Bekantan jantan berukuran lebih besar dari betina. Ukurannya dapat mencapai 75 cm dengan berat mencapai 24 kg. Monyet betina berukuran 60 cm dengan berat 12 kg. Spesies ini juga memiliki perut yang besar, sebagai hasil dari kebiasaan mengonsumsi makanan. Selain buah dan biji-bijian, bekantan memakan aneka daun, yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna. Ini mengakibatkan efek samping yang membuat perut bekantan jadi membuncit.

Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet. Sistem sosial bekantan pada dasarnya adalah one-male group, yaitu satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya. Selain itu, terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. Hewan jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai strategi bekantan untuk menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Untuk menunjang kemampuan berenangnya, pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaput. Selain mahir berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup.

Populasi

Populasi bekantan di Kalimantan Selatan (Kal-Sel) yang merupakan satwa endemik pulau Kalimantan meningkat populasinya 10 persen dari tahun 2019 sekitar 3.000 ekor menjadi sekitar 4.000 ekor pada tahun ini berdasarkan laporan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)[16]

Galeri

  • Wajah bekantan
    Wajah bekantan
  • Bekantan sedang makan
    Bekantan sedang makan
  • Keluarga bekantan
    Keluarga bekantan
  • Sekelompok bekantan di tengah hutan
    Sekelompok bekantan di tengah hutan
  • Bekantan duduk di atas pohon
    Bekantan duduk di atas pohon
  • Bekantan duduk di atas pohon
    Bekantan duduk di atas pohon
  • Lukisan bekantan di Pusat Primata Schmutzer, Ragunan, Jakarta
    Lukisan bekantan di Pusat Primata Schmutzer, Ragunan, Jakarta

Catatan

  1. ↑ Bekantan ditetapkan sebagai fauna identitas Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 29 Tahun 1990.
  2. ↑ Bekantan merupakan jenis hewan dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MenLHK/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Referensi

  1. ↑ Meijaard, E.; Nijman, V.; Supriatna, J. (2008). "Nasalis larvatus". Daftar merah IUCN. 2008: e.T14352A4434312. doi:10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T14352A4434312.en. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-03-28. Diakses tanggal 12 January 2018. ;
  2. ↑ "Arti kata bekantan". Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
  3. ↑ "Arti kata kera belanda". Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
  4. ↑ "Arti kata monyet belanda". Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
  5. ↑ Massa, Yusran Nurdin; Fadilah, Ratnawaty; Iman, Akhzan Nur; Adila, Laila; Afifudin, Sulton; Nugroho, Ardiyanto Wahyu; Hukom, Frans Alexander A.; Arbiani, Aulia (2020). Bekantan dan Habitatnya di Sungai Hitam (PDF). Balitek KSDA. ; ;
  6. ↑ "Kampung Wisata Bekantan Jadi Wisata Edukasi Keluarga di Balikpapan". Tribunkaltim.co. Diakses tanggal 2023-05-21.
  7. ↑ "Conservation of the Proboscis Monkey and the Orangutan in Borneo: Comparative Issues and Economic Considerations" (PDF). Working Papers on Economics, Ecology and the Environment. March 2007.
  8. ↑ Bradon-Jones D.; Eudey A. A.; Geissmann T.; Groves C. P.; Melnick D. J.; Morales J. C.; Shekelle M.; Stewart C. B. (2004). "Asian primate classification". International Journal of Primatology. 25: 97–164. doi:10.1023/B:IJOP.0000014647.18720.32. S2CID 29045930.
  9. ↑ Lhota, S.; Yap, J.L.; Benedict, M.L.; et al. (2022). "Is Malaysia's "mystery monkey" a hybrid between Nasalis larvatus and Trachypithecus cristatus? An assessment of photographs". International Journal of Primatology. 43 (3): 513–532. doi:10.1007/s10764-022-00293-z. PMC 9039274. PMID 35498121.
  10. ↑ "Bekantan, Si Hidung Besar Nan Mempesona". indonesia.go.id. Diakses tanggal 2019-10-22.
  11. ↑ "Foto: Monyet Belanda Cuma di Pulau Kalimantan". Mongabay Environmental News. 2012-04-27. Diakses tanggal 2019-10-22.
  12. ↑ "BEKANTAN SATWA ASLI KALIMANTAN SELATAN YANG BERADA DI WILAYAH KERJA KPH TANAH LAUT". Knowledge Management Infomation System KLHK | Forsitika (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-02-04.
  13. ↑ "Tag: Wisata Bekantan". Banjarmasinpost.co.id. Diakses tanggal 2023-05-21.
  14. 1 2 Harding, Lee E. (2015-12-01). "Nasalis larvatus (Primates: Colobini)". Mammalian Species (dalam bahasa Inggris). 47 (926): 84–99. doi:10.1093/mspecies/sev009. ISSN 1545-1410.
  15. ↑ "Bekantan: Simbol Kesehatan Hutan Kalimantan Yang Menawan". tamansafari.com. Diarsipkan dari asli tanggal 01 April 2025. Diakses tanggal 01 April 2025. ;
  16. ↑ "Populasi bekantan di Kalimantan Selatan meningkat 10 persen". 11 Juli 2022. Diakses tanggal 21 Mei 2023.

Pranala luar

  • (Inggris) IUCN Red List
  • ARKive - gambar dan klip mengenai kehidupan bekantan Diarsipkan 2006-05-07 di Wayback Machine.
  • Lembaran data tentang Nasalis dari Primate Info Net
  • Save the Proboscis Monkeys Diarsipkan 2021-05-01 di Wayback Machine. Petisi dan blog tentang spesies terancam ini.
Pengidentifikasi takson
Nasalis larvatus
  • Wikidata: Q192029
  • Wikispecies: Nasalis larvatus
  • ADW: Nasalis
  • BOLD: 53162
  • CoL: 45QBH
  • ECOS: 638
  • EoL: 310436
  • GBIF: 2436525
  • iNaturalist: 43538
  • IRMNG: 10216305
  • ITIS: 573040
  • IUCN: 14352
  • MDD: 1000659
  • MSW: 12100619
  • NCBI: 43780
  • Observation.org: 85696
  • Open Tree of Life: 860954
  • Paleobiology Database: 231532
  • Species+: 10415
Cercopithecus larvatus
  • Wikidata: Q109647124
  • GBIF: 9453331
Nasalis
  • Wikidata: Q3336165
  • Wikispecies: Nasalis
  • BOLD: 53161
  • CoL: 5XPR
  • EoL: 15089
  • GBIF: 2436524
  • iNaturalist: 43536
  • IRMNG: 1306849
  • ITIS: 572830
  • MSW: 12100618
  • NCBI: 43779
  • Open Tree of Life: 235536
  • Paleobiology Database: 92696
Basis data pengawasan otoritas: Nasional Sunting di Wikidata
  • Republik Ceko
  • Israel

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Taksonomi
  2. Etimologi
  3. Kehidupan
  4. Populasi
  5. Galeri
  6. Catatan
  7. Referensi
  8. Pranala luar

Artikel Terkait

Monyet

hewan dari "primata yang lebih tinggi" (simians), tetapi tidak termasuk kera

Monyet hidung-pesek

genus mamalia

Primata

Ordo dalam kelas mamalia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026