Anak Sima adalah salah satu tokoh dalam cerita rakyat Kalimantan Selatan yang digambarkan sebagai hantu berwujud bayi. Menurut tradisi lisan masyarakat setempat, Anak Sima sering dikaitkan dengan penampakan bayi yang menangis di tengah hutan atau daerah terpencil, dan dalam beberapa versi cerita dianggap memiliki sifat yang mengganggu atau membahayakan manusia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Anak Sima adalah salah satu tokoh dalam cerita rakyat Kalimantan Selatan yang digambarkan sebagai hantu berwujud bayi. Menurut tradisi lisan masyarakat setempat, Anak Sima sering dikaitkan dengan penampakan bayi yang menangis di tengah hutan atau daerah terpencil, dan dalam beberapa versi cerita dianggap memiliki sifat yang mengganggu atau membahayakan manusia.[1]
Anak Sima termasuk bagian dari khazanah mitos hantu di Kalimantan Selatan yang masih hidup dalam ingatan masyarakat, meskipun ceritanya lebih banyak beredar secara turun-temurun daripada tercatat secara resmi.[1]
Cerita tentang Anak Sima biasanya menggambarkan sosok bayi yang ditinggalkan atau meninggal dalam keadaan tragis. Dalam beberapa versi, ia digambarkan sebagai bayi yang memangsa jantung manusia untuk bertahan hidup atau membalas dendam. Masyarakat lokal sering menyebutnya sebagai hantu yang muncul di malam hari, terutama di daerah rimba atau pemukiman pinggiran. Kehadirannya kerap dikaitkan dengan suara tangisan bayi yang tiba-tiba terdengar, yang menurut kepercayaan dapat menarik perhatian orang yang lewat dan membahayakan mereka.[2]
Legenda Anak Sima juga sering disebut bersama dengan mitos hantu lain di Kalimantan Selatan, seperti hantu Takau. Beberapa cerita menyebutkan bahwa Anak Sima muncul sebagai bayi kecil yang mengenakan kain putih atau tampak seperti bayi biasa, tetapi perilakunya yang aneh dan keinginannya akan jantung manusia menjadi ciri khas yang paling dikenal. Meskipun cerita ini banyak beredar di kalangan masyarakat pedalaman dan desa-desa, tidak ada bukti historis atau arkeologis yang mendukung keberadaan tokoh ini sebagai figur nyata. Ia lebih berfungsi sebagai bagian dari sistem kepercayaan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak dapat dipahami atau sebagai peringatan bagi anak-anak agar tidak berkeliaran di malam hari.[3]
Di era modern, legenda Anak Sima masih sesekali dibicarakan dalam konteks cerita horor atau wisata budaya. Beberapa warga di daerah tertentu di Kalimantan Selatan masih mempercayai keberadaannya dan menghindari tempat-tempat yang dianggap rawan penampakan. Namun, bagi sebagian besar masyarakat, kisah ini lebih dilihat sebagai warisan budaya lisan yang mencerminkan nilai-nilai dan ketakutan kolektif masa lalu. Tidak ada catatan resmi yang menghubungkan Anak Sima dengan peristiwa sejarah tertentu, sehingga ia tetap berada dalam ranah mitos dan folklore.[4]