Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bardan Nadi

Sutrisno Sastrokusumo atau lebih dikenal dengan Bardan Nadi adalah seorang pejuang Kalimantan Barat.

Politikus dan Pejuang
Diperbarui 21 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bardan Nadi
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Bardan Nadi" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR

Bardan Nadi
Bardan Nadi
LahirSutrisno Sastrokusumo
1912
Magelang, Jawa Tengah
Meninggal17 April 1947
Sungai Jawi, Pontianak Kota, Pontianak
Pekerjaan
  • Sekretaris
  • Politikus
Dikenal atas
  • Perjuangan melawan Belanda di Ngabang
  • Pendiri Partai Indonesia Raya

Sutrisno Sastrokusumo (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 1912 - meninggal di Sungai Jawi, Pontianak Kota, Pontianak, 17 April 1947) atau lebih dikenal dengan Bardan Nadi adalah seorang pejuang Kalimantan Barat.

Masa kecil dan karier awal

Bernama asli Sutrisno Sastrokusumo lahir di Magelang, Jawa Tengah pada tahun 1912.Ia merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, ayahnya bernama Raden Suratman Nadi Sastrosasmito dari Solo dan ibunya bernama Sarifah dari Sedayu, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keluarga Nadi tinggal di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat. Ayah Bardan direkrut oleh Belanda sebagai kepala pasukan. Bardan dan ayahnya sering berpindah tempat dari Magelang, Semarang, Aceh, Bogor, Jakarta, Pontianak dan Ngabang.

Pertama-tama, ia bersekolah di HIS, kemudian melanjutkan pendidikannya di MULO. saat itu, ia termasuk anak yang pintar, ia gemar membaca buku - buku tentang pergerakan kebangsaan, keagamaan, kesenian dan olahraga. Selain belajar, ia juga senang mengikuti kepanduan dan organisasi. Sifat dan tata krama Bardan Nadi yang sangat berbeda dengan anak-anak lainnya membuat orang tua teman sepermainannya memberikan nama tambahan “Bardan” kepadanya. Bardan dalam Bahasa Arab berarti sejuk atau dingin. Bardan Nadi tumbuh menjadi seorang pemuda yang memiliki kepribadian dengan gaya hidup dan penampilan yang sederhana. Sikapnya ramah, suka menolong dan percaya diri.

Saat masih muda, Ia pernah bekerja pada salah satu kantor instansi Hindia Belanda sebagai Schrijver atau juru tulis yang setingkat dengan sekretaris pada kantor Demang District, Sengah Temila di Sepatah Ngabang. Sambil Bekerja, ia secara diam-diam ia menekuni kegiatan politik untuk menentang penjajah Belanda.

Pada tahun 1930 (saat berusia 18 tahun), Bardan sudah aktif dalam kegiatan-kegiatan kepemudaan di Ngabang.

Setelah dewasa ia mempersunting seorang putri seorang haji dari Tanjung Hulu,Pontianak Timur bernama Rahimi. Ia dan istrinya menetap di desa Sepatah, Sengah Temila daerah Ngabang. Pada tahun 1944 Rahimi meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Sidas. Setelah kematian istrinya, ia tidak menikah kembali. Tugas merawat, mendidik dan membesarkan anak-anak dilakukannya sendiri.

Pada tahun 1936, ia dan para pemuda Ngabang mendirikan perkumpulan kepemudaan bernama Surya Wirawan dan perkumpulan organisasi politik bernama Partai Indonesia Raya (Parindra). Ia berjuang bersama teman-temannya, antara lain Gusti Tamdjid, Gusti Lagum, Gusti Machmud Aliuddin, Sabran dan Gusti Affandi Rani.

Kegiatan Bardan Nadi dalam berpolitik akhirnya diketahui oleh atasannya dan atasannya menilai bahwa kegiatan politik Bardan Nadi dapat membahayakan pemerintah kolonial Belanda. Kepala Pemerintah Kolonial Belanda di Ngabang kemudian meminta Bardan Nadi untuk menentukan 2 pilihan yaitu bekerja terus pada kantor instansi Belanda dengan meninggalkan semua kegiatan politiknya atau berhenti bekerja pada kantor instansi Hindia Belanda. Ia akhirnya memilih berhenti dari pekerjaannya di kantor instansi Hindia Belanda di Ngabang. Bardan Nadi kemudian pindah dan bekerja pada instansi Departemen Pekerjaan Umum. Di tempat pekerjaan barunya, secara diam-diam ia tetap melanjutkan kegiatan politiknya, baik dalam Parindra maupun Surya Wirawan. Kegiatan politiknya tersebut akhirnya diketahui kembali oleh Belanda, tetapi Belanda tidak dapat langsung menindaknya karena bukti-bukti yang menyatakan adanya keterlibatan politik organisasi yang dipimpinnya tidak berhasil ditemukan. Pada masa Jepang berkuasa di Kalimantan Barat, Bardan Nadi masih tetap menekuni pekerjaannya sebagai mandor Pekerjaan Umum. Tetapi dalam bidang politik, kegiatan organisasi dan perjuangan pergerakan tidak dapat diteruskannya karena Jepang melarang setiap kegiatan organisasi. Jepang bertindak sangat hati-hati dan selalu mempunyai rasa curiga terhadap bangsa pribumi. Suatu pengalaman pahit nyaris menimpa Bardan Nadi bersama dengan ketujuh orang temannya, ketika mereka diperintahkan untuk mengisi daftar asal-usul atau daftar riwayat hidup yang telah dipersiapkan Jepang dalam rangka penangkapan. Mereka yang menjadi sasaran adalah Bardan Nadi, Sultan Abdul Latif, Gusti Machmud Aliuddin, Gusti Zainul Arifin, Gusti Lagum, Ya' Bun Ya dan dua orang etnis Tionghoa. Adapun tujuan penangkapan mereka adalah karena Jepang menganggap mereka termasuk tokoh yang berpengaruh di masyarakat. Tetapi kemudian Bardan Nadi dan kawan-kawannya berhasil lolos dari rencana penangkapan dan pembunuhan oleh tentara Jepang tersebut. Dalam rangka memperkuat pasukannya di Indonesia,Jepang membentuk barisan pemuda yang dinamakan Seinendan. Bardan Nadi dan teman-temannya turut bergabung dalam Seinendan wilayah Distrik Sengah Temila desa Sepatah. Di desa Sepatah inilah, Bardan Nadi dan teman-temannya pernah mengadakan upacara penaikan. Sang Saka Merah Putih tanpa didampingi bendera Jepang (Hinomaru). Tindakan patriotik tersebut mendapat dukungan dari masyarakat dan pejuang kemerdekaan. Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 baru dapat diterima di Pontianak pada akhir bulan Agustus 1945 melalui sebuah radio milik seorang pemuda bernama Sukandar. Sedangkan di Ngabang, berita proklamasi baru dapat diketahui pada bulan Oktober 1945 melalui telepon yang dikirim oleh Gusti Abdul Hamid yang sedang berada di Pontianak. Setelah mendengar berita proklamasi, tokoh-tokoh pejuang di Ngabang merasa tergugah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena walaupun bangsa Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya, tetapi masih harus berhadapan lagi dengan Belanda yang ingin menjajah kembali bangsa Indonesia. Bardan Nadi dan teman-teman seperjuangannya membentuk organisasi Persatuan Rakyat Indonesia (PRI) pada bulan Maret tahun 1946, Gusti Abdul Hamid ditunjuk sebagai ketua dan Gusti Affandi selaku wakil Panembahan Landak ditunjuk sebagai pelindung PRI. Di Pontianak, organisasi sejenis PRI ini bernama Panitia Penyongsong Republik Indonesia (PPRI), yang dipimpin oleh Dr. M. Soedarso, Muzani A. Rani, Soekoco Katim dan lain-lain. Tujuan organisasi PRI adalah untuk menyatukan segenap lapisan masyarakat di daerah Ngabang dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada bulan Oktober 1946, PRI berubah nama menjadi Gerakan Rakyat Merdeka (GERAM). Meskipun terjadi perubahan nama, tetapi nama-nama pengurusnya tetap.

Pengurus besar organisasi ini terdiri dari 15 orang. Gusti M. Said mengetuai bagian propaganda. dengan anggota sebanyak 17 orang dan Bardan Nadi diangkat sebagai wakil kepala yang bertanggung jawab untuk seluruh daerah Ngabang. Pada tanggal 10 Oktober 1946, GERAM melakukan serangan terhadap Belanda dengan sasaran tangsi militer Belanda, rumah kontrolir Ngabang dan pos polisi Belanda (NICA). Dalam melancarkan serangan, GERAM membagi 2 daerah operasinya yaitu daerah Ngabang, Air Besar, Menyuke dan sekitarnya dipimpin oleh Gusti Lagum, sedangkan daerah Sengah Temila dan sekitarnya dipimpin Bardan Nadi. Setelah operasi dilancarkan, Bardan Nadi berhasil merebut dan menduduki kantor Demang desa Sepatah.

Selanjutnya Bardan Nadi dan anak buahnya bergabung dengan pasukan GERAM dari Air Besar dan Menyuke. Pada tanggal 11 Oktober 1946, GERAM melancarkan serangan ke tangsi militer Belanda di Ngabang. Pasukan Belanda kemudian membalas serangan yang membuat pasukan GERAM terdesak. Setelah mendapat bantuan dari Pontianak, pasukan Belanda melakukan pengejaran terhadap pasukan GERAM sampai dengan tanggal 28 Oktober 1946. Pada tanggal 29 Oktober 1946, terjadi pertempuran di Sidas yang dipimpin oleh Bardan Nadi dan Panglima Adat Pak Kasih. Dalam pertempuran tersebut, Pak Kasih gugur bersama dengan 22 orang pejuang lainnya. Bardan Nadi dan pasukannya yang terdesak kemudian mundur dan bersembunyi di hutan. Pasukan Belanda terus mengejar dan ingin menangkap Bardan Nadi yang dianggap sebagai penggerak pecahnya pertempuran di Sidas. Pada tanggal 5 November 1946, pasukan Belanda menemukan dan mengepung tempat Bardan Nadi melakukan perlawanan kepada persembunyian Bardan Nadi dan keluarganya. Saat penyerbuan pasukan Belanda tersebut, Paini Trisnowati, anak ketiga Bardan Nadi tewas di gendongan ayahnya, akibat ditembus 3 peluru oleh pasukan Belanda, praktis Bardan hanya memiliki 2 anak laki-laki yang tersisa, yakni Suwarno Bardan dan Adiknya Paito Bardan. Setelah salah seorang anaknya tewas, Bardan Nadi akhirnya menyerah. Namun sebelum ditangkap, ia sempat mengeluarkan sehelai kertas dari saku bajunya dan dimasukkan ke mulut dan ditelannya. Hal tersebut dilakukan agar kertas dokumen itu tidak jatuh ke tangan Belanda, karena isi kertas dokumen itu sangat rahasia, yang diterimanya dari dokter Soedarso, selaku pimpinan organisasi PPRI di Pontianak. Adapun isi kertas dokumen itu adalah upaya mengadakan pemberontakan terhadap penjajah Belanda, sesuai dengan situasi dan kondisi di daerahnya masing-masing. Setelah ia ditangkap dan sebelum tangannya diikat, ia meminta izin kepada pasukan Belanda untuk mengubur jenazah putrinya.

Kematian

Setelah ditangkap, Bardan Nadi kemudian dibawa ke tangsi militer Hindia Belanda di Ngabang. Selama berada di dalam tangsi militer, ia mengalami penyiksaan dan sempat beberapa hari dirawat di poliklinik militer Belanda di Ngabang. la kemudian dipindahkan dari tangsi militer Hindia Belanda di Ngabang ke penjara Sungai Jawi Pontianak. Di penjara Sungai Jawi Pontianak, ia dimasukkan ke dalam sel yang berdampingan dengan sel yang ditempati oleh dokter Soedarso. Dalam masa penahanannya di penjara Sungai Jawi, ia kembali mengalami penyiksaan. Setelah beberapakali diperiksa, akhirnya Mahkamah Pengadilan Militer Belanda di Pontianak memutuskan menjatuhkan hukuman mati kepada dirinya. Hukuman tersebut dilaksanakan pada tanggal 17 April 1947. Sebelum ditembak mati, Bardan Nadi meminta kepada Kepala Penjara Sungai Jawi untuk mengeluarkan semua tahanan dari sel masing-masing dan selanjutnya dikumpulkan di halaman penjara untuk bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya", la memimpin sendiri lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan. secara bersama-sama itu. Setelah selesai menyanyikan lagu Indonesia Raya, dengan suara lantang dan bersemangat, ia memekikkan "Merdeka, Merdeka, Merdeka". Pekikkan itu disambut hangat oleh para tahanan yang berkumpul di halaman penjara. Mereka kagum atas tekad dan semangat Bardan Nadi. Selanjutnya pada tanggal 17 April 1947, pukul 07.00 WIB, Bardan Nadi menjalani hukuman mati dihadapan regu tembak pasukan Belanda. 12 peluru pistol menembus tubuhnya dan darahnya telah membasahi bumi pertiwi dan ia gugur sebagai pahlawan bangsa sejati. Jenazah Bardan Nadi dimakamkan di kompleks penjara Sungai Jawi Pontianak. Setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 14 April 1950, atas prakarsa bekas pejuang kemerdekaan, kerangka jenazah Bardan Nadi dipindahkan ke kota Ngabang. la dimakamkan kembali di dekat makam ayah dan ibunya di kompleks pemakaman Islam, Hilir Kantor.

Penghargaan

  •  Indonesia:
    • Bintang Mahaputera Nararya (13 Agustus 1999)A

Pranala luar

  • Komando Daerah Militer XII/Tanjungpura
  • Pendudukan Kalimantan Barat oleh Jepang
  • Parindra
  • Rahadi Oesman
  • Soedarso (dokter)

Referensi


Ikon rintisan

Artikel bertopik politikus ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Masa kecil dan karier awal
  2. Kematian
  3. Penghargaan
  4. Pranala luar
  5. Referensi

Artikel Terkait

Bonnie Triyana

sejarawan Indonesia

M. Sanusi

Bupati Malang ke-20

Daftar tokoh Tionghoa Indonesia

Artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026