Basunat adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat di Kalimantan untuk menyebut rangkaian upacara adat yang menyertai pelaksanaan khitan (sunat) dalam ajaran agama Islam. Tradisi ini merupakan hasil dialog antara nilai-nilai keagamaan Islam dengan budaya lokal yang masih dipegang teguh oleh masyarakat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Basunat adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat di Kalimantan untuk menyebut rangkaian upacara adat yang menyertai pelaksanaan khitan (sunat) dalam ajaran agama Islam. Tradisi ini merupakan hasil dialog antara nilai-nilai keagamaan Islam dengan budaya lokal yang masih dipegang teguh oleh masyarakat.[1]
Dalam konteks umum, istilah Basunat sering kali disamakan secara harfiah dengan Khitan. Namun, dalam masyarakat adat, kedua istilah ini memiliki pemaknaan yang berbeda. Khitan merujuk pada praktik operasi bedah minor pada alat kelamin, yaitu pemotongan kulit kulup (preputium) pada penis, yang umumnya dikenal sebagai praktik keagamaan dalam kalangan umat Islam.[1] Sementara itu, Basunat dimaknai sebagai suatu tradisi atau upacara yang menyertai pelaksanaan khitan. Upacara Basunat ini diisi dengan berbagai aktivitas ritual yang bertujuan untuk menyempurnakan aspek keagamaan dan sosial dari proses khitan tersebut.[2]
Proses pelaksanaan tradisi Basunat pada masyarakat Banjar secara umum terdiri dari tiga prosesi: tahap persiapan, tahap pelaksanaan (khitan), dan tahap pasca-pelaksanaan. Saat ini, tradisi Basunat mulai jarang dipraktikkan sebagai ritual pengiring praktik khitan. Kecenderungan ini disebabkan adanya cara baru yang lebih mudah dan praktis dalam mengkhitan anak, yaitu dengan membawa anak langsung ke dokter atau rumah sakit untuk ditangani secara medis.[2]
Prosesi Bamandi Basunat umumnya terbagi ke dalam tiga tahapan. Tahapan pertama adalah Persiapan, yang meliputi penyiapan berbagai perlengkapan, termasuk air bamandi (air mandi), kembang (bunga), dan mayang (bunga pinang). Tahapan kedua adalah Pelaksanaan, yaitu proses khitan itu sendiri yang dilaksanakan bersamaan dengan ritual adat yang menyertainya. Setelah itu, prosesi ditutup dengan Tahap Penutup, yang merupakan rangkaian acara sebagai akhir dari seluruh rangkaian kegiatan.[3]
Tradisi Basunat ditemukan dalam berbagai variasi ritual pada beberapa suku di Kalimantan, yang paling dikenal adalah pada masyarakat Banjar dan Melayu Kutaringin.
Bagi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, Basunat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap individu Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Tanpa melaksanakan sunat, keislaman seseorang dianggap belum sempurna.[2]
Di kalangan masyarakat Melayu Kutaringin di Kotawaringin Barat, tradisi khitan dikenal dengan nama Bamandi Basunat. Tradisi ini memuat nilai dan makna yang sangat penting serta tersimpan bagi masyarakatnya.[3]