Ali and Nino adalah film bertema drama romansa tentang perang yang diproduksi Inggris pada tahun 2016. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Kurban Said dengan judul yang sama. Film ini ditulis oleh seorang produser bernama Christopher Hampton dan disutradarai oleh Asif Kapadia. Sebagian besar latar tempat di film tersebut mengambil gambar di negara Azerbaijan, Turki, Georgia, dan Rusia. Para pemeran dalam film ini adalah pemain internasional dengan Maria Valverde dan Adam Bakri sebagai pemain yang menjadi peran utama. Film ini memiliki makna tentang pencarian kebenaran dan rekonsiliasi yang digambarkan melalui perbandingan beragam antara Islam dan Kristen, antara Timur dan Barat, antara golongan tua dan pemuda, dan antara pria dan wanita.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Ali and Nino | |
|---|---|
| Sutradara | Asif Kapadia |
| Produser | Kris Thykier, Sasha Harris, Alex Sutherland, Mairi Bett, Leyla Aliyeva, Pip Williams |
| Ditulis oleh | Christopher Hampton |
Berdasarkan | Ali and Nino oleh Kurban Said |
| Pemeran | |
| Penata musik | Dario Marianelli[1] |
| Sinematografer | Gökhan Tiryaki |
| Penyunting | Alexander Berner |
Perusahaan produksi |
|
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 104 menit |
| Negara | United Kingdom |
| Bahasa | English, Azerbaijani, Russian |
| Anggaran | $20 juta [2] |
Ali and Nino adalah film bertema drama romansa tentang perang yang diproduksi Inggris pada tahun 2016. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Kurban Said dengan judul yang sama . Film ini ditulis oleh seorang produser bernama Christopher Hampton [3] dan disutradarai oleh Asif Kapadia .[4] Sebagian besar latar tempat di film tersebut mengambil gambar di negara Azerbaijan, Turki, Georgia, dan Rusia.[5] Para pemeran dalam film ini adalah pemain internasional dengan Maria Valverde [6] dan Adam Bakri sebagai pemain yang menjadi peran utama.[7] Film ini memiliki makna tentang pencarian kebenaran dan rekonsiliasi yang digambarkan melalui perbandingan beragam antara Islam dan Kristen, antara Timur dan Barat, antara golongan tua dan pemuda, dan antara pria dan wanita.
Selama era Kekaisaran Rusia, Ali dan Nino saling jatuh cinta. Ali merupakan seorang Muslim yang berasal dari Azerbaijan. Ia tinggal di kota Baku yang kaya minyak, di dalam sebuah istana milik keluarga Shirvanshir. Nino sendiri merupakan seorang pemeluk agama Kristen Ortodoks dari Georgia. Ia berasal dari keluarga Kipiani yang kaya raya dan juga tinggal di Baku. Teman Ali yang bernama Malik, setuju untuk membantu mereka agar keluarga aristokratnya mau menerima pernikahan ia dengan Nino. Sayangnya, Perang Dunia I kemudian pecah di Eropa.
Suatu hari, Malik dan Nino pergi bersama ke sebuah pertunjukkan opera. Di sisi lain, Ali dan Nino sendiri memiliki janji untuk bertemu secara diam-diam setelah selesai dari opera. Malik yang merupakan orang Armenia ternyata juga jatuh cinta kepada Nino. Malik kemudian menculiknya dan merencanakan pernikahan dengan Nino secara diam-diam. Ali kemudian datang menghadapi Malik dan membunuhnya dengan sebuah belati. Ali terluka selama pertempuran dengan Malik. Kemudian ia melarikan diri ke Dagestan untuk menyembuhkan lukanya dan bersembunyi dari keluarga Malik yakni keluarga Nachararyan yang berbahaya. Di tempat lain terjadi peristiwa Revolusi Rusia yang berhasil menggulingkan Tsar Nicholas II dari kekuasannya.
Ibu Nino yang bernama Tamar kemudian khawatir jika nantinya tidak ada seorang pun yang akan menikahi putrinya. Tamar kemudian berencana mengirim Nino ke Moskow. Yang terjadi kemudian adalah berbeda dari yang direncanakan. Mustafa kembali menyatukan Nino dan Ali di sebuah gunung. Setelah semalaman bercinta dan dengan hilangnya keperawanan Nino, Ali berteriak memanggil seorang Mullah. Mustafa kemudian meyakinkan pasangan tersebut bahwa tidak ada imam yang diperlukan karena dirinya dapat melakukan upacara pernikahan. Terlepas dari masa kanak-kanaknya yang aristokrat, kehidupan pedesaan yang sederhana sangat cocok dengan Ali dan Nino yang menjadi pengantin baru. Di tempat tersebut mereka menemukan kebahagiaan sejati. Di saat yang sama Republik Demokratik Azerbaijan berhasil mendapatkan kemerdekaannya.
Ali kembali ke Baku. Kemudian ia diangkat menjadi Wakil Menteri Luar Negeri. Dia mulai membesarkan keluarga mudanya di tanah air yang merdeka. Negara muda itu kemudian menandatangani perjanjian persahabatan dengan negara-negara tetangganya. Namun terdapat ketakutan pada kaum Bolshevik di Rusia. Mengetahui bahwa Rusia telah menyiapkan 30.000 tentara di perbatasan, pemerintah Azerbaijan kemudian melarikan diri dengan kereta api. Saat Nino dan putri mereka menuju Paris, Ali melompat dari kereta. Ali turun untuk meledakkan jembatan. Nino aman bersama putrinya di kereta, sayangnya Ali tertembak dan terbunuh. Ali meninggal saat berjuang membela negaranya.
Ali and Nino merupakan salah satu film yang diputar dalam Festival Film Europe on Screen tahun 2019. Film ini masuk ke dalam program festiveties yang menayangkan film-film cerita panjang. Adapun penayangnnya dilakukan sebanyak empat di Erasmus Huis Jakarta pada 19 April, Gran Aston Medan pada 23 April, IFI Surabaya pada 24 April, dan di Ke:kini pada 27 April.[8]