Baung senggal atau baung kuning adalah salah satu jenis ikan Baung (Hemibagrus). Ikan sungai ini menyebar terbatas (endemik) di Jawa Barat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Baung Senggal | |
|---|---|
| Baung senggal, Hemibagrus planiceps dari Cihideung Hilir, Ciampea, Bogor | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | |
| Filum: | |
| Kelas: | |
| Subkelas: | |
| Infrakelas: | |
| Superordo: | |
| Ordo: | |
| Famili: | |
| Genus: | |
| Spesies: | H. planiceps |
| Nama binomial | |
| Hemibagrus planiceps (Valenciennes, in Cuvier & Valenciennes, 1840)[1] | |
| Sinonim | |
| |
Baung senggal atau baung kuning (Hemibagrus planiceps) adalah salah satu jenis ikan Baung (Hemibagrus). Ikan sungai ini menyebar terbatas (endemik) di Jawa Barat.
Nama-nama lokal ikan ini, di antaranya, adalah bawon atau bawon kuning (Btw.), serta singgal (=sénggal) (Sd.).[3][4]


Ikan baung yang berukuran sedang, panjang tubuh umumnya kurang dari 20 cm; namun maksimum yang tercatat mencapai 263 mm SL (standard length, panjang standar). Hemibagrus planiceps dicirikan oleh sirip lemaknya yang relatif pendek; pangkal sirip lemak (adipose fin base) ini panjangnya lk. 15,5–20,6% SL, yakni kurang dari setengah jarak antara akhir sirip punggung (dorsal) ke awal sirip ekor. Jarak antara akhir sirip punggung ke awal sirip lemak antara 12,0–17,3% SL; jika terlipat, ujung sirip punggung ini tidak mencapai awal sirip lemak.
Mirip dengan H. nemurus (dan kelompoknya), tubuh umumnya berwarna polos cokelat kekuningan; tetapi alih-alih berwarna gelap, garis memanjang di tengah sisi tubuhnya berwarna krem atau kekuningan. Kepala agak memipih datar dan lebar, panjangnya antara 23,8–27,1% SL. Jarak antar mata 32,2–37,3% HL (head length, panjang kepala).[5]
Garis tengah mata lk. 13,0–21,7% HL. Misai nasal (dekat hidung) lk. 25,4–37,3% HL; sementara misai maksilar (di ujung bibir atas) relatif pendek, yakni antara 147,5–220,1% HL. Tinggi tubuh setentang lubang dubur antara 11,3–14,7% SL; tinggi pada batang ekor 7,1–8,6% SL. Ikan jantan memiliki tonjolan kelamin luar yang cukup panjang, mencapai awal sirip dubur; alat kelamin ini terpisah dari lubang dubur sejarak 4,5–6,8% SL (baik pada jantan maupun betina).[5]
Sirip punggung dengan rumus II (jari-jari keras, duri).7 (jari-jari lunak); sirip dada I.8-9(.i); sirip perut i.5; dan sirip dubur iii-iv.8-11. Duri sirip punggung kokoh, panjangnya lk. 8,2–12,4% SL, dengan 7-8 gerigi di sisi belakangnya. Duri sirip dada (patil) kokoh, sekitar 10,0–16,5% SL, dengan 14-16 gerigi besar di sisi belakangnya. Awal sirip dubur sedikit di belakang awal sirip lemak. Sirip ekor menggarpu menjadi dua cabang, tepi belakang cabang yang atas maupun yang bawah membundar. Jari-jari branchiostegal 8–10.[5]
Sejauh ini baung senggal diketahui menyebar terbatas di wilayah Jawa Barat, yaitu di aliran sungai-sungai Cianten, Cidurian, Cikeas, Ciliwung, Citarum, Cisokan, dan Cimanuk. Sebagaimana kelompoknya, baung senggal biasa didapati di bagian hulu sungai-sungai besar yang berair jernih dan deras; jarang dijumpai bersamaan dengan baung tageh (H. nemurus) yang hidup di bagian sungai yang lebih bawah dan berair tenang.[5] Dua catatan yang belum dikonfirmasi menyebutkan kehadiran ikan ini di Kali Serayu, Jawa Tengah[6] dan Kali Surabaya, Jawa Timur.[7] Pakan dan peri kehidupan ikan ini pada umumnya belum diketahui dengan baik.
Jenis-jenis dari luar Jawa yang tercatat sebagai H. planiceps, kemungkinan adalah salah satu dari jenis yang serupa sebagaimana diuraikan di bawah.
Baung senggal merupakan ikan konsumsi bernilai lokal.
Hemibagrus planiceps berkerabat dekat dan bermiripan dengan beberapa spesies berikut:[5]