Asosiasionisme merupakan gagasan yang menyatakan bahwa proses mental beroperasi dengan asosiasi satu keadaan mental dengan keadaan penerusnya. Hal ini berarti seluruh proses mental terdiri dari unsur-unsur psikologis diskrit dan kombinasinya yang diyakini terdiri dari sensasi atau perasaan sederhana. Dalam filsafat, gagasan ini dipandang sebagai hasil empirisme dan sensasionisme. Konsep tersebut mencakup teori psikologi serta landasan filosofis dan metodologi ilmiah yang komprehensif. Selain itu, asosiasionisme adalah aliran yang banyak menekankan pada hukum–hukum asosiasi untuk menerangkan berbagai gejala kejiwaan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Asosiasionisme merupakan gagasan yang menyatakan bahwa proses mental beroperasi dengan asosiasi satu keadaan mental dengan keadaan penerusnya.[1] Hal ini berarti seluruh proses mental terdiri dari unsur-unsur psikologis diskrit dan kombinasinya yang diyakini terdiri dari sensasi atau perasaan sederhana.[2] Dalam filsafat, gagasan ini dipandang sebagai hasil empirisme dan sensasionisme.[3] Konsep tersebut mencakup teori psikologi serta landasan filosofis dan metodologi ilmiah yang komprehensif.[2] Selain itu, asosiasionisme adalah aliran yang banyak menekankan pada hukum–hukum asosiasi untuk menerangkan berbagai gejala kejiwaan.[butuh rujukan]
Aliran ini dapat di bagi menjadi dua bagian yakni ssosiasionisme lama dan asosiasionisme baru atau neo-asosiasionisme. Asosiasionisme lama sudah berkembang sejak Aristoteles mengemukakan hukum–hukum terjadinya asosiasi yaitu kesamaan (simiarity), perlawanan (contrast), dan kedekatan (contiguity). Salah satu tokoh asosiasionisme lama antara lain Thomas Hobbes.[4]