Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiBegu Antuk
Artikel Wikipedia

Begu Antuk

Begu Antuk atau Begu Attuk merupakan istilah dalam masyarakat suku Batak untuk menyebut penyakit kolera. Secara etimologis, begu berarti roh atau hantu, sedangkan attuk berarti memukul. Istilah tersebut merujuk pada gejala penyakit yang menimbulkan nyeri hebat pada abdomen, disertai muntah dan diare akut.

roh jahat dalam masyarakat Batak
Diperbarui 13 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Begu Antuk
Foto dokumentasi sejarah yang memperlihatkan suasana duka masyarakat suku Batak akibat kematian seorang anak balita yang diduga meninggal karena wabah kolera, yang secara lokal dikenal sebagai Begu Antuk atau Begu Attuk. Anak tersebut terbaring dalam peti sederhana dan dikelilingi keluarga serta warga setempat.


Begu Antuk atau Begu Attuk merupakan istilah dalam masyarakat suku Batak untuk menyebut penyakit kolera.[1] Secara etimologis, begu berarti roh atau hantu, sedangkan attuk berarti memukul. Istilah tersebut merujuk pada gejala penyakit yang menimbulkan nyeri hebat pada abdomen, disertai muntah dan diare akut.

Dalam karya Masyarakat dan Hukum Adat Batak, J.C. Vergouwen menjelaskan bahwa Begu Attuk digunakan oleh suku Batak sebagai penamaan lokal bagi wabah kolera. Penyakit ini dikenal luas dan menjadi ancaman serius, terutama menjelang musim kemarau. Dalam konteks adat, upacara penolak bala kerap dipimpin oleh datu sebagai respons terhadap merebaknya wabah.[1]

Wabah Kolera pada Awal Abad ke-19

Penyebaran kolera di Tanah Batak berkaitan dengan perang pada awal abad ke-19. Pada tahun 1818, pasukan kaum Padri dari Minangkabau melakukan ekspedisi militer ke wilayah Tapanuli. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan luas dan korban jiwa dalam jumlah besar.[2]

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa jenazah korban konflik dibuang ke Sungai Batangtoru, yang merupakan sumber air utama bagi wilayah Pahae dan Silindung. Pencemaran sungai tersebut diduga berkontribusi terhadap penyebaran penyakit menular ke daerah sekitarnya.

Menurut catatan Mangaraja Onggang Parlindungan Siregar, populasi di wilayah Pahae, Silindung, Humbang, dan Toba mengalami penurunan drastis akibat kombinasi perang dan wabah. Dari sekitar 800.000 penduduk, jumlahnya menyusut menjadi sekitar 200.000 jiwa. Wilayah Pahae tercatat sebagai daerah dengan penurunan populasi tertinggi.[3]

Dampak terhadap Pasukan Padri

Wabah kolera tidak hanya berdampak pada penduduk lokal, tetapi juga menular kepada pasukan kaum Padri. Penyebaran penyakit yang berkelanjutan melemahkan kemampuan militer mereka. Kondisi tersebut menghambat ekspansi ke wilayah tanah Batak bagian utara dan mendorong pasukan Padri untuk menarik diri. Pada sekitar tahun 1820, mereka kembali ke Minangkabau.[4]

Kondisi Pascakonflik dan Perkembangan Misi Kristen

Setelah konflik berakhir, wabah kolera tetap berlangsung akibat kondisi sanitasi yang buruk dan banyaknya jenazah yang tidak tertangani. Selain Sungai Batangtoru, sungai lain seperti Sigeaon dan Situmandi juga mengalami pencemaran, yang memperluas penyebaran penyakit.

Situasi ini menarik perhatian administrasi kolonial Inggris. Pada tahun 1823, Thomas Stamford Raffles menginisiasi pemetaan wilayah keagamaan di Sumatra.[5] Dalam pembagian tersebut, Tanah Batak dan Tapanuli ditempatkan sebagai wilayah sasaran misi Kristen.[6]

Sebagai tindak lanjut, Baptist Mission Society of England mengirimkan tiga misionaris dari India ke Tapanuli. Salah satu di antaranya adalah Nathaniel Ward, yang memiliki latar belakang di bidang kesehatan dan ditugaskan meneliti wabah kolera di wilayah Silindung dan Toba. Dua misionaris lainnya bertugas dalam bidang pendidikan dan terjemahan. Kehadiran mereka menandai awal aktivitas misi Kristen secara terorganisasi di Tanah Batak.

Lihat juga

  • Kampanye Militer Padri di Tanah Batak (1818–1820)

Referensi

  1. 1 2 Purba, Dian (28 Oktober 2022). "Begu Antuk, Penyakit Kolera di Tanah Batak". Kumparan. Diakses tanggal 14 Februari 2026.
  2. ↑ Nuur Aziiz, Rangga Noviansyah (2 Januari 2024). "Misteri Begu Attuk, Wabah Penyakit Kolera yang Menjadi Hantu di Tanah Batak". MetroJambi.com. Diakses tanggal 14 Februari 2026.
  3. ↑ Sitompul, Martin (6 April 2020). "Ketika Hantu Kolera Mengamuk di Tanah Batak". Historia. Diakses tanggal 14 Februari 2026.
  4. ↑ "Vaksinasi Begu Attuk Di Tapanuli Tahun 1912". Pelita Batak. 21 September 2021. Diakses tanggal 14 Februari 2026.
  5. ↑ Sitompul, Martin (10 April 2020). "Penginjil Kristen dan Wabah di Tanah Batak". Historia. Diakses tanggal 14 Februari 2026.
  6. ↑ Hamzah, Anggit Tri (24 Agustus 2023). "Sejarah Kegagalan Kaum Padri Islamisasi Tanah Batak, Ada Peran Perang dan Penyakit Begu Attuk Berkepanjangan". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 14 Februari 2026.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Wabah Kolera pada Awal Abad ke-19
  2. Dampak terhadap Pasukan Padri
  3. Kondisi Pascakonflik dan Perkembangan Misi Kristen
  4. Lihat juga
  5. Referensi

Artikel Terkait

Suku Batak

kelompok masyarakat pribumi multietnik yang berasal dari Sumatera bagian tengah dan utara

Suku Batak Toba

salah satu kelompok etnik Batak

Begu ganjang

roh jahat dalam masyarakat Batak

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026