Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiBaju koko
Artikel Wikipedia

Baju koko

Baju koko adalah pakaian tradisional Tionghoa yang beradaptasi dengan budaya Indonesia. Baju koko merupakan model baju tradisional masyarakat Tionghoa secara turun temurun yang dikenal dengan nama Tui-Khim. Baju koko merupakan hasil perpaduan antara budaya Tionghoa dan Jawa.

Wikipedia article
Diperbarui 23 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Baju koko adalah pakaian tradisional Tionghoa yang beradaptasi dengan budaya Indonesia. Baju koko merupakan model baju tradisional masyarakat Tionghoa secara turun temurun yang dikenal dengan nama Tui-Khim. Baju koko merupakan hasil perpaduan antara budaya Tionghoa dan Jawa.[1][2][3][4]

Etimologi

Penelusuran mengenai asal-usul asal-usul istilah baju koko merujuk pada novel karya budayawan Remy Sylado berjudul Novel Pangeran Diponegoro: Menuju Sosok Khilafah. Dalam karyanya tersebut, Remy memaparkan bahwa sebutan baju koko berakar dari istilah baju Shi-Jui, yaitu pakaian mirip piyama yang dikenakan oleh masyarakat Tionghoa.[5]

Istilah baju koko berasal dari laki-laki Tionghoa memakai Tui-Khim dikenal sebagai "engkoh-engkoh" (panggilan untuk pria Tionghoa). Dalam bahasa Indonesia, panggilan tersebut berkembang menjadi koko, sehingga baju yang dikenakan disebut baju koko.[1]

Sejarah

Pada abad ke-5 Masehi, baju koko mulai mengalami transformasi akibat terpengaruh dari pakaian yang dikenakan orang Tionghoa yang tiba di Indonesia. Mereka yang mendarat di Pulau Jawa, mulai berdagang dengan memakai pakaian yang kemudian dikenal sebagai Tui-Khim. Laki-laki Tionghoa di Indonesia masih menggunakan kostum tui-khim dan celana komprang (longgar) untuk pakaian sehari-hari.

Seiring membaurnya orang Tionghoa dengan pribumi, pakaian Tui-Khim juga dipakai masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi mengenal baju tersebut dengan sebutan baju Tikim, yakni bukaan di tengah dengan lima kancing.[6][7] Umumnya, masyarakat Betawi memadukan baju tikim dengan celana batik.

Baju tui-khim lazim dikenakan oleh pria Tionghoa di Indonesia hingga awal abad ke-20. Setelah runtuhnya Dinasti Qing dan berdirinya organisasi Tiong Hoa Hwe Koan pada tahun 1911, pemakaiannya mulai menurun.[3] Namun, pada saat yang sama, masyarakat Muslim Indonesia justru mulai mengadopsi pakaian ini secara luas.

Baju koko juga berasal dari modifikasi dari baju tradisional Jawa, yaitu Surjan. Surjan merupakan salah satu pakaian adat Jawa yang khusus dipakai pria sehari-hari. Pakaian jenis ini bisa dipakai untuk menghadiri upacara-upacara resmi adat Jawa dengan dilengkapi blangkon dan bebetan. Surjan berasal dari kata Su dan ja, yaitu nglungsur wonten jaja (meluncur melalui dada), karena surjan punya panjang yang sama di bagian depan dan belakang.[1][3]

Menurut teori lain, baju koko dikaitkan dengan hasil kreasi Sunan Kalijaga dalam upayanya menyebarkan ajaran Islam. Pada mulanya, model pakaian surjan memiliki lengan pendek, namun Sunan Kalijaga dikisahkan memodifikasinya menjadi baju takwa dengan lengan panjang.[8] Pakaian tersebut disebut baju takwa karena penggunaannya berkaitan dengan kegiatan keagamaan.

Makna Filosofis

Baju koko dipandang memiliki nilai filosofi Islam dalam unsur desainnya. Rancangan awalnya memuat tiga kancing yang diartikan sebagai lambang Islam, Iman, dan Ihsan, sehingga memberikan makna simbolis pada pakaian tersebut.[8]

Dalam budaya Muslim Indonesia, baju koko juga dikenal sebagai baju takwa, sebutan yang merefleksikan kesalehan dan ketakwaan pemakainya.[8] Sehingga, baju koko tidak hanya berfungsi sebagai pakaian sehari-hari, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai keagamaan yang dihargai dalam masyarakat.

Peran budaya dan identitas

Perkembangan baju koko di Indonesia mencerminkan perpaduan budaya dan adaptasi mode yang dinamis. Walaupun baju koko pada awalnya tidak berasal dari tradisi berpakaian masyarakat Indonesia, baju koko kini identik dengan pakaian Muslim. Umumnya dikenakan saat beribadah, terutama di bulan Ramadan serta Perayaan Hari Raya Islam seperti Idulfitri dan Iduladha.

Baju koko mulai dikenakan oleh para tokoh Islam karena dianggap layak dan selaras dengan etika berpakaian dalam ajaran Muslim. Selain menutup aurat, bentuk baju ini pun tidak mencolok, sehingga cocok dikenakan di berbagai kegiatan keagamaan.[8]

Baju koko di Indonesia juga memiliki kemiripan dengan baju tagalog dari Filipina karena bentuknya yang serupa. Perbedaannya terutama terletak pada bahan yang digunakan. Baju tagalog lazimnya dibuat dari serat nanas yang bersifat tembus pandang, dilengkapi dengan bordir, serta dikenakan bersama kaus putih polos sebagai lapisan dalam[5].

Dalam budaya populer

Tidak hanya untuk ibadah, baju koko juga sering dikenakan dalam acara-acara formal, semi-formal, dan bahkan acara santai. Dengan desain yang semakin variatif, menciptakan model baju koko yang modern dan lebih memiliki gaya yang bervariasi. Tren baju koko meliputi penggunaan dekorasi batik pada bagian bawah kerah pada model yang polos. Pilihan warna yang beredar di pasaran juga cenderung menghindari warna hitam, dengan dominasi warna putih, abu-abu, serta berbagai warna pastel.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 Isnaeni, Hendri F. (23 Agustus 2010). "Koko Masuk Islam". Historia. Diakses tanggal 27 Februari 2025.
  2. ↑ Arieza, Ulfa (5 April 2024). "Begini Asal Nama Baju Koko, Apa Maknanya?". Kompas.com. Diakses tanggal 27 Februari 2025.
  3. 1 2 3 "Sejarah Baju Koko". Asumsi.co. Diakses tanggal 27 Februari 2025.
  4. ↑ Fahlevi, Mochamad Riza (29 Maret 2024). "Jejak Sejarah Baju Koko, Akulturasi Budaya Muslim Jawa-Tionghoa". SOC Lyfe. Diakses tanggal 27 Februari 2025.
  5. 1 2 3 "Baju Koko, Busana Muslim dari Arab atau Cina? Intip Sejarahnya". Tempo. 22 Mei 2018 | 15.20 WIB. Diakses tanggal 2026-02-15.
  6. ↑ Saman, Faizal (5 April 2024). "Asal-usul dan Sejarah Transformasi Baju Koko, Simbol Pakaian Muslim di Indonesia". hulondalo.id. Diakses tanggal 27 Februari 2025.
  7. ↑ Akantu, Budi (19 Maret 2024). "Kenapa Baju Koko Jadi Baju Muslim?, Begini Sejarahnya!". rri.co.id (Radio Republik Indonesia). Diakses tanggal 27 Februari 2025.
  8. 1 2 3 4 "Sejarah Baju Koko yang Terinspirasi dari Budaya Tionghoa". kumparan. Diakses tanggal 2026-02-15.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Etimologi
  2. Sejarah
  3. Makna Filosofis
  4. Peran budaya dan identitas
  5. Dalam budaya populer
  6. Referensi

Artikel Terkait

Pangsi

yakni nangtung, tangtung, dan samping. Banyak juga orang yang menyebut baju koko atau komprang dengan istilah pangsi karena warnanya yang hitam padahal

Busana tradisional Betawi

busana tradisional khas etnis Betawi

Koko

jatuh cinta juga kadang memanggil pasangan prianya sebagai "koko" atau "ako". Baju koko Koko Cici Jakarta 哥, Chinese-English Dictionary of the Vernacular

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026