Baku tembak Intan Jaya 2024 terjadi antara aparat TNI dan Polri secara berkala di berbagai lokasi di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah sejak 19 Januari hingga 23 Januari 2024.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| ||||||||||||||||||||||||||||
Baku tembak Intan Jaya 2024 terjadi antara aparat TNI dan Polri secara berkala di berbagai lokasi di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah sejak 19 Januari hingga 23 Januari 2024.
Menurut Kepolisian Daerah Papua, Intan Jaya adalah salah satu dari 7 kabupaten yang rentan terhadap serangan separatis.[1] Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Intan Jaya diorganisasikan di bawah Komando Daerah Pertahanan ke-8 (Kodap VIII Intan Jaya), di bawah komando Brigadir Jenderal Undius Kogoya dan wakilnya Apen (atau Apeni) Kobogau.[2] Angkatan bersenjata dan polisi Indonesia secara bersama-sama diorganisasikan di bawah Operasi Damai Cartenz.
Militan TPNPB di bawah komando Apen Kobogau menyerang pasukan keamanan Indonesia di Desa Bilogai, Wandoga, dan Yokatapa, Distrik Sugapa, Intan Jaya. Dalam baku tembak tersebut, militan TPNPB menembak dan menewaskan Brigadir Dua Polisi Alfandi Karamoy.[3]
Militan TPNPB terus menyerang pasukan keamanan Indonesia di berbagai desa di Distrik Sugapa. Militan TPNPB memasuki Desa Mamba, menyerang pos TNI, dan membakar kediaman seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Intan Jaya.[4] Akibat pertempuran tersebut, seorang warga sipil, Apriana Sani, terluka oleh peluru nyasar di Desa Yokatapa.[5]
Pada 21 Januari, Yusak Sondegau ditembak mati di Desa Yokatapa, Distrik Sugapa. Terdapat perbedaan pendapat mengenai identitas Sondegau dan bagaimana ia dibunuh.
Saksi-saksi sipil di lapangan menyatakan bahwa Sondegau dibunuh setelah menghadiri ibadah di halaman rumahnya oleh TNI setelah tentara TNI menggeledah rumah keluarganya.[6] Jenazahnya dievakuasi ke puskesmas setempat oleh warga dan petugas gereja. Saksi-saksi setempat dan keluarga Sondegau mengenalnya sebagai seorang petani yang juga bekerja sebagai pegawai negeri di Desa Buwisiga, Distrik Homeyo.[5] Pernyataan ini didukung oleh juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, yang selanjutnya mengklaim bahwa TNI membakar beberapa rumah di daerah tersebut.[5]
Keterangan pasukan keamanan Indonesia tentang kronologi dan identitas Sondegau berbeda-beda. Juru bicara utama Operasi Damai Cartenz, Ajun Komisaris Besar Polisi Dr. Bayu Suseno, membenarkan bahwa Yusak Sondegau adalah warga sipil, tetapi menegaskan bahwa ia dibunuh oleh TPNPB.[5] Akan tetapi, TNI (Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih) menegaskan bahwa Yusak Sondegau adalah militan TPNPB yang bersama enam militan lainnya membawa senjata api di jalan dari Desa Baitapa ke Desa Kumbalagupa, Distrik Sugapa. TNI menegaskan bahwa Sondegau ditembak dan tewas dalam baku tembak dengan pasukan keamanan. TNI lebih lanjut menyatakan bahwa jenazah Sondegau dievakuasi ke puskesmas setempat oleh pasukan keamanan.[6] Namun, sebuah foto yang beredar di media yang memperlihatkan jenazah Sondegau dibawa ke puskesmas oleh warga setempat dan pejabat gereja (bukan oleh pasukan keamanan Indonesia) menimbulkan keraguan terhadap kebenaran klaim TNI.
Pada tanggal 21 Januari[5] (sumber lain menyebutkan 22 Januari)[7] Militan TPNPB di bawah komando "komandan lapangan" Yoswa Maisani (bagian dari kelompok Guspi Waker) menyerang pos TNI milik Yonif 330/TD di Distrik Sugapa. Dalam serangan ini, tidak tercatat ada korban dari pihak TNI, sementara militan TPNPB Jaringan Belau, Oni Kobogau, dan Agustia ditembak oleh aparat keamanan.[5] Pasukan keamanan Indonesia memberikan keterangan yang saling bertentangan: satu pernyataan menyatakan bahwa ketiganya tewas,[7] sementara pernyataan lain menyatakan bahwa Oni Kobogau dan Jaringan Belau terluka (dan Agustia tewas), atau hanya Jaringan Belau yang terluka (dan Agustia serta Oni Kobogau tewas).[8]
Militan TPNPB membakar empat rumah warga sipil di Desa Bilogai, Distrik Sugapa. Tidak ada korban jiwa yang tercatat.[9]
Batalyon Wabu TPNPB di bawah komando Yoswa Maisani menyerang sebuah pos TNI di Distrik Sugapa. Serangan tersebut berhasil dihalau oleh pasukan keamanan Indonesia, dan pertempuran berikutnya menewaskan militan TPNPB Melkias Matani dan Harisatu Nambagani.[8]
Akibat pertempuran tersebut, 500 warga sipil dari enam desa terpaksa mengungsi dan menjadi pengungsi internal.[10] Semua penerbangan ke daerah terpencil tersebut, termasuk penerbangan pengiriman bahan bakar, dihentikan sementara.[11]