Artemisia princeps merupakan tanaman asal Asia dari keluarga bunga matahari, yang tersebar di Tiongkok, Jepang, dan Korea. Tanaman tahunan yang sangat kuat ini dapat tumbuh hingga sekitar 1,2 meter dan berkembang biak dengan cepat melalui stolon bawah tanah, sehingga berpotensi menjadi invasif. Bunganya kecil berwarna krem dan muncul dari bulan Juli hingga November. Tanaman ini bersifat hermafrodit serta diserbuki oleh angin. Daunnya berwarna hijau muda, berbentuk menyirip dan bergerigi, dengan permukaan bawah yang ditutupi bulu putih tebal.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Artemisia princeps | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Asteridae |
| Ordo: | Asterales |
| Famili: | Asteraceae |
| Genus: | Artemisia |
| Spesies: | A. princeps |
| Nama binomial | |
| Artemisia princeps | |
| Sinonim[1] | |
| |
Artemisia princeps merupakan tanaman asal Asia dari keluarga bunga matahari, yang tersebar di Tiongkok, Jepang, dan Korea.[2][3] Tanaman tahunan yang sangat kuat ini dapat tumbuh hingga sekitar 1,2 meter (3 kaki 11 inci) dan berkembang biak dengan cepat melalui stolon bawah tanah, sehingga berpotensi menjadi invasif. Bunganya kecil berwarna krem dan muncul dari bulan Juli hingga November. Tanaman ini bersifat hermafrodit serta diserbuki oleh angin. Daunnya berwarna hijau muda, berbentuk menyirip dan bergerigi, dengan permukaan bawah yang ditutupi bulu putih tebal.[4]
Artemisia princeps merupakan spesies yang berasal dari Tiongkok, Jepang, dan Korea. Tanaman ini juga telah diperkenalkan ke wilayah Eropa seperti Belgia dan Belanda.[5] Ia dapat tumbuh di berbagai jenis habitat, termasuk di tepi jalan, lereng bukit, lembah, serta sepanjang tepi sungai.[6]
Di Jepang, tanaman ini dimanfaatkan sebagai bumbu untuk berbagai olahan seperti pangsit beras ketan yang dikenal sebagai kusa mochi (草餅) atau yomogi mochi (蓬餅), serta pangsit tepung beras yang disebut kusa dango (草団子). Daun mudanya biasanya direbus sebentar, lalu ditumbuk dan dicampurkan untuk memberi warna, aroma, dan rasa yang khas. Karena penggunaannya dalam pembuatan moci, tanaman ini juga dikenal dengan nama mochigusa (餅草), meskipun istilah mogusa digunakan saat merujuk pada pemakaiannya dalam praktik mokushibusi.[7] Tanaman ini juga dibudidayakan di Hawaii, di mana masyarakat keturunan Jepang menggunakannya untuk membuat mochi herbal.[8] Selain itu, daun tanaman ini terkadang direbus dan ditambahkan ke dalam sup atau nasi dalam masakan Jepang.[9][10]
Dalam bahasa Korea, tanaman ini dikenal sebagai ssuk (쑥) dan memiliki peran penting baik dalam masakan Korea maupun pengobatan tradisional.[3] Pada musim semi, ketika daun mudanya dipanen, ssuk digunakan untuk membuat berbagai hidangan gurih seperti jeon (panekuk khas Korea), ssuk kimchi (쑥김치), dan ssukguk (쑥국), yaitu sup yang menggunakan daun tanaman ini sebagai bahan utama. Namun, penggunaan yang paling umum adalah sebagai bahan dalam berbagai jenis tteok (kue beras), baik menggunakan daun segar maupun bubuk daun kering. Saat ini, ssuk juga banyak digunakan dalam makanan dan minuman modern, seperti es krim, roti, kue, teh aspintus (ssukcha, 쑥차), dan ssuk latte (쑥라떼), untuk memberikan cita rasa dan warna yang khas.[11]