Atrofi Vagina terjadi ketika dinding vagina menjadi tipis, kering, dan meradang. Hal ini dapat terjadi ketika tubuh memproduksi lebih sedikit estrogen, seperti selama dan setelah menopause. Atrofi Vagina atau (atrofi vulvovaginal) adalah penipisan lapisan vagina dan kulit vulva, yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen pada masa menopause. Penurunan kadar estrogen juga memengaruhi jaringan kandung kemih, uretra, dan otot dasar panggul.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Maret 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
|
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. |
Atrofi Vagina terjadi ketika dinding vagina menjadi tipis, kering, dan meradang. Hal ini dapat terjadi ketika tubuh memproduksi lebih sedikit estrogen, seperti selama dan setelah menopause. [1] Atrofi Vagina atau (atrofi vulvovaginal) adalah penipisan lapisan vagina dan kulit vulva, yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen pada masa menopause. Penurunan kadar estrogen juga memengaruhi jaringan kandung kemih, uretra (tempat keluarnya air seni), dan otot dasar panggul.[2]
Kondisi ini beserta gejalanya disebut sindrom genitourinari menopause (GSM) akan merasakannya di vagina dan saluran kemih. mungkin mengalami. Vagina kering atau terbakar, Gatal pada alat kelamin, Keputihan yang tidak biasa, Lebih banyak infeksi jamur, Rasa terbakar saat buang air kecil, Sering ingin buang air kecil, Kesulitan menahan kencing (inkontinensia), Lebih banyak infeksi saluran kemi(ISK), Ketidaknyamanan atau pendarahan selama atau setelah berhubungan seks, Pelumasan alami berkurang saat berhubungan seks. Kekeringan biasanya merupakan tanda pertama. Banyak orang mengalaminya setelah menopause. Namun, mungkin pernah mengalaminya pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu masa yang disebut perimenopause . GSM umum terjadi: Hingga 40% orang setelah menopause mengalami gejala.[3]
Cara mengatasi Atrofi Vagina adalah berobat ke dokter. Pengobatan atrofi vagina umumnya melibatkan kolaborasi antar multidisiplin kedokteran, seperti dokter spesialis obstetri dan ginekologi, serta spesialis penyakit dalam. Pengobatan atrofi vagina bergantung pada gejala, penyebab, preferensi, harapan, dan kondisi penderita secara keseluruhan. Pengobatannya bertujuan untuk meredakan gejala, mengembalikan lingkungan vagina pada kondisi sebelum menopause yang sehat, dan memperbaiki kualitas hidup penderita.[4] Berikut cara mengobati atrofi vagina yang dipertimbangkan oleh dokter
Penderita akan menerima nasihat dari dokter terkait faktor risiko yang dapat memperberat dan mengurangi keluhan, pilihan pengobatan, aturan penggunaan obat, dan kemungkinan efek samping obat.
Penderita dianjurkan untuk mengendalikan berbagai faktor risiko, seperti Berhenti merokok, Melakukan aktivitas hubungan seksual secara aman dan teratur, sedapat mungkin menghindari penggunaan produk (sabun, bedak, deodoran, parfum, panty liner) dengan kandungan yang dapat mengiritasi, menggunakan pakaian yang longgar, menggunakan pelumas berbahan dasar air dan pelembap untuk mengatasi kekeringan vagina.
Mengingat penyebabnya adalah kadar estrogen yang menurun, maka terapi sulih hormon atau terapi penggantian hormon juga dianjurkan pada penderita atrofi vagina. Terapi hormon estrogen ini umumnya direkomendasikan pada penderita yang menopause. Terapi hormon estrogen dapat bersifat sistemik yang berefek ke seluruh tubuh atau bersifat lokal. Terapi ini diresepkan dalam bentuk pil, krim, cincin vagina, gel, plester, dan cairan semprot. Dokter akan menjelaskan dosis dan cara pemakaian terapi sesuai kebutuhan masing-masing individu.
Ospemifen merupakan modulator reseptor estrogen selektif (SERM) yang direkomendasikan untuk mengobati dispareunia pada atrofi vagina. Dokter akan menerangkan aturan penggunaan dan kemungkinan efek samping obat ini sebelum digunakan.
Prasteron (dehidroepiandrosteron/DHEA) digunakan untuk mengobati dispareunia sedang hingga berat pada penderita atrofi vagina dengan menopause.
Terapi laser membantu untuk menormalkan aliran darah dan mengembalikan kelembapan dan elastisitas vagina.
Dilator merupakan alat khusus yang dimasukkan ke dalam vagina dengan ukuran yang beragam. Penggunaan dilator vaginal berfungsi melebarkan vagina sehingga nyeri ketika berhubungan intim menjadi berkurang.[5]
Penyebab mendasar dari atrofi vagina adalah penurunan kadar estrogen, yang menjadi alasan mengapa kondisi ini paling sering menyerang wanita pascamenopause dan mereka yang berada dalam masa perimenopause. Penurunan kadar estrogen yang signifikan juga dapat terjadi akibat operasi pengangkatan ovarium, perawatan kanker, atau menyusui. Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko atrofi vagina, termasuk merokok, kurangnya aktivitas seksual, dan tidak adanya riwayat persalinan vagina pada pasien.[6]