Alun-Alun Surabaya, sebelumnya Balai Pemuda adalah ruang publik yang terletak di pusat Kota Surabaya, di Jalan Gubernur Suryo, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng. Kawasan ini dibangun di atas kompleks Balai Pemuda, sebuah bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dahulu difungsikan sebagai tempat hiburan malam bernama Simpangsche Societeit. Alun-alun ini diresmikan pada 17 Agustus 2020 oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, sebagai bagian dari upaya revitalisasi ruang terbuka hijau dan pelestarian situs cagar budaya. Alun-Alun Surabaya terdiri atas area atas dan area bawah tanah; bagian bawah tanahnya memuat ruang pameran dan galeri sejarah yang terhubung langsung dengan gedung Balai Pemuda, sementara area atas dilengkapi fasilitas seperti taman, jalur pejalan kaki, skatepark, dan area berkumpul. Dengan desain yang menggabungkan elemen arsitektur kolonial dan modern, alun-alun ini berfungsi sebagai ruang interaksi sosial, kegiatan budaya, dan sarana rekreasi masyarakat kota. Lokasinya yang berada di pusat kota menjadikannya salah satu destinasi publik yang ramai dikunjungi oleh warga lokal maupun wisatawan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Alun-Alun Surabaya | |
|---|---|
Bangunan Balai Pemuda yang menjadi bagian dari kompleks Alun-Alun Surabaya | |
| Jenis | Alun-alun |
| Lokasi | Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia |
| Koordinat | 7°15′57″S 112°44′44″E / 7.2657°S 112.7455°E / -7.2657; 112.7455[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Alun-Alun_Surabaya¶ms=7.2657_S_112.7455_E_type:landmark <span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">7°15′57″S</span> <span class=\"longitude\">112°44′44″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">7.2657°S 112.7455°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">-7.2657; 112.7455</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBg\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt7\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBw\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwCA\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Alun-Alun_Surabaya&params=7.2657_S_112.7455_E_type:landmark\" class=\"external text\" id=\"mwCQ\"><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwCg\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCw\"><span class=\"latitude\" id=\"mwDA\">7°15′57″S</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwDQ\">112°44′44″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDg\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDw\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEA\"></span></span><span class=\"geo-default\" id=\"mwEQ\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEg\">7.2657°S 112.7455°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEw\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwFA\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwFQ\">-7.2657; 112.7455</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFg\"/></span>"}' id="mwFw"/> |
| Area | 09 hektare (22 ekar) (Balai Pemuda) + area terbuka dan bawah tanah |
| Dibuat | 17 Agustus 2020 (2020-08-17) Sejarah Peresmian
|
| Dimiliki oleh | Pemerintah Kota Surabaya |
| Dioperasikan oleh | Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya |
| Status | Dibuka untuk umum |
| Akses angkutan umum | |
| Balai Pemuda | |
|---|---|
| Nama sebagaimana tercantum dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya | |
| Peringkat | Nasional |
| Kategori | Bangunan |
| No. Regnas | KB000433 |
| Lokasi keberadaan | Surabaya, Jawa Timur |
| No. SK | PM.23/PW.007/MKP/2007 |
| Tanggal SK | 26 Maret 2007 |
| Tingkat SK | Menteri Pendidikan dan Kebudayaan |
Koordinat: 7°15′49.896″S 112°44′43.116″E / 7.26386000°S 112.74531000°E / -7.26386000; 112.74531000Lihat peta diperbesar Koordinat: 7°15′49.896″S 112°44′43.116″E / 7.26386000°S 112.74531000°E / -7.26386000; 112.74531000Lihat peta diperkecil | |
Alun-Alun Surabaya, sebelumnya Balai Pemuda adalah ruang publik yang terletak di pusat Kota Surabaya, di Jalan Gubernur Suryo, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng. Kawasan ini dibangun di atas kompleks Balai Pemuda, sebuah bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dahulu difungsikan sebagai tempat hiburan malam bernama Simpangsche Societeit (terj. har. 'Perkumpulan Simpang'). Alun-alun ini diresmikan pada 17 Agustus 2020 oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, sebagai bagian dari upaya revitalisasi ruang terbuka hijau dan pelestarian situs cagar budaya. Alun-Alun Surabaya terdiri atas area atas dan area bawah tanah; bagian bawah tanahnya memuat ruang pameran dan galeri sejarah yang terhubung langsung dengan gedung Balai Pemuda, sementara area atas dilengkapi fasilitas seperti taman, jalur pejalan kaki, skatepark, dan area berkumpul. Dengan desain yang menggabungkan elemen arsitektur kolonial dan modern, alun-alun ini berfungsi sebagai ruang interaksi sosial, kegiatan budaya, dan sarana rekreasi masyarakat kota. Lokasinya yang berada di pusat kota menjadikannya salah satu destinasi publik yang ramai dikunjungi oleh warga lokal maupun wisatawan.
Bangunan yang kini menjadi bagian integral dari kawasan Alun-Alun Surabaya awalnya dikenal sebagai De Simpangsche Societeit (terj. har. 'Perkumpulan Simpang'), sebuah klub sosial eksklusif milik komunitas Belanda di Surabaya yang dibangun pada tahun 1907.[1][2] Terletak di pusat kota, gedung ini berfungsi sebagai pusat hiburan dan pergaulan kalangan elit kolonial, dilengkapi dengan fasilitas dansa, pesta, hingga arena bowling. Fungsi bangunan ini mencerminkan kehidupan sosial kelas atas kolonial Hindia Belanda, di mana societeit atau perkumpulan semacam itu menjadi simbol dominasi budaya dan status sosial kolonial. Gedung ini menjadi ikon kosmopolitanisme kolonial yang menyatu dengan kawasan Simpang yang strategis secara komersial dan administratif.[3]

Namun, memasuki masa-masa peralihan menuju kemerdekaan Indonesia, bangunan ini mulai mengalami perubahan fungsi yang signifikan. Pada tahun 1945, setelah Proklamasi Kemerdekaan, gedung ini dikuasai oleh para pemuda Surabaya yang tergabung dalam organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI), dan difungsikan sebagai markas perjuangan rakyat.[4] Dalam situasi revolusioner, gedung ini menjadi saksi ketegangan antara pemuda Indonesia dengan kekuatan militer Belanda yang berusaha kembali menguasai wilayah. Dalam pertempuran yang sengit, kendali atas gedung ini sempat berpindah ke tangan tentara Belanda, menandai dinamika gejolak fisik dan simbolik yang mewarnai awal Revolusi Nasional Indonesia di Surabaya.[4]
Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia, gedung De Simpangsche Societeit kembali dikuasai oleh kekuatan republik. Pada tahun 1950, Pemerintah Republik Indonesia melalui Komando Militer Kota Besar (KMKB) Surabaya mengambil alih kendali atas bangunan ini. Seiring waktu, gedung tersebut digunakan untuk berbagai fungsi administratif dan militer.[5][4] Momen penting terjadi pada Desember 1957, ketika gedung secara resmi diserahkan oleh Penguasa Militer Daerah Provinsi Jawa Timur kepada Pemerintah Daerah Kota Praja Surabaya. Penyerahan ini dilakukan oleh Letkol Soerijoto kepada R. Istidjab selaku Ketua Dewan Pemerintah Daerah, menandai dimulainya babak baru dalam penggunaan gedung ini sebagai aset sipil.[4][6]
Setelah proses serah terima, Pemerintah Kota Surabaya mengubah fungsi gedung menjadi Balai Pertemuan Umum dengan nama Balai Pemuda. Nama ini mencerminkan pergeseran orientasi dari tempat eksklusif kolonial menjadi ruang publik inklusif bagi aktivitas warga. Balai Pemuda dimanfaatkan untuk berbagai acara masyarakat seperti rapat, pesta, pertunjukan, dan kegiatan komunitas lainnya. Dalam kerangka ini, gedung mulai menjalankan peran sosial-budaya yang lebih luas, menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda dan cikal bakal pusat kegiatan kesenian di Surabaya. Seiring dengan itu, struktur dan nilai historis bangunan tetap dipertahankan sebagai pengingat masa lalu.[4][7]
Memasuki tahun 2016, Pemerintah Kota Surabaya mulai merancang revitalisasi kawasan Balai Pemuda sebagai bagian dari upaya penataan ulang pusat kota yang lebih ramah publik dan historis. Meskipun Balai Pemuda telah lama difungsikan sebagai ruang seni dan budaya, kondisi fisik bangunan dan lingkungannya dinilai membutuhkan pembaruan agar dapat melayani kebutuhan masyarakat yang lebih luas.[8] Di bawah kepemimpinan Wali Kota Tri Rismaharini, dirancanglah sebuah proyek yang menyatukan pelestarian bangunan cagar budaya dengan pembangunan ruang publik modern yang inklusif. Salah satu rencana utama dari proyek ini adalah pembangunan Alun-Alun Surabaya, yang akan mengintegrasikan kawasan Balai Pemuda dengan ruang bawah tanah multifungsi.[9][10]
Pekerjaan konstruksi fisik dimulai pada tahun 2018, dengan rancangan yang membagi kawasan menjadi dua bagian utama: area atas dan area bawah tanah. Area atas dibentuk menjadi ruang terbuka hijau dengan taman, jalur pedestrian, skatepark, dan ruang pertunjukan terbuka, sementara area bawah tanah dirancang sebagai galeri seni dan sejarah, ruang pameran, serta fasilitas publik lainnya.[11][10] Proyek ini dijalankan dengan tetap mempertahankan keaslian arsitektur Balai Pemuda sebagai bangunan cagar budaya. Setelah melalui proses pembangunan selama kurang lebih dua tahun, Alun-Alun Surabaya rampung pada pertengahan tahun 2020 dan diresmikan secara resmi pada 17 Agustus 2020 bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.[12]
Alun-Alun Surabaya merupakan ruang publik multifungsi yang mengintegrasikan berbagai fasilitas untuk mendukung kegiatan sosial, budaya, dan rekreasi.[13] Di permukaan, terdapat ruang terbuka yang luas dengan area pejalan kaki, jalur sepeda, dan tempat duduk yang nyaman. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung interaksi sosial dan aktivitas komunitas. Selain itu, terdapat air mancur dan instalasi seni yang menambah nilai estetika kawasan ini.[14][15] Di bawah tanah, Alun-Alun Surabaya memiliki ruang multifungsi seluas sekitar 3.000 meter persegi yang mencakup galeri seni, skatepark, co-working space, dan ruang pameran tematik.[16] Fasilitas ini dilengkapi dengan aksesibilitas seperti tangga, eskalator, dan lift untuk penyandang disabilitas, serta jaringan Wi-Fi untuk mendukung kegiatan digital.[15]
Secara arsitektural, Alun-Alun Surabaya menampilkan perpaduan gaya kolonial Eropa dan elemen modern. Gedung Balai Pemuda, yang menjadi ikon kawasan ini, dirancang oleh arsitek Belanda Westmaes pada tahun 1907. Bangunan ini mengusung gaya eklektisisme dengan pengaruh Neo-Gotik, Renaissance, dan Romanik Klasik, ditandai dengan penggunaan gewel, menara, dan atap pelana khas arsitektur Eropa. Struktur rangka baja yang digunakan menjadikan gedung ini sebagai salah satu bangunan pertama di Surabaya dengan teknologi tersebut.[17][18] Di sisi lain, ruang bawah tanah Alun-Alun Surabaya dirancang dengan pendekatan modern, menampilkan dome kaca futuristik yang memungkinkan pencahayaan alami dan menciptakan suasana terbuka.[15]