Di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, masyarakat etnis Tionghoa mengadakan upacara budaya tahunan yang disebut Bakar Tongkang atau Go Gek Cap Lak. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati sejarah imigran Tionghoa pertama yang tiba di daerah tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada Dewa Kie Hu Ong Ya dan Dewa Tai Sun.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, masyarakat etnis Tionghoa mengadakan upacara budaya tahunan yang disebut Bakar Tongkang atau Go Gek Cap Lak. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati sejarah imigran Tionghoa pertama yang tiba di daerah tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada Dewa Kie Hu Ong Ya dan Dewa Tai Sun. [1]
Tradisi ini bermula ketika banyak orang Tiongkok melakukan migrasi besar-besaran pada tahun 1826 untuk mencari tempat tinggal baru. Menurut cerita lokal, para pendatang tersesat di lautan hingga mengikuti cahaya dari sekumpulan kunang-kunang yang membawa mereka ke daratan Bagansiapiapi. [2]
Tradisi ini bermula ketika banyak orang Tiongkok melakukan migrasi besar-besaran pada tahun 1826 untuk mencari tempat tinggal baru. Menurut cerita lokal, para pendatang tersesat di lautan hingga mengikuti cahaya dari sekumpulan kunang-kunang yang membawa mereka ke daratan Bagansiapiapi.[1]
Mereka membakar tongkang, atau kapal kayu, yang mereka tumpangi, sebagai tanda komitmen mereka untuk tinggal di sana selamanya dan tidak kembali ke tanah kelahiran mereka. Semangat "memutus jalan pulang" untuk membangun kehidupan baru di perantauan diwakili oleh tindakan ini.[2]
Ritual ini dilaksanakan setiap tanggal 15 dan 16 bulan kelima menurut kalender Imlek. Rangkaian acara meliputi[3]:
Selain aspek spiritual, Bakar Tongkang telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya takbenda Indonesia. Secara ekonomi, festival ini menjadi penggerak utama pariwisata di Rokan Hilir, yang mempertemukan ribuan diaspora Tionghoa dari berbagai negara serta wisatawan mancanegara, menjadikannya salah satu festival budaya terbesar di Provinsi Riau.