Baju koko adalah pakaian tradisional Tionghoa yang beradaptasi dengan budaya Indonesia. Baju koko merupakan model baju tradisional masyarakat Tionghoa secara turun temurun yang dikenal dengan nama Tui-Khim. Baju koko merupakan hasil perpaduan antara budaya Tionghoa dan Jawa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Baju koko adalah pakaian tradisional Tionghoa yang beradaptasi dengan budaya Indonesia. Baju koko merupakan model baju tradisional masyarakat Tionghoa secara turun temurun yang dikenal dengan nama Tui-Khim. Baju koko merupakan hasil perpaduan antara budaya Tionghoa dan Jawa.[1][2][3][4]
Penelusuran mengenai asal-usul asal-usul istilah baju koko merujuk pada novel karya budayawan Remy Sylado berjudul Novel Pangeran Diponegoro: Menuju Sosok Khilafah. Dalam karyanya tersebut, Remy memaparkan bahwa sebutan baju koko berakar dari istilah baju Shi-Jui, yaitu pakaian mirip piyama yang dikenakan oleh masyarakat Tionghoa.[5]
Istilah baju koko berasal dari laki-laki Tionghoa memakai Tui-Khim dikenal sebagai "engkoh-engkoh" (panggilan untuk pria Tionghoa). Dalam bahasa Indonesia, panggilan tersebut berkembang menjadi koko, sehingga baju yang dikenakan disebut baju koko.[1]
Pada abad ke-5 Masehi, baju koko mulai mengalami transformasi akibat terpengaruh dari pakaian yang dikenakan orang Tionghoa yang tiba di Indonesia. Mereka yang mendarat di Pulau Jawa, mulai berdagang dengan memakai pakaian yang kemudian dikenal sebagai Tui-Khim. Laki-laki Tionghoa di Indonesia masih menggunakan kostum tui-khim dan celana komprang (longgar) untuk pakaian sehari-hari.
Seiring membaurnya orang Tionghoa dengan pribumi, pakaian Tui-Khim juga dipakai masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi mengenal baju tersebut dengan sebutan baju Tikim, yakni bukaan di tengah dengan lima kancing.[6][7] Umumnya, masyarakat Betawi memadukan baju tikim dengan celana batik.
Baju tui-khim lazim dikenakan oleh pria Tionghoa di Indonesia hingga awal abad ke-20. Setelah runtuhnya Dinasti Qing dan berdirinya organisasi Tiong Hoa Hwe Koan pada tahun 1911, pemakaiannya mulai menurun.[3] Namun, pada saat yang sama, masyarakat Muslim Indonesia justru mulai mengadopsi pakaian ini secara luas.
Baju koko juga berasal dari modifikasi dari baju tradisional Jawa, yaitu Surjan. Surjan merupakan salah satu pakaian adat Jawa yang khusus dipakai pria sehari-hari. Pakaian jenis ini bisa dipakai untuk menghadiri upacara-upacara resmi adat Jawa dengan dilengkapi blangkon dan bebetan. Surjan berasal dari kata Su dan ja, yaitu nglungsur wonten jaja (meluncur melalui dada), karena surjan punya panjang yang sama di bagian depan dan belakang.[1][3]
Menurut teori lain, baju koko dikaitkan dengan hasil kreasi Sunan Kalijaga dalam upayanya menyebarkan ajaran Islam. Pada mulanya, model pakaian surjan memiliki lengan pendek, namun Sunan Kalijaga dikisahkan memodifikasinya menjadi baju takwa dengan lengan panjang.[8] Pakaian tersebut disebut baju takwa karena penggunaannya berkaitan dengan kegiatan keagamaan.
Baju koko dipandang memiliki nilai filosofi Islam dalam unsur desainnya. Rancangan awalnya memuat tiga kancing yang diartikan sebagai lambang Islam, Iman, dan Ihsan, sehingga memberikan makna simbolis pada pakaian tersebut.[8]
Dalam budaya Muslim Indonesia, baju koko juga dikenal sebagai baju takwa, sebutan yang merefleksikan kesalehan dan ketakwaan pemakainya.[8] Sehingga, baju koko tidak hanya berfungsi sebagai pakaian sehari-hari, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai keagamaan yang dihargai dalam masyarakat.
Perkembangan baju koko di Indonesia mencerminkan perpaduan budaya dan adaptasi mode yang dinamis. Walaupun baju koko pada awalnya tidak berasal dari tradisi berpakaian masyarakat Indonesia, baju koko kini identik dengan pakaian Muslim. Umumnya dikenakan saat beribadah, terutama di bulan Ramadan serta Perayaan Hari Raya Islam seperti Idulfitri dan Iduladha.
Baju koko mulai dikenakan oleh para tokoh Islam karena dianggap layak dan selaras dengan etika berpakaian dalam ajaran Muslim. Selain menutup aurat, bentuk baju ini pun tidak mencolok, sehingga cocok dikenakan di berbagai kegiatan keagamaan.[8]
Baju koko di Indonesia juga memiliki kemiripan dengan baju tagalog dari Filipina karena bentuknya yang serupa. Perbedaannya terutama terletak pada bahan yang digunakan. Baju tagalog lazimnya dibuat dari serat nanas yang bersifat tembus pandang, dilengkapi dengan bordir, serta dikenakan bersama kaus putih polos sebagai lapisan dalam[5].
Tidak hanya untuk ibadah, baju koko juga sering dikenakan dalam acara-acara formal, semi-formal, dan bahkan acara santai. Dengan desain yang semakin variatif, menciptakan model baju koko yang modern dan lebih memiliki gaya yang bervariasi. Tren baju koko meliputi penggunaan dekorasi batik pada bagian bawah kerah pada model yang polos. Pilihan warna yang beredar di pasaran juga cenderung menghindari warna hitam, dengan dominasi warna putih, abu-abu, serta berbagai warna pastel.[5]