Armada Pasifik Britania merupakan formasi militer Angkatan Laut Britania Raya yang melancarkan aksi terhadap Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Armada tersebut terdiri atas kapal laut Persemakmuran. Secara resmi, Armada Pasifik Britania dibentuk pada tanggal 22 November 1944 dari sisa-sisa kapal Armada Timur yang kemudian dinamai ulang sebagai Armada Hindia Timur yang terus bermarkas di Trikuṇāmaḷaya. Markas utama Armada Pasifik Britania ada di Sydney, Australia, dengan markas muka di Manus Island. Sebagai salah satu armada terbesar yang pernah disusun oleh AL Britania Raya, dari Hari Kemenangan atas Jepang, armada tersebut terdiri atas 200 kapal dan kapal selam dan lebih dari 750 pesawat, termasuk 4 kapal tempur dan 6 kapal induk armada, 15 kapal pembawa pesawat kecil, 11 kapal penjelajah, dan sejumlah kapal perang, kapal selam, dan kapal pendukung yang lebih kecil. Armada tersebut ikut serta dalam Pertempuran Okinawa dan penyerangan laut terakhir atas Jepang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini perlu diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. |
| Armada Pasifik Britania | |
|---|---|
5 dari 6 kapal pengangkut armada milik Armada Pasifik Britania sekitar tahun 1945 | |
| Aktif | 1944–1945 |
| Negara | |
| Cabang | Angkatan Laut Britania Raya juga: Angkatan Laut Kerajaan Australia Angkatan Laut Kerajaan Kanada Angkatan Laut Kerajaan Selandia Baru |
| Tipe unit | Armada laut |
| Pertempuran | |
| Tokoh | |
| Tokoh berjasa | Bruce Austin Fraser |
Armada Pasifik Britania (bahasa Inggris: British Pacific Fleet/BPFcode: en is deprecated ) merupakan formasi militer Angkatan Laut Britania Raya yang melancarkan aksi terhadap Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Armada tersebut terdiri atas kapal laut Persemakmuran. Secara resmi, Armada Pasifik Britania dibentuk pada tanggal 22 November 1944 dari sisa-sisa kapal Armada Timur yang kemudian dinamai ulang sebagai Armada Hindia Timur yang terus bermarkas di Trikuṇāmaḷaya.[1] Markas utama Armada Pasifik Britania ada di Sydney, Australia, dengan markas muka di Manus Island. Sebagai salah satu armada terbesar yang pernah disusun oleh AL Britania Raya, dari Hari Kemenangan atas Jepang, armada tersebut terdiri atas 200 kapal dan kapal selam dan lebih dari 750 pesawat, termasuk 4 kapal tempur dan 6 kapal induk armada, 15 kapal pembawa pesawat kecil, 11 kapal penjelajah, dan sejumlah kapal perang, kapal selam, dan kapal pendukung yang lebih kecil. Armada tersebut ikut serta dalam Pertempuran Okinawa dan penyerangan laut terakhir atas Jepang.
Setelah penarikan mundur ke sisi barat Samudra Hindia pada tahun 1942, AL Britania Raya tidak kembali ke palagan Pasifik Selatan hingga tanggal 17 Mei 1944, ketika angkatan tugas induk Inggris-Amerika melancarkan Operasi Transom, serangan bersama di Surabaya, Jawa.
Amerika Serikat sedang membebaskan wilayah Britania di Pasifik dan memperluas pengaruhnya. Sehingga, hal tersebut dipandang sebagai bentuk perintah politik dan militer oleh Pemerintah Britania Raya untuk mengembalikan kehadiran Britania Raya di kawasan tersebut dan menyebarkan angkatan Britania melawan Jepang. Pemerintah Britania Tmemutuskan bahwa wilayahnya seperti Hong Kong, harus diambil kembali oleh angkatan Britania.
Pemerintah Britania Raya awalnya tidak sepakat pada komitmen Armada Pasifik Britania. Winston Leonard Spencer Churchill, khususnya, menentangnya, tidak ingin menjadi mitra yang terlihat baru dalam pertempuran yang sepenuhnya dilakukan AS. Winston Churchill juga menganggap bahwa keberadaan Britania tidak disambut baik dan harus dipusatkan di Burma (kini Myanmar) dan Malaya Britania. Perencana AL, didukung oleh Ketua Staf, percaya bahwa komitmen seperti itu akan memperkuat pengaruh Britania dan Ketua Staf Britania mempertimbangkan pengunduran diri massal, dan mempertahankan pendapatnya dengan kuat.[2]
Kantor Angkatan Laut telah mengajukan peranan Britania di Samudra Pasifik pada awal tahun 1944, namun tanggapan awal AL AS sudah berkecil hati. Laksamana Ernest Joseph King, Panglima Tertinggi Armada Amerika Serikat dan Kepala Staf AL AS, enggan mengakui peranan seperti itu dan menunjukkan sejumlah keberatan, dan bersikukuh bahwa Armada Pasifik Britania harus dapat berdiri sendiri. Hal tersebut akhirnya diatasi atau diabaikan dan pada sebuah pertemuan, Presiden AS Franklin Delano Roosevelt "campur tangan dengan mengatakan bahwa Armada Britania tidak segera ditawari daripada diterima. Dalam hal ini, meskipun kenyataannya tidak disebutkan, Franklin D. Roosevelt mengesampingkan pendapat Laks. King."[3]
Pemerintah Australia telah meminta bantuan militer AS pada tahun 1942, ketika dihadapkan pada kemungkinan serangan Jepang. Di saat memberi sumbangan yang bermakna pada Perang Pasifik, Australia tidak pernah menjadi mitra sejajar dengan rekannya AS dalam hal strategi. Terbukti bahwa kehadiran Britania akan menjadi pengaruh imbangan pada kehadiran AS yang kuat dan meningkat di Pasifik.[4]
Armada tersebut dibentuk ketika Laksamana Sir Bruce Austin Fraser menurunkan benderanya di Trincomalee sebagai Panglima Tertinggi Armada Timur dan mengibarkannya di kapal bermeriam missing name sebagai Panglima Tertinggi Armada Pasifik Britania. Ia kemudian memindahkan benderanya ke kapal yang lebih cocok, kapal tempur HMS Howe.
Armada Timur didirikan di Sailan (kini Sri Lanka), dan diorganisasi ulang ke dalam Armada Hindia Timur Britania, yang kemudian menjadi Armada Pasifik Britania (BPF). BPF beroperasi dengan sasaran di Sumatra, mendapat pengalaman hingga awal tahun 1945, ketika kapal itu bertolak dari Trikunamalaya ke Sydney.
Royal Navy menyediakan sebagian besar kapal armada tersebut dan semua kapal utama, namun unsur dan personelnya termasuk sumbangan dari Royal Fleet Auxiliary (RFA), sebagaimana negara-negara Persemakmuran, termasuk Royal Australian Navy (RAN), Royal Canadian Navy (RCN), dan Royal New Zealand Navy (RNZN). Dengan kapal besarnya yang tergabung dengan formasi Angkatan Laut Amerika Serikat (USN) sejak tahun 1942, peranan RAN pun terbatas. Sejumlah besar penerbang AL adalah orang Selandia Baru dan Kanada. United States Navy juga turut berperan di BPF, begitupun personel dari Angkatan Laut Afrika Selatan (SAN). Sarana pelabuhan di Australia dan Selandia Baru juga berperan penting dalam mendukung Armada Pasifik Britania.
Selama PD II, armada tersebut dipimpin oleh Laks. Sir Bruce Fraser. Dalam prakteknya, komando armada dalam tugas dilimpahkan kepada Laksamana Muda Sir Henry Bernard Hughes Rawlings, dengan LaksDa Sir Philip Louis Vian yang bertanggung jawab pada operasi udara oleh Fleet Air Arm (FAA) dari AL Kerajaan Britania Raya. Ujung pertempuran armada tersebut disebut sebagai Task Force 37 maupun 57 dan Fleet Train adalah Task Force 113. Skuadron Kapal Induk ke-1 menjadi formasi kapal induk utama.
No. 300 Wing RAF didirikan di Australia pada akhir tahun 1944 untuk menerbangkan pesawat transpor untuk mendukung BPF, dan di bawah komando langsung oleh Fraser. Sayap tersebut dikembangkan menjadi 1 grup pada tahun 1945 dan melakukan penerbangan reguler dari Sydney ke pangkalan terdepan armada tersebut.




Armada tersebut terdiri atas 6 kapal induk armada, 4 kapal induk ringan, 2 kapal induk perawatan pesawat, dan 9 kapal induk kawal, dengan keseluruhan lebih dari 750 pesawat, 4 kapal tempur, 11 kapal penjelajah, 35 kapal perusak, 14 fregat, 44 kapal perang kecil, 31 kapal selam, dan 54 kapal besar dalam kereta api armada.
|
|
|
Sumber: Smith, Task Force 57, hal. 178–184
| No. skuadron | Jenis pesawat | Kapal | Tanggal | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| 801 | Seafire L.III | Implacable | Mei 1945 dan seterusnya | Bagian Kelompok Udara Induk ke-8. Skuadron tersebut bergabung dengan Armada Pasifik Britania pada bulan Mei 1945 sebagai bagian dari Kelompok Udara Induk ke-8 yang mengawal serangan ke Truk dan menjadikan Jepang sasaran hingga telah Hari Kemenangan atas Jepang.[10] |
| 812 | Barracuda II | Vengeance | Juli 1945 dan seterusnya | Di laut pada Hari Kemenangan atas Jepang dalam perjalanan ke Taiwan, sebagai bagian dari Kelompok Tugas 111.2, Skuadron Induk Pesawat ke-11, beralih menuju Hong Kong dan tiba pada tanggal 29 Agustus. |
| 814 | Barracuda II | Venerable | Juni 1945 dan seterusnya | Kelompok Udara Induk ke-15, tidak ada aksi |
| 820 | Avenger I | Indefatigable | Bertolak pada bulan November 1944 dengan 849 skuadron, dan turut serta | Dengan Sayap Serangan no. 2 untuk serangan atas kilang minyak di Palembang, Sumatra, dan Kepulauan Sakashima Gunto; dari bulan Juni 1945 dengan Kelompok Udara Induk ke-7 untuk serangan di sekitar Tokyo |
| 827 | Barracuda II | Colossus | Bertolak untuk Armada Pasifik Britania pada bulan Januari 1945 | Beroperasi di Samudra Hindia dari bulan Juni 1945 hingga Hari Kemenangan atas Jepang (dinas Armada Pasifik Britania tidak jelas) |
| 828 | Barracuda I, II & III Avenger II |
Implacable | Dari bulan Juni 1945 | Bagian Kelompok Udara Induk ke-8, terlibat dalam serangan di Truk (kini Chuuk, Mikronesia) dan Jepang |
| 837 | Barracuda II | Glory | Bertolak pada bulan April 1945 | Bagian Kelompok Udara Induk ke-16 namun tidak berperang sebelum Hari Kemenangan atas Jepang; melindungi penyerahan Jepang di Rabaul |
| 848 | Avenger I | Formidable | April 1945 dan seterusnya | Ikut serta dalam serangan terhadap pangkalan udara dan sasaran pesisir Pulau Sakishima Gunto dan Formosa; pada awal bulan Juni 1945 bergabung dengan Kelompok Udara Angkatan Laut ke-2 untuk serangan di Jepang pada bulan Juli |
| 849 | Avenger I & II | Victorious | Desember 1944 dan seterusnya | Bagian Sayap Serangan Laut no. 2 untuk serangan di kilang minyak Pangkalan Brandan dan Palembang, Sumatra pada bulan Januari 1945; serangan di Kepulauan Sakashima Gunto dan Formosa, serangan dekat Tokyo pada bulan Juli 1945, ketika pesawat 849 melancarkan serangan bom pertama pada kapal induk Kaiyō. |
| 854 | Avenger I, II & III | Illustrious | Desember 1944 dan seterusnya | Ikut serta dalam penyerangan di Belawan dan Palembang; kemudian ikut serta dalam serangan di Kepulauan Sakishima Gunto; pada bulan Juli 1945 bergabung dengan Kelompok Udara Induk ke-3 dan tidak ada aksi lanjutan. |
| 857 | Avenger I & II | Indomitable | November 1944 dan seterusnya | Ikut dalam serangan ke Belawan, Pangkalan Brandan, dan Palembang pada bulan Desember 1944 dan Januari 1945; serangan berkelanjutan 2 bulan kemudian di Kepulauan Sakishima Gunto dan Formosa; tidak ada aksi lanjutan sebelum Hari Kemenangan atas Jepang, namun kemudian bertempur dengan perahu bunuh diri Jepang pada tanggal 31 Agustus dan 1 September 1945 dekat Hong Kong |
| 880 | Seafire L.III | Implacable | Bertolak pada bulan Maret 1945 | Mengawal serangan di Pulau Truk pada bulan Juni 1945; pada akhir bulan tersebut bergabung dalam Kelompok Udara Induk ke-8; bergabung dalam serangan di Jepang. |
| 885 | Hellcat I & II | Ruler | Bertolak pada bulan Desember 1944 | Memberikan perlindungan tempur untuk armada; pesawat dilengkapi ulang pada bulan Juni 1945, namun tidak ikut aksi lagi sebelum Hari Kemenangan atas Jepang |
| 887 | Seafire F.III & L.III | Indefatigable | Bertolak pada bulan November 1944 | Ikut serta dalam serangan atas kilang minyak di Palembang, Sumatra pada bulan Januari 1945; serangan di Kepulauan Sakashima Gunto; serangan di sekitar Tokyo tepat sebelum Hari Kemenangan atas Jepang |
| 888 | Hellcat | Indefatigable | Hingga bulan Januari 1945 | Operasi militer di Sumatra, kemudian tetap di Sailan (kini Sri Lanka) ketika Armada Pasifik Britania bertolak |
| 894 | Seafire L.III | Indefatigable | Bertolak pada bulan November 1944 | Ikut serta dalam operasi terhadap kilang minyak Palembang di Sumatra, Januari 1945; pada bulan Maret dan April 1945 menyerang sasaran di Kepulauan Sakishima Gunto, dan kemudian menyerang daratan Jepang tepat sebelum Hari Kemenangan atas Jepang. |
| 899 | Seafire L.III | Kelompok Seafire | Menaiki HMS Chaser pada bulan Februari 1945 | Skuadron Pelatihan Operasional, ada di HMS Arbiter di Hari Kemenangan atas Jepang[11] |
| 1770 | Firefly | Indefatigable | Bertolak menaiki HMS Indefatigable | Pada bulan November 1944, skuadron tersebut menumpangi HMS Indefatigable ke Timur Jauh, lalu ikut serta dalam penyerangan kilang minyak di Palembang, Sumatra pada bulan Januari 1945. Kemudian skuadron ini terlibat dalam serangan atas Kepulauan Sakashima Gunto dan Formosa.[12] |
| 1771 | Firefly | Implacable | Maret-September 1945 | Naik lagi sebagai bagian dari Kelompok Udara Induk ke-8 yang ikut serta dalam penyerangan ke Truk pada bulan Juni 1945, dan kemudian serangan ke daratan Jepang.[13] |
| 1772 | Firefly | Indefatigable | Juli 1945 hingga Hari Kemenangan atas Jepang | Serangan atas daratan Jepang.[14] |
| 1790 | Firefly NF | Vindex | Dari bulan Agustus 1945 | Tidak di daerah operasional sebelum Hari Kemenangan atas Jepang[15] |
| 1830 | Corsair | Illustrious | Desember 1943 | Bagian dari Sayap Tempur Laut ke-5, berlayar pada bulan Januari 1944 ke Sailan untuk Armada Timur. Penyisiran pada bulan Maret 1944 dilancarkan di Teluk Benggala, pada bulan April 1944, menyerang prasarana pantai musuh di Sabang, dan pada bulan Mei 1944, dilakukan operasi di Surabaya. Pada bulan Juni 1944, menuntaskan penyerangan di Kepulauan Andaman, dan pada bulan Juli, melancarkan operasi atas Sabang. Kemudian, pada bulan Agustus 1944, kapal tersebut berlayar ke Durban untuk diperlengkapi lagi, skuadron mendarat di Wingfield dan ditempatkan di sana bulan Oktober 1944, meningkat memiliki 18 pesawat. Pada bulan Desember 1944-Januari 1945, skuadron tersebut turut serta dalam penyerangan kilang minyak Palembang di Sumatra, yang setelahnya, kapal itu bergabung dengan Armada Pasifik Britania. Pada bulan Maret-April 1945, menuntaskan operasi penyerangan Kepulauan Sakishima Gunto, tetapi setelah rusak oleh kamikaze Jepang, kapal tersebut kembali dengan 1830 skuadron ke Britania Raya. Skuadron dibubarkan pada bulan Juli 1945.[16] |
| 1831 | Corsair | Glory | Juni 1945 | Tidak ada aksi.[17] |
| 1833 | Corsair | Illustrious | Maret 1944 | Pada bulan Maret 1944, dilakukan penyisiran di Teluk Benggala, pada bulan April 1944, prasarana pantai musuh di Sabang diserang, dan pada bulan Mei 1944, dilakukan operasi di Surabaya. Pada bulan Juni 1944, menuntaskan penyerangan atas Kepulauan Andaman, dan pada bulan Juli, operasi dilakukan di Sabang. Kemudian, pada bulan Agustus 1944, kapal tersebut berlayar ke Durban untuk diperlengkapi ulang, skuadron mendarat di Wingfield dan ditempatkan di sana hingga bulan Oktober 1944, meningkat memiliki 18 pesawat. Pada bulan Desember 1944-Januari 1945, skuadron tersebut turut sertad dalam penyerangan ke kilang minyak Palembang di Sumatra, yang setelahnya, kapal bergabung dengan Armada Pasifik Britania. Pada bulan Maret-April 1945, dituntaskanlah operasi yang menyerang Kepulauan Sakishima Gunto, tetapi setelah rusak oleh kamikaze Jepang, kapal tersebut kembali ke Britania Raya dengan anak buah pesawat skuadron 1833 tanpa pesawatnya dan dibubarkan pada bulan Juli 1945.[18] |
| 1834 | Corsair | Victorious | Agustus 1944 | Skuadron tersebut turut serta dalam serangkaian penyerbuan di Sumatra, termasuk kilang minyak Palembang pada bulan Januari 1945. Kemudian, kapal itu bergabung dengan Armada Pasifik Britania dan memulai serangan atas Kepulauan Sakishima Gunto antara bulan Maret-Mei 1945. Pada bulan Juni 1945, skuadron tersebut bergabung dengan Kelompok Udara Induk ke-1 di Schofields, dan menumpangi HMS Victorious untuk serangkaian serangan di daratan utama Jepang sekitar wilayah Tokyo.[19] |
| 1836 | Corsair | Victorious | Juli 1944 hingga Hari Kemenangan atas Jepang | Pada bulan Juli 1944 skuadron tersebut menyerang fasilitas penyimpanan minyak dan pangkalan udara di Sabang, Pulau Weh. Operasi berlanjut di daerah tersebut hingga bulan Januari 1945 dengan penyerangan prasarana perminyakan di Palembang, Sumatra. Skuadron ini kemudian terlibat dalam serangan di Kepulauan Sakashima Gunto, dan kemudian bergabung dengan Kelompok Udara Induk ke-1. Belakangan, skuadron itu bertolak kembali dengan HMS Victorious pada bulan yang sama untuk serangan pada bulan Juli 1945 terhadap daratan Jepang dekat Tokyo hingga Hari Kemenangan atas Jepang.[20] |
| 1839 | Hellcat | Indomitable | Juli 1944 hingga Juni 1945 | Pada bulan Juli 1944, skuadron tersebut menaiki HMS Indomitable, memberikan perlindungan selama serangan di Sumatra. Pada bulan Desember 1944 dan Januari 1945, skuadron tersebut turut serta dalam penyerangan ke kilang minyak di Palembang, dan dengan kapal itu bergabung dengan Armada Pasifik Britania Raya untuk menyerang Kepulauan Sakishima Gunto. Pada tanggal 24 Januari 1945, Sub-Lt. RF. Mackie RNZN dari Skuadron 1839 yang menerbangkan Hellcat JV141 "116/W" menembak jatuh pesawat Ki44 milik Jepang di Palembang. Pada bulan April 1945, skuadron tersebut memasukkan Skuadron 1840,dan kemudian Sayap Tempur Udara ke-5 dibubarkan untuk membentuk Kelompok Udara Kapal Induk ke-11 pada bulan Juni 1945. Pada awal bulan Agustus, bertolak dengan menaiki HMS Indomitable, tetapi tidak ada aksi sebelum Hari Kemenangan atas Jepang.[21] |
| 1840 | Hellcat | Speaker | Desember 1944 | Skuadron ini bergabung dengan Sayap Tempur Udara ke-3 di Eglington, dan kemudian bertolak dengan HMS Speaker ke Pasifik pada bulan Desember 1944, dan memberikan perlindungan tempur bagi kereta api Armada Pasifik Britania Raya, namun digabungkan ke Skuadron 1839 dan dibubarkan pada bulan April 1945.[22] |
| 1841 | Corsair | Formidable | Desember 1944 | Bertolak dengan HMS Speaker ke Samudra Pasifik, dan memberikan perlindungan tempur bagi KA Armada Pasifik Britania Raya, namun digabungkan ke dalam Skuadron 1839 dan dibubarkan pada bulan April 1945.[23] |
| 1842 | Corsair | Formidable | September 1944 | Pada bulan Maret 1945, skuadron tersebut dilengkapi ulang dengan Corsair IV. Pada bulan April dan May 1945, skuadron tersebut turut serta dalam operasi ke Kepulauan Sakishimo Gunto, dan pada 6 Juni, Sayap Tempur Angkatan Laut bergabung dengan Kelompok Udara Kapal Induk ke-2. Segera sebelum Hari Kemenangan atas Jepang, skuadron itu terlibat dalam serangan ke daratan utama Jepang dekat Tōkyō, 2 pesawat hilang, tetapi anak buah pesawat diselamatkan oleh kapal selam Amerika Serikat.[24] |
| 1844 | Hellcat | Indomitable | Oktober 1944 | Dari bulan Oktober hingga Desember 1944 menghabiskan waktu di pantai Teluk Cina, skuadron tersebut bertolak kembali dengan HMS Indomitable untuk serangan ke instalasi perminyakan di Belawan Deli, Sumatra, dan pada bulan Januari 1945, target lapangan udara dan pantai di Pangkalan Brandan dan juga kilang minyak di Palembang pun diserang. Kapal tersebut kemudian berlayar ke Australia, dan skuadron itu mendarat di Nowra, lalu dilengkapi ulang dengan 18 Hellcat IIs. Saat bertolak kembali, skuadron tersebut turut serta dalam penyerbuan ke Kepulauan Sakishima Gunto dan Formosa. Operasi lanjutan yang direncanakan pada bulan Agustus 1945 ditunda karena Hari Kemenangan atas Jepang.[25] |
| 1846 | Corsair | Colossus | September 1944 | Skuadron tersebut bergabung dengan Sayap Tempur Angkatan Laut ke-6, berlayar dengan HMS Formidable ke Timur Jauh, detasemen tersebut mendarat di North Front, Gibraltar, Dekhelia dan Kolamba hingga bulan Januari 1945, bertolak kembali dengan HMS Formidable pada pertengahan bulan dan tiba di Puttalam pada bulan Februari 1945. Pada bulan Maret 1945, skuadron itu dilengkapi ulang dengan Corsair IV. Pada bulan April dan Mei 1945, skuadron tersebut turut serta dalam operasi di Kepulauan Sakishimo Gunto, dan pada tanggal 6 Juni, Sayap Tempur Angkatan Laut bergabung dengan Kelompok Udara Kapal Induk ke-2.
Tak lama sebelum Hari Kemenangan atas Jepang, skuadron tersebut terlibat dalam serangan ke daratan utama Jepang dekat Tokyo, 2 pesawat hilang, namun anak buah pesawatnya diselamatkan oleh kapal selam AS. Kapal tersebut kemudian bertolak ke Australia. Skuadron tersebut mendarat sementara di Pulau Ponam tepat setelah Hari Kemenangan atas Jepang, bertolak kembali ke Nowra di hari berikutnya dan selanjutnya ke Britania Raya dengan HMS Victorious.[26] |
| 1850 | Corsair | Vengeance | Juli 1945 dan seterusnya | Di laut pada Hari Kemenangan atas Jepang dalam perjalanan ke Taiwan, sebagai bagian dari Kelompok Tugas (TG) 111.2, Skuadron Kapal Induk Pesawat Udara ke-11, beralih ke Hong Kong dan tiba pada tanggal 29 Agustus.[27] |
| 1851 | Corsair | Venerable | Maret 1945 | Bagian dari Kelompok Udara Kapal Induk ke-15, tidak ada aksi.[28] |