Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Amran Waly

Amran Waly atau nama dan gelar lengkapnya Abuya Syekh Haji Amran Waly al-Khalidy adalah mantan politikus dan ulama sufi asal Aceh Selatan. Ia secara resmi di kukuhkan oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf Sebagai Wali Agama Aceh dan Qadhi Malikul 'Adil sejak tanggal 24 Oktober 2025. Sebelumnya Pemerintah Aceh melalui Wali Nanggro Aceh serta Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Zuriat Kesultanan Aceh Darussalam telah memberikan penganugerahan gelar secara adat pada tanggal 27 Oktober 2024. Ia lahir dari ayah yang bernama Abuya Muda Waly dan ibu yang bernama Hajjah Raudhatinnur. Ayahnya adalah salah satu ulama besar Aceh dan ibunya adalah salah satu keturunan Ulee Balang di Labuhan Haji.

Pendiri Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf
Diperbarui 14 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Amran Waly atau nama dan gelar lengkapnya Abuya Syekh Haji Amran Waly al-Khalidy (lahir 21 Agustus 1947) adalah mantan politikus dan ulama sufi asal Aceh Selatan. Ia secara resmi di kukuhkan oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf Sebagai Wali Agama Aceh[1] dan Qadhi Malikul 'Adil (Mufti Agung) sejak tanggal 24 Oktober 2025. Sebelumnya Pemerintah Aceh melalui Wali Nanggro Aceh serta Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Zuriat Kesultanan Aceh Darussalam telah memberikan penganugerahan gelar secara adat pada tanggal 27 Oktober 2024.[2] Ia lahir dari ayah yang bernama Abuya Muda Waly dan ibu yang bernama Hajjah Raudhatinnur. Ayahnya adalah salah satu ulama besar Aceh dan ibunya adalah salah satu keturunan Ulee Balang di Labuhan Haji.[3]

Pendidikan

Meskipun ayahnya adalah seorang ulama besar dan memiliki dayah dengan tingkat pendidikan yang cukup lengkap, Amran tidak hanya menuntut ilmu di dayah milik orang tuanya tersebut namun ia juga menempuh pendidikan umum. Pendidikan dasar ia tempuh di Sekolah Rakyat kemudian dilanjutkan dengan Tsanawiyah dan Aliyah, semua sekolah itu berlokasi di Labuhan Haji.

Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat Aliyah, ia kemudian melanjutkan ke IAIN Ar-Araniry di Darussalam, Banda Aceh selama dua tahun karena tidak puas dengan sistem pelajaran di situ. Ia merasa pelajaran yang didapatkannya hanya berupa perulangan dari pelajaran yang pernah ia dapatkan di Dayah Darussalam. Setelah keluar dari IAIN Ar-Araniry akhirnya ia pindah ke IAIN Imam Bonjol di Sumatera Barat tetapi ia juga merasa tidak betah dan kemudian mencoba kuliah di Kelantan College Islam Nilam Puri, Kelantan, Malaysia. Karena merasa belum cukup puas, akhirnya ia kembali ke Aceh dan masuk kembali ke Fakultas Ushuluddin, IAIN Ar-Araniry. Namun di sini ia juga tidak menempuh pendidikannya hingga tamat karena ada berbagai perdebatan panjang dengan gurunya sehingga ia harus meninggalkan bangku kuliah.[3]

Tidak hanya menempuh pendidikan formal di sekolah umum, Abuya Amran Waly juga belajar di beberapa dayah yang ada di Aceh dan Sumatera Barat. Pada awalnya, ia belajar di Dayah Darussalam yang dipimpin oleh ayahnya. Ketika ia melanjutkan pendidikannya di Banda Aceh, ia melanjutkan pelajaran agamanya di Dayah Lam Ateuk di bawah pimpinan Abu Daud Zamzami yang juga merupakan murid dari Abuya Muda Waly. Ia belajar di Dayah Lam Ateuk ini selama empat bulan untuk kemudian pindah ke Padang Panjang, Sumatera Barat dan bergabung di Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI).

Hubungan dengan Tarikat Naqsyabandiah

Abuya Amran Waly adalah salah satu mursyid Tariqat Naqsyabandiah yang berasal dari Aceh Selatan. Ia pertama sekali dibaiat sebagai pengikut tarikat oleh ayahnya yang bernama Abuya Muda Waly.

Pada perkembangan selanjutnya, ia mendalami ilmu tasawuf di bawah bimbingan Syekh Zakaria Labai Sati dan syekh Aidarus bin abdul ghani alkampari mengangkat abuya amran waly sebagai mursyid thariqat naqsabandyah dari jalur ayah nya abuya muda waly.[3]

Silsilah thariqat naqsabandy dan kemursyidan nya nya sampai kepada syekh Abdul Ghany memberikan kepada Abuya muda waly memberikan kepada Abuya Aidarus memberikan kepada Abuya Amran Waly .

Karier

Politik

Karier politik Abuya Amran Waly adalah menjadi salah satu anggota DPRD Aceh Selatan pada periode 1982-1987 dari Golongan Karya (Golkar). Ia menjadi anggota DPRD hanya untuk satu periode saja dan kemudian menginggalkannya dengan alasan ingin lebih fokus mengembangkan dayah yang didirikannya.

Bergabungnya Abuya Amran Waly ke Golkar tidaklah terjadi secara tiba-tiba. Namun disebabkan karena TARBIYAH (pecahan PERTI) saat orde baru berafiliasi politik melalui Golkar.

Pendidikan

Ketika Abuya Amran Waly belajar di Padang Panjang, ia tidak hanya menjadi murid tetapi juga ikut mengajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI).

Pada tahun 1972, ia diminta untuk memimpin Dayah Darussalam yang telah ditinggalkan oleh Abuya Muda Waly. Ia menjadi pimpinan dayah tersebut selama 10 tahun hingga tahun 1982. Selepas dari memimpin Dayah Darussalam, ia mendirikan sebuah dayah sendiri yang dinamakan Dayah Darul Ihsan yang terletak tidak jauh dari Dayah Darussalam. Walaupun begitu, ia juga tetap mengajar di Dayah Darussalam yang menjadi peninggalan orang tuanya.

Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT)

Setelah beberapa lama membina Dayah Darul Ihsan, Abuya Amran Waly kemudian mendirikan majelis zikir yang diberi nama Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf yang disingkat dengan MPTT. MPTT resmi berdiri secara hukum pada tahun 2004 di depan notaris, tetapi ajarannya sendiri sudah mulai diajarkan sejak tahun 1998 di Dayah Darul Ihsan, Aceh Selatan.[4]

Referensi

  1. ↑ Jatman, Online (2025-10-24). "Gubernur Aceh Secara Resmi Mengukuhkan Abuya Syaikh H Amran Waly al-khalidy Sebagai Wali Agama Aceh". Jatman.or.id. Diakses tanggal 2025-10-24.
  2. ↑ "Abuya Syekh H Amran Waly Terima Penghargaan dari Wali Nanggroe dan KPA Sebagai Wali Agama Aceh". Serambinews.com. Diakses tanggal 2025-01-13.
  3. 1 2 3 As, Nab Bahany, author. Ensiklopedi ulama besar Aceh. ISBN 978-602-9063-00-4. OCLC 967457836. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  4. ↑ "MAJELIS PENGKAJIAN TAUHID TASAWUF (MPTT) DAN AKTUALISASI KETAUHIDAN" (PDF). Respository UIN ar-Raniry. Desember 2020. Diakses tanggal 8 September 2020.
  • l
  • b
  • s
Ulama Aceh
Abad ke-12
Abdullah Arif  • Abdullah Kan'an
Abad ke-16 M
Hamzah Fansuri  • Fatahillah
Abad ke-17 M
Nuruddin Ar-Raniri  • Syamsuddin As-Sumatrani  • Abdurrauf al-Fansuri  • Teungku di Ujung
Abad ke-18 M
Faqih Jalaluddin  • Baba Daud al-Jawi  • Muhammad Zain al-Asyi  • Teungku di Anjong
Abad ke-19 M
Muhammad Khatib Langgien  • Ismail al-Asyi  • Teungku Chik Tanoh Abee  • Teungku Chik Pante Kulu  • Teungku Chik di Tiro  • Teungku Chik Kuta Karang  • Teungku Chik Pante Geulima  • Sayid Muhammad Yasin  • Sayid Abdurrani Teungku Putik  • Teungku Muhammad Irsyad Ie Leubeu  • Teungku Fakinah
Abad ke-20 M
Teungku Peukan  • Abdussalam Meuraksa  • Muhammad Al-Kalali  • Abuya Muda Waly  • Abu Syekh Mud  • Ali Hasjmy  • Abu Bakar Aceh  • Teungku Hasan Krueng Kale  • Daud Beureu'eh  • Abu Ibrahim Woyla  • Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy  • Habib Seunagan  • Teungku Abdullah Tanjong Bungong  • Abdullah Ujong Rimba  • Teungku Ahmad Dewi  • Muhammad Syam Marfaly
Abad ke-21 M
Abu Tu Min  • Abu Mudi  • Abu Daud Zamzami  • Amran Waly  • Muhibuddin Waly  • Mawardi Waly  • Muslim Ibrahim  • Safwan Idris

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pendidikan
  2. Hubungan dengan Tarikat Naqsyabandiah
  3. Karier
  4. Politik
  5. Pendidikan
  6. Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT)
  7. Referensi

Artikel Terkait

Tasawuf Underground

figur, pendiri dan pengasuh Pondok Tasawuf Underground menjadi pengajar utama bagi para santri, terutama pada mata pelajaran tauhid, fiqih, dan tasawuf. Beberapa

Kadirun Yahya

Arco, Depok, Jawa Barat 2001, pada usia 84 tahun) adalah seorang ulama tasawuf atau tokoh sufi kharismatik. Ia adalah mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah

Muktamar Internasional Islam Sunni Chechnya 2016

pertemuan ulama Sunni di Chechnya

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026