Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Atrofi vagina

Atrofi Vagina terjadi ketika dinding vagina menjadi tipis, kering, dan meradang. Hal ini dapat terjadi ketika tubuh memproduksi lebih sedikit estrogen, seperti selama dan setelah menopause. Atrofi Vagina atau (atrofi vulvovaginal) adalah penipisan lapisan vagina dan kulit vulva, yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen pada masa menopause. Penurunan kadar estrogen juga memengaruhi jaringan kandung kemih, uretra, dan otot dasar panggul.

Wikipedia article
Diperbarui 26 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Maret 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
  • Lihat versi terjemahan mesin dari artikel bahasa Inggris.
  • Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia.
  • Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing.
  • Setelah menerjemahkan, {{Translated|en|Atrophic vaginitis}} harus ditambahkan di halaman pembicaraan untuk memastikan kesesuaian hak cipta.
  • Untuk panduan lebih lanjut, lihat Wikipedia:Panduan dalam menerjemahkan artikel.
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.

Atrofi Vagina terjadi ketika dinding vagina menjadi tipis, kering, dan meradang. Hal ini dapat terjadi ketika tubuh memproduksi lebih sedikit estrogen, seperti selama dan setelah menopause. [1] Atrofi Vagina atau (atrofi vulvovaginal) adalah penipisan lapisan vagina dan kulit vulva, yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen pada masa menopause. Penurunan kadar estrogen juga memengaruhi jaringan kandung kemih, uretra (tempat keluarnya air seni), dan otot dasar panggul.[2]

Gejala

Kondisi ini beserta gejalanya disebut sindrom genitourinari menopause (GSM) akan merasakannya di vagina dan saluran kemih. mungkin mengalami. Vagina kering atau terbakar, Gatal pada alat kelamin, Keputihan yang tidak biasa, Lebih banyak infeksi jamur, Rasa terbakar saat buang air kecil, Sering ingin buang air kecil, Kesulitan menahan kencing (inkontinensia), Lebih banyak infeksi saluran kemi(ISK), Ketidaknyamanan atau pendarahan selama atau setelah berhubungan seks, Pelumasan alami berkurang saat berhubungan seks. Kekeringan biasanya merupakan tanda pertama. Banyak orang mengalaminya setelah menopause. Namun, mungkin pernah mengalaminya pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu masa yang disebut perimenopause . GSM umum terjadi: Hingga 40% orang setelah menopause mengalami gejala.[3]

Pengobatan

Cara mengatasi Atrofi Vagina adalah berobat ke dokter. Pengobatan atrofi vagina umumnya melibatkan kolaborasi antar multidisiplin kedokteran, seperti dokter spesialis obstetri dan ginekologi, serta spesialis penyakit dalam. Pengobatan atrofi vagina bergantung pada gejala, penyebab, preferensi, harapan, dan kondisi penderita secara keseluruhan. Pengobatannya bertujuan untuk meredakan gejala, mengembalikan lingkungan vagina pada kondisi sebelum menopause yang sehat, dan memperbaiki kualitas hidup penderita.[4] Berikut cara mengobati atrofi vagina yang dipertimbangkan oleh dokter

Edukasi

Penderita akan menerima nasihat dari dokter terkait faktor risiko yang dapat memperberat dan mengurangi keluhan, pilihan pengobatan, aturan penggunaan obat, dan kemungkinan efek samping obat.

Penderita dianjurkan untuk mengendalikan berbagai faktor risiko, seperti Berhenti merokok, Melakukan aktivitas hubungan seksual secara aman dan teratur, sedapat mungkin menghindari penggunaan produk (sabun, bedak, deodoran, parfum, panty liner) dengan kandungan yang dapat mengiritasi, menggunakan pakaian yang longgar, menggunakan pelumas berbahan dasar air dan pelembap untuk mengatasi kekeringan vagina.


Terapi Sulih Hormon (Hormonal Replacement Therapy)

Mengingat penyebabnya adalah kadar estrogen yang menurun, maka terapi sulih hormon atau terapi penggantian hormon juga dianjurkan pada penderita atrofi vagina. Terapi hormon estrogen ini umumnya direkomendasikan pada penderita yang menopause. Terapi hormon estrogen dapat bersifat sistemik yang berefek ke seluruh tubuh atau bersifat lokal. Terapi ini diresepkan dalam bentuk pil, krim, cincin vagina, gel, plester, dan cairan semprot. Dokter akan menjelaskan dosis dan cara pemakaian terapi sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Ospemifen

Ospemifen merupakan modulator reseptor estrogen selektif (SERM) yang direkomendasikan untuk mengobati dispareunia pada atrofi vagina. Dokter akan menerangkan aturan penggunaan dan kemungkinan efek samping obat ini sebelum digunakan.

Prasteron

Prasteron (dehidroepiandrosteron/DHEA) digunakan untuk mengobati dispareunia sedang hingga berat pada penderita atrofi vagina dengan menopause.

Terapi Laser

Terapi laser membantu untuk menormalkan aliran darah dan mengembalikan kelembapan dan elastisitas vagina.

Dilator

Dilator merupakan alat khusus yang dimasukkan ke dalam vagina dengan ukuran yang beragam. Penggunaan dilator vaginal berfungsi melebarkan vagina sehingga nyeri ketika berhubungan intim menjadi berkurang.[5]

Faktor Risiko

Penyebab mendasar dari atrofi vagina adalah penurunan kadar estrogen, yang menjadi alasan mengapa kondisi ini paling sering menyerang wanita pascamenopause dan mereka yang berada dalam masa perimenopause.  Penurunan kadar estrogen yang signifikan  juga dapat terjadi akibat operasi pengangkatan ovarium, perawatan kanker, atau menyusui. Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko atrofi vagina, termasuk merokok, kurangnya aktivitas seksual, dan tidak adanya riwayat persalinan vagina pada pasien.[6]

Referensi

  1. ↑ Nelson, Angela. "What Is Vaginal Atrophy?". WebMD (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-03.
  2. ↑ "Vaginal atrophy". Jean Hailes (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 2025-03-03.
  3. ↑ Nelson, Angela. "What Is Vaginal Atrophy?". WebMD (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-03.
  4. ↑ Lestari, dr Marsita Ayu. "Atrofi Vagina". www.klikdokter.com. Diakses tanggal 2025-03-03.
  5. ↑ Lestari, dr Marsita Ayu. "Atrofi Vagina". www.klikdokter.com. Diakses tanggal 2025-03-03.
  6. ↑ rladmin (2017-01-20). "What are the symptoms, causes, and treatments of vaginal atrophy?". Urology Associates P.C. (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-03.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Gejala
  2. Pengobatan
  3. Edukasi
  4. Terapi Sulih Hormon (Hormonal Replacement Therapy)
  5. Ospemifen
  6. Prasteron
  7. Terapi Laser
  8. Dilator
  9. Faktor Risiko
  10. Referensi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026