Pada Februari 2026, banjir dan tanah longsor yang dipicu oleh peristiwa curah hujan ekstrem terjadi di wilayah Zona da Mata di negara bagian Minas Gerais, Brasil, yang mengakibatkan sedikitnya 70 orang meninggal dunia dan empat lainnya masih dinyatakan hilang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini mendokumentasikan suatu peristiwa cuaca terkini. Informasi mengenai hal itu dapat berubah dengan cepat jika informasi lebih lanjut tersedia; laporan berita dan sumber-sumber primer lainnya mungkin tidak bisa diandalkan. Pembaruan terakhir untuk artikel ini mungkin tidak mencerminkan informasi terkini mengenai peristiwa cuaca ini untuk semua bidang. Silakan mengacu kepada layanan cuaca setempat Anda atau saluran media untuk informasi cuaca terbaru yang berkaitan dengan lokasi tertentu. |
Wilayah yang terdampak longsor di Juiz de Fora | |
| Tanggal | Februari 2026 |
|---|---|
| Lokasi | Zona da Mata (terutama Juiz de Fora dan Ubá), Minas Gerais, Brasil |
| Tewas | 70[1] |
| Hilang | 4[1] |
Pada Februari 2026, banjir dan tanah longsor yang dipicu oleh peristiwa curah hujan ekstrem terjadi di wilayah Zona da Mata di negara bagian Minas Gerais, Brasil, yang mengakibatkan sedikitnya 70 orang meninggal dunia dan empat lainnya masih dinyatakan hilang.

Menurut Institut Nasional Meteorologi (INMET), akumulasi curah hujan untuk Februari 2026 di stasiun cuaca otomatis di Juiz de Fora, hingga tanggal 24, mencapai 589,6 mm,[2] sementara rata-rata curah hujan untuk keseluruhan bulan di kota tersebut adalah 170 mm.[3] Antara pukul 09.00 pada 22 Februari hingga pukul 09.00 pada 23 Februari, tercatat curah hujan sebesar 89 mm. Pada pembacaan harian pukul 09.00 tanggal 24 Februari, tercatat tambahan 138,6 mm, sehingga total mencapai 227,6 mm dalam kurun 48 jam di wilayah munisipalitas tersebut.[2] Pada pukul 12.00 tanggal 24, penakar hujan Cemaden mencatat akumulasi curah hujan sebesar 221,72 mm di lingkungan Cidade Universitária, 216,19 mm di Nossa Senhora de Lourdes, dan 215,43 mm di pusat kota dalam 48 jam sebelumnya. Namun, sebagian besar hujan tersebut terkonsentrasi dalam periode enam jam antara malam sebelumnya hingga dini hari.[4]

Munisipalitas Juiz de Fora dan Ubá merupakan wilayah yang paling parah terdampak,[5] dengan jumlah korban tewas mencapai 22 orang dan 45 orang dinyatakan hilang hingga tengah hari tanggal 24, setelah badai hebat melanda kawasan tersebut antara sore hari tanggal 23 hingga dini hari 24 Februari.[6] Namun demikian, wilayah tersebut sebelumnya telah mencatat curah hujan di atas rata-rata pada pekan-pekan sebelumnya.[7]
Di Juiz de Fora, Sungai Paraibuna meluap, demikian pula sejumlah badan air kecil lainnya.[4] Di Ubá, banjir melanda kampus Universitas Negara Bagian Minas Gerais (Universidade do Estado de Minas Gerais, UEMG), menghancurkan buku-buku, perabotan, serta peralatan laboratorium dan perpustakaan.[8] Munisipalitas lain yang terdampak meliputi: Matias Barbosa, Senador Firmino,[9] Leopoldina,[10] dan Cataguases, tempat Sungai Pomba naik dari 4,89 meter menjadi 6,05 meter.[11]
Sekitar 5.510 penduduk terpaksa mengungsi: 3.500 di Juiz de Fora, 1.200 di Ubá, dan 810 di Matias Barbosa, sementara total 253 orang kehilangan tempat tinggal.[12] Jumlah korban tewas akibat banjir meningkat menjadi 70 orang hingga 28 Februari, dengan empat orang lainnya masih hilang.[1] Selain korban jiwa, tanah longsor dan banjir tidak lazim yang dipicu hujan menghambat akses jalan serta membuat sejumlah lingkungan terisolasi.[13]

Pemerintah federal mengumumkan bantuan keuangan bagi penduduk dan munisipalitas yang terdampak, serta pengerahan Pasukan Nasional dari Sistem Kesehatan Terpadu (Sistema Único de Saúdecode: pt is deprecated , SUS) ke daerah-daerah yang terkena dampak.[14] Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menyatakan melalui media sosialnya bahwa pasukan keamanan telah dikerahkan untuk misi penyelamatan dan memberikan bantuan segera.[15]
Gubernur Minas Gerais, Romeu Zema, mengunjungi wilayah tersebut,[16] dan menetapkan masa berkabung resmi selama tiga hari bagi para korban meninggal.[17] Kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah dihentikan sementara,[18] dan layanan transportasi umum harus dikurangi akibat jalan-jalan yang terblokir.[19] Pada 26 Februari, 15 sekolah difungsikan sebagai tempat penampungan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan pengungsi di Juiz de Fora, serta disediakan pos-pos pengumpulan donasi bagi masyarakat terdampak.[20]