Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bas-basan sepur

Bas-basan Sepur adalah permainan tradisional yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Permainan ini termasuk kategori permainan menggunakan alat bantu papan dengan petak-petak yang digunakan sebagai arena, dan bidak kecil yang disebut orang-orangan sebagai alat permainan. Bas-basan Sepur menggabungkan unsur strategi, logika, dan imajinasi dalam satu kesatuan permainan yang menarik. Permainan ini umumnya dimainkan di atas papan atau bidang bergaris yang menyerupai peta jalur pergerakan, layaknya rel kereta api. Setiap garis dan titik pada papan memiliki fungsi tertentu yang mengatur arah serta kemungkinan langkah para pemain. Dalam praktiknya, pemain dituntut untuk merencanakan pergerakan dengan cermat, memperhitungkan langkah lawan, serta memanfaatkan ruang gerak secara efisien untuk mencapai tujuan permainan.

Wikipedia article
Diperbarui 31 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bas-basan Sepur adalah permainan tradisional yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).[1] Permainan ini termasuk kategori permainan menggunakan alat bantu papan dengan petak-petak yang digunakan sebagai arena, dan bidak kecil yang disebut orang-orangan sebagai alat permainan. Bas-basan Sepur menggabungkan unsur strategi, logika, dan imajinasi dalam satu kesatuan permainan yang menarik. Permainan ini umumnya dimainkan di atas papan atau bidang bergaris yang menyerupai peta jalur pergerakan, layaknya rel kereta api. Setiap garis dan titik pada papan memiliki fungsi tertentu yang mengatur arah serta kemungkinan langkah para pemain. Dalam praktiknya, pemain dituntut untuk merencanakan pergerakan dengan cermat, memperhitungkan langkah lawan, serta memanfaatkan ruang gerak secara efisien untuk mencapai tujuan permainan.[2]

Istilah

Istilah bas-basan berasal dari kata dasar bas yang mengalami pengulangan dan penambahan akhiran -an. Kata bas diduga berkaitan dengan kata “tebas” yang dalam konteks agraris berarti membeli secara borongan. Dalam praktik pertanian, khususnya pada tanaman padi, istilah “ditebas” merujuk pada kondisi ketika hasil panen dijual seluruhnya saat masih berada di sawah, dan pembeli menanggung proses panennya.[3] Analogi ini tercermin dalam permainan bas-basan, di mana pemain mencaplok atau mengambil bidak lawan secara menyeluruh melalui mekanisme tertentu. Dengan demikian, istilah bas-basan dalam konteks permainan ini mengandung makna tindakan saling mengambil atau menguasai bidak lawan.[2]

Permainan ini termasuk dalam kelompok permainan papan tradisional yang menggunakan petak-petak dan bidak, serupa dengan permainan catur, mul-mulan, dham-dhaman,[4] dan macanan.[3] Penyebutan sepur (kereta api) mengacu pada aturan khas permainan, yaitu keharusan melewati jalur lengkung di luar petak persegi saat melakukan caplokan, yang dianalogikan sebagai lintasan rel kereta.[2]

Permainan

Pemain

Permainan bas-basan sepur biasanya dimainkan oleh dua orang, namun jika jumlah pemain lebih banyak, mereka dapat dibagi menjadi beberapa kelompok terpisah. Meski hanya dua pemain yang aktif, anak-anak lain sering ikut menyaksikan dan memperhatikan jalannya permainan. Bas-basan sepur dapat dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan, meskipun dalam praktiknya lebih diminati oleh anak laki-laki. Dari segi usia, bas-basan sepur biasanya dimainkan oleh anak-anak mulai sekitar usia delapan tahun hingga remaja, terutama anak usia sekolah dasar tingkat atas karena permainan ini menuntut kemampuan berpikir dan perencanaan.[5]

Peralatan

Permainan dimulai dengan menyiapkan papan permainan berupa kertas, karton, atau lantai yang digambar petak-petak. Ukuran papan sekitar 60 × 60 cm dengan petak-petak masing-masing 5 × 5 cm.[5] Setiap pemain menyiapkan 14 bidak (orang-orangan) yang berbeda jenis atau warna. Bidak ditempatkan pada titik-titik di sisi papan yang berada di depan masing-masing pemain. Kedua pemain duduk saling berhadapan, dan papan diletakkan di tengah.[6]

Aturan dasar

Giliran pertama ditentukan melalui undian. Setiap bidak hanya dapat digerakkan satu langkah ke titik terdekat, baik ke depan, belakang, kiri, maupun kanan. Bidak dapat mencaplok bidak lawan melalui jalur lengkung yang berada di sudut petak. Setelah bidak lawan dicaplok, bidak tersebut diambil dari papan, dan bidak yang melakukan caplokan menempati posisi yang kosong. Setiap langkah caplokan hanya menghasilkan satu bidak. Permainan berakhir ketika salah satu pemain kehilangan seluruh bidaknya.[7]

Tahapan permainan

Permainan bas-basan sepur berlangsung melalui beberapa tahap. Pada tahap awal, pemain menggerakkan bidak untuk membuka posisi dan mencari jalur melalui lengkungan sudut, di mana langkah pertama biasanya lebih bersifat persiapan dan belum menghasilkan caplokan. Pada tahap menengah, peluang untuk mencaplok bidak lawan mulai muncul, sehingga pemain merencanakan jalur yang bebas dari bidak lain agar dapat melakukan caplokan secara efektif. Tahap akhir terjadi ketika pemain mulai mencaplok bidak lawan hingga salah satu pihak kehilangan seluruh bidaknya, dan pemain yang kehabisan bidak dinyatakan kalah sehingga permainan pun berhenti.[8]

Catatan pelaksanaan

Permainan berlangsung secara bergiliran, dengan masing-masing pemain memindahkan satu bidak per giliran. Strategi permainan bergantung pada pemilihan jalur yang tersedia dan penggunaan lengkungan sudut untuk melakukan caplokan.[7] Permainan ini tidak menggunakan iringan musik atau vokal, dan semua langkah dilakukan berdasarkan aturan yang telah ditetapkan.[6]

Referensi

  1. ↑ Eva 2025.
  2. 1 2 3 Fibiona 2025, hlm. 47.
  3. 1 2 Dharmomulya 1981, hlm. 25.
  4. ↑ Dinas Kebudayaan DIY 2014.
  5. 1 2 Dharmomulya 1981, hlm. 27.
  6. 1 2 Dharmomulya 1981, hlm. 28.
  7. 1 2 Dharmomulya 1981, hlm. 29.
  8. ↑ Dharmomulya 1981, hlm. 31.

Daftar pustaka

Buku

  • Dharmomulya, Sukirman; Rumidjah, Jumeiri Siti; Hadisukatno, S. (1981). Permainan Anak-Anak Daerah Istimewa Yogyakarta (PDF). Yogyakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
  • Fibiona, Indra; Endraswara, Suwardi; Precillia, Monita; Ekowati, Venny Indria; Renggani, Titik (2025). Permainan Tradisional Yogyakarta: Jejak Budaya dan Keistimewaan dalam Perspektif Ludologi.

Situs web

  • Eva, Adelbertha (2025-03-05). "Bas-basan, Permainan Tradisional Mengasah Keterampilan Anak". IDN Times Jogja. Diakses tanggal 2026-03-31.
  • Dinas Kebudayaan DIY (2014-03-06). "Dolanan Bas-basan". Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 2026-03-31.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Istilah
  2. Permainan
  3. Pemain
  4. Peralatan
  5. Aturan dasar
  6. Tahapan permainan
  7. Catatan pelaksanaan
  8. Referensi
  9. Daftar pustaka
  10. Buku
  11. Situs web

Artikel Terkait

Daftar permainan Indonesia

kancil Dhakonan Umbul Yoyo Layangan Wayang kaper Nini thowong Benthik Bas-basan sepur Bethet thingthong Cacah bencah Dhing-dhingan Dhingklik oglak-aglik

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026