Abū al-Ḥasan ʻAlī bin ʻAbdillāh bin Jaʻfar al-Madīnī adalah seorang ulama Sunni abad kesembilan yang berpengaruh dalam ilmu hadis. Di samping Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abi Syaibah dan Yahya bin Ma'in, Ibnu al-Madini telah dianggap oleh banyak pakar hadis Muslim sebagai salah satu dari empat penulis paling signifikan di bidang hadis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ali bin al-Madini | |
|---|---|
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | 161 H |
| Meninggal | 234 H |
| Era | Zaman Kejayaan Islam |
| Wilayah | Irak |
| Minat utama | Hadis |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Islam |
| Kepercayaan | Atsari[1] |
| Muslim leader | |
Influenced by | |
Influenced | |
Abū al-Ḥasan ʻAlī bin ʻAbdillāh bin Jaʻfar al-Madīnī (778 M/161 H – 849/234) (bahasa Arab: أبو الحسن علي بن عبد الله بن جعفر المدينيcode: ar is deprecated ) adalah seorang ulama Sunni abad kesembilan yang berpengaruh dalam ilmu hadis.[4] Di samping Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abi Syaibah dan Yahya bin Ma'in, Ibnu al-Madini telah dianggap oleh banyak pakar hadis Muslim sebagai salah satu dari empat penulis paling signifikan di bidang hadis.[5]
Ibnu al-Madīnī lahir pada tahun 778 M/161 H di Basra, Irak dari sebuah keluarga yang berasal dari Madinah yang sekarang berada di Arab Saudi.[6] Guru-gurunya termasuk ayahnya, ʻAbdullāh bin Jaʻfar, Ḥammād bin Yazīd, Husyaim, dan Sufyān bin ʻUyaynah dan lainnya dari era mereka. Gurunya, Ibnu ʻUyaynah, mengatakan bahwa dia telah belajar lebih banyak dari Ibnu al-Madīnī, muridnya, daripada muridnya darinya.[4]
Ibnu al-Madīnī mengkhususkan diri dalam disiplin ilmu hadis, evaluasi biografi, dan al-ʻIlal, cacat tersembunyi, dalam sanad, rantai narasi. Dia dipuji oleh spesialis hadis lainnya atas kehebatannya di bidang itu—baik oleh orang-orang sezamannya, murid-muridnya, dan guru-gurunya. ʻAbdurraḥmān bin Mahdī, seorang ulama yang mendahuluinya, menggambarkan Ibnu al-Madīnī sebagai orang yang paling berpengetahuan tentang hadis kenabian.[4]
Murid-muridnya termasuk para ulama hadis terkemuka. Mereka antara lain: Muhammad bin Yaḥyā al-Dhuhalī, Muhammad bin Ismāʻīl al-Bukhārī, Abu Dāwūd Sulaymān bin al-Asyʻats as-Sijistānī, dan lain-lain. Al-Bukhārī, yang kemudian mengumpulkan apa yang dianggap sebagai koleksi hadis paling autentik dalam Islam Sunni, mengatakan bahwa ia tidak menganggap dirinya rendah dibandingkan dengan siapa pun selain Ibnu al-Madīnī.[4]
Adz-Dzahabī memuji Ibnu al-Madīnī sebagai seorang imam dan teladan bagi para ulama berikutnya di bidang hadis, sebuah deskripsi yang ia anggap ternoda oleh posisi Ibun al-Madīnī yang diadopsi dalam inkuisisi teologis abad kesembilan. Menurut Adz-Dzahabī, ia mengambil posisi yang mendukung Muʻtazilah mengenai asal-usul Al-Qur'an yang tidak diciptakan, tetapi kemudian menyesali hal ini dan menyatakan pengklaim bahwa Al-Qur'an diciptakan sebagai murtad.[4]

Ibnu al-Madīnī meninggal di Samarra, Irak pada bulan Juni 849/ Dzulqa'dah 234.[4][6]
An-Nawawi mengatakan Ibnu al-Madīnī menulis sekitar 200 karya, beberapa di antaranya membahas subjek yang belum pernah ditulis sebelumnya dan banyak yang tidak tergantikan.[6]