Bakung lembah, juga ditulis sebagai bakung-lembah, adalah tumbuhan berbunga kawasan hutan dengan bunga putih berbentuk lonceng, menggantung, dan beraroma manis yang tumbuh dalam malai pada musim semi. Tumbuhan ini merupakan spesies asli Eropa, Asia Barat dan Asia Utara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bakung lembah | |
|---|---|
| Perbungaan (gambar diambil di Keila, Estonia) | |
| Buah (gambar diambil di Polandia) | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Takson tak dikenal (perbaiki): | Convallariaμ</span>Bakung lembah"}]]}'/> |
| Spesies: | Template:Taxonomy/ConvallariaC. majalis |
| Nama binomial | |
| Template:Taxonomy/ConvallariaConvallaria majalis | |
Bakung lembah (Convallaria majalis),[2][3] juga ditulis sebagai bakung-lembah,[1] adalah tumbuhan berbunga kawasan hutan dengan bunga putih berbentuk lonceng, menggantung, dan beraroma manis yang tumbuh dalam malai pada musim semi. Tumbuhan ini merupakan spesies asli Eropa, Asia Barat dan Asia Utara.[4]
Varietas sebelumnya, Convallaria majalis var. montana (asli Amerika Utara bagian timur) dan Convallaria majalis var. keiskei (asli Asia bagian timur), kini telah dipisah menjadi spesies yang berbeda, masing-masing Convallaria pseudomajalis,[5] dan Convallaria keiskei.[6]
Karena tingginya konsentrasi glikosida jantung (kardenolida) yang kuat, tumbuhan ini sangat beracun jika dikonsumsi oleh manusia atau hewan lainnya.[7][8]
Nama lainnya meliputi lonceng Mei, air mata Bunda Maria, dan air mata Maria. Nama bahasa Prancisnya, muguetcode: fr is deprecated , terkadang muncul pada nama-nama parfum yang meniru aroma bunga ini. Di Inggris pra-modern, tumbuhan ini dikenal sebagai glovewort (karena merupakan wort yang digunakan untuk membuat salep bagi tangan yang sakit), atau Apollinaris (menurut legenda bahwa tumbuhan ini ditemukan oleh Apollo).[9]

Convallaria majalis adalah tumbuhan terna menahun yang sering membentuk koloni luas dengan menyebarkan batang bawah tanah yang disebut rimpang. Tunas tegak yang baru terbentuk di ujung geragih pada musim panas.[10] Tunas-tunas ini tumbuh pada musim semi menjadi tunas berdaun baru yang masih tetap terhubung dengan tunas lainnya di bawah tanah. Batangnya tumbuh setinggi 15–35 cm (6–14 in), dengan dua (atau jarang tiga) daun yang panjangnya sekitar 5–20 cm (2–8 in) dan lebarnya 3–7 cm (1–3 in).[3][11] Batang berbunga memiliki sebuah tandan satu sisi yang terdiri dari enam hingga dua belas bunga menggantung di bagian atas batang.[3]
Bunganya memiliki enam tepal putih (kecuali untuk spesies Convallaria majalis var. "Rosea", yang memiliki tepal merah muda), menyatu di bagian pangkal membentuk bentuk lonceng dengan ujung melengkung ke luar berdiameter 5–10 mm (0,2–0,4 in), dan beraroma manis; berbunga pada akhir musim semi, biasanya bulan Mei hingga Juni di Britania;[3][11] pada musim dingin yang sejuk di Belahan Bumi Utara, tumbuhan ini dapat berbunga sedini bulan Maret.[butuh rujukan] Buahnya adalah buah buni kecil berwarna merah jingga yang beracun dengan diameter sekitar 5–7 mm (0,2–0,3 in) yang rata-rata mengandung 3,9[12] biji besar berwarna keputihan hingga kecokelatan yang mengering menjadi manik bulat bening tembus pandang selebar 1–3 mm (0,04–0,12 in). Buah tersebut bertahan selama rata-rata 47,5 hari. Buah ini rata-rata mengandung 85,8% air, dan berat keringnya meliputi 14,6% karbohidrat dan 1,3% lipid.[12] Tumbuhan ini bersifat tidak serasi sendiri, dan koloni yang terdiri dari klon tunggal tidak menghasilkan biji.

Dalam sistem APG III, genus ini ditempatkan dalam famili Asparagaceae, subfamili Convallarioideae (sebelumnya famili Ruscaceae[13]). Tumbuhan ini sebelumnya ditempatkan dalam familinya sendiri Convallariaceae, dan, seperti halnya banyak monokotil lilioid, sebelumnya lagi berada dalam famili lili Liliaceae.
Di masa lalu, tumbuhan ini secara luas diperlakukan dalam tiga varietas,[10][14] namun ketiganya kini dipisahkan sebagai spesies yang berbeda.[15]
C. transcaucasica diakui sebagai spesies, subspesies, atau varietas yang berbeda dari C. majalis oleh beberapa otoritas, namun secara umum tidak diterima sebagai spesies yang terpisah.[4] Spesies yang sebelumnya disebut Convallaria japonica kini diklasifikasikan sebagai Ophiopogon japonicus.[17]
Convallaria majalis adalah tumbuhan asli Eropa, di mana ia sebagian besar menghindari tepian Mediterania,[19] serta tidak ditemukan di Irlandia sebagai spesies asli, meskipun telah ternaturalisasi di sana.[2]
Seperti banyak tumbuhan berbunga menahun lainnya, C. majalis menunjukkan mode reproduksi ganda dengan menghasilkan keturunan secara aseksual melalui cara vegetatif dan secara seksual melalui biji, yang dihasilkan melalui fusi gamet.[20]
Convallaria majalis adalah tumbuhan tempat teduh parsial, dan tipe mesofilik yang menyukai musim panas yang hangat. Tumbuhan ini tumbuh secara luas baik di tanah asam maupun tanah basa, menyukai tanah yang berkelodak atau berpasir, tetapi juga tumbuh secara lokal di tanah rawa basah,[2][21] sebaiknya dengan jumlah humus yang melimpah. Tumbuhan ini merupakan spesies Euroasiatik dan iklim suboseanik yang dapat ditemukan dari permukaan laut hingga ketinggian 490 m (1.600 ft) di Britania Raya,[2] serta di Eropa tengah dan selatan hingga ketinggian 2.300 m (7.500 ft).[11][22]
Convallaria majalis digunakan sebagai tumbuhan pakan oleh larva dari beberapa spesies ngengat dan kupu-kupu (Lepidoptera) termasuk ngengat chi kelabu. Kumbang dewasa dan larva dari kumbang daun Lilioceris merdigera juga mampu mentoleransi kardenolida sehingga dapat memakan daunnya.[23]
Buahnya terkadang diambil oleh hewan pengerat pemakan biji-bijian, yang memakan sebagian besar bijinya tetapi hanya sebagian kecil dari daging buahnya. Perilaku mereka menimbun biji maupun buah utuh telah diamati. Karena beberapa biji tak pelak lagi lolos dari pemangsaan, hewan-hewan ini juga bertindak sebagai agen penyebar biji.[24]
Convallaria majalis ditanam secara luas di taman karena bunganya yang beraroma wangi dan kemampuannya sebagai penutup tanah di lokasi yang teduh. Tumbuhan ini telah meraih Penghargaan Garden Merit dari Royal Horticultural Society.[25][26] Dalam kondisi yang menguntungkan, tumbuhan ini dapat membentuk koloni yang besar.
Berbagai macam dan kultivar ditanam, termasuk yang memiliki bunga ganda, bunga berwarna merah muda, dedaunan variegata, dan kultivar yang tumbuh lebih besar daripada spesies aslinya.[17]
Secara tradisional, Convallaria majalis ditanam di dalam pot dan dipaksa mekar pada musim dingin untuk menghasilkan bunga selama bulan-bulan musim dingin, baik sebagai tanaman pot maupun sebagai bunga potong.[27]

Kira-kira terdapat 38 glikosida jantung (kardenolida) berbeda—yang sangat beracun jika dikonsumsi oleh manusia atau hewan—ditemukan di dalam tumbuhan ini, di antaranya:[7][8][28]
|
Aroma bakung lembah, khususnya ligan bourgeonal, pernah diyakini dapat menarik sperma mamalia.[29] Penemuan fenomena ini pada tahun 2003 mendorong penelitian mengenai resepsi bau,[30] namun sebuah studi tahun 2012 menunjukkan bahwa pada konsentrasi tinggi, bourgeonal meniru peran progesteron dalam merangsang sperma untuk berenang (kemotaksis), sebuah proses yang tidak berhubungan dengan resepsi bau.[31]
Semua bagian tumbuhan ini berpotensi menjadi racun, termasuk buah buni merahnya yang mungkin menarik bagi anak-anak.[7][8][32] Jika tertelan, tumbuhan ini dapat menyebabkan sakit perut, mual, muntah, dan detak jantung tidak teratur.[28]
glovewort.