Album Aceh: Nyawöungcode: ace is deprecated , biasa dikenal sebagai Nyawöungcode: ace is deprecated , adalah sebuah album yang dirilis di bawah label Joe Project. Dirilis pada Agustus 2000, Nyawöungcode: ace is deprecated adalah album kolaborasi antara beberapa penyanyi dan musisi Aceh yang dipimpin oleh Joe, nama panggilan dari Jauhari Samalanga.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Agustus 2025) |
| Album Aceh: Nyawöung | ||||
|---|---|---|---|---|
![]() Sampul kaset | ||||
| Album studio karya Komunitas Nyawöung | ||||
| Dirilis | Agustus 2000 (2000-08) | |||
| Genre | Tradisional, Rock | |||
| Durasi | 43:03 | |||
| Bahasa | Acehnese | |||
| Label | Joe Project | |||
| Produser | Jauhari Samalanga | |||
| Kronologi Komunitas Nyawöung | ||||
| ||||
| Nyawoung Aceh | ||||
Album Aceh: Nyawöungcode: ace is deprecated (bahasa Aceh: Album Acèh: Nyawöungcode: ace is deprecated ),[a] biasa dikenal sebagai Nyawöungcode: ace is deprecated (terj. har. 'Semangat'), adalah sebuah album yang dirilis di bawah label Joe Project.[1][2] Dirilis pada Agustus 2000,[3] Nyawöungcode: ace is deprecated adalah album kolaborasi antara beberapa penyanyi dan musisi Aceh yang dipimpin oleh Joe, nama panggilan dari Jauhari Samalanga.[1][4]
Nyawöungcode: ace is deprecated terdiri dari lagu-lagu rakyat Aceh dan lagu-lagu yang menggambarkan konflik Aceh dari perspektif Aceh dan dampaknya terhadap masyarakat biasa yang menderita karenanya. Pada saat itu, album ini menjadi salah satu album terlaris di Aceh.[1]
Pada Juni 1996, Mukhlis bepergian ke Jakarta dari Yogyakarta bersama Agam Ilyas, saudara laki-laki Joe. Ia dibawa ke tempat tinggal mereka di Utan Kayu, Jakarta Timur, di mana ia dan Joe mendiskusikan budaya dan seni Aceh. Mukhlis bercerita tentang pekerjaannya sebagai dosen seni Aceh di Universitas Syiah Kuala. Tidak lama setelah pertemuan pertama mereka, Mukhlis kembali ke Aceh.[5]
Di Takengon, awal September 1997, Joe menemukan beberapa kaset yang sudah usang di sebuah toko aluminium bernama Apollo, yang juga menjual berbagai barang bekas. Semua kaset daerah diberi label dengan genre dan asal daerahnya. Ia mengambil semua kaset yang berlabel 'Aceh', total empat, dua di antaranya berisi musik yang sering digunakan untuk Tari Seudaticode: ace is deprecated , sebuah tarian tradisional Aceh.[1][4][6] Ketika tiba di rumah, ia mendengarkan kaset lainnya, satu berisi nina bobo Aceh, Dô Da Idicode: ace is deprecated , sebuah lagu tentang kembali nya raja dan pejuang Aceh, Panglima Prangcode: ace is deprecated (terj. har. 'Komandan Perang'), dan sebuah lagu tentang kampanye melawan Johor oleh Iskandar Muda, Prang Sabilcode: ace is deprecated (terj. har. 'Perang Suci'). Satu lagu yang menarik perhatian Joe adalah Nyawöungcode: ace is deprecated ,[7] sebuah lagu tentang kematian.[1][6] Joe pergi ke Jakarta untuk menemui Ilyas, dan mereka mendirikan sebuah komunitas bernama Komunitas Etnis Ujung Baratcode: id is deprecated (terj. har. 'Kelompok Etnis Ujung Barat'), yang kemudian berganti nama menjadi Komunitas Nyawöung. Setelah mendengarkan kaset-kaset itu berulang kali, keduanya mendatangi Hafiz Syahnara, seorang teman yang bekerja di EMI Indonesia, sebuah perusahaan label rekaman.[1][6]
Pada tahun 1999, Joe menghubungi Dedy Adrian, seorang anggota dari band "Metazone" yang berdarah Gayo, untuk membantu mereka merekam lagu-lagu Aceh untuk Nyawöungcode: ace is deprecated di Jakarta, yang dengan senang hati ia setujui.[5][8] Joe kemudian mengirimkan beberapa rekamannya kepada Dedy untuk diaransemen.[5] Selama pengaransemenan album, Joe berusaha mencari penulis lirik dan penyanyi yang dapat meniru puisi tradisional Aceh, yang pada saat itu sulit karena Aceh sedang dalam konflik dan sebagian besar penyanyi menyanyi terutama dalam genre dangdut.[1][5][9] Ia dan Dedy menghubungi Mukhlis untuk menjadi penyanyinya, yang disetujui Mukhlis, sehingga mereka bersama-sama terbang dari Banda Aceh ke Jakarta.[5] Pada tahun yang sama, Cut Aja Rizka, seorang penyanyi Aceh, bertemu dengan Joe bersama Nurdin Daud, penulis Dô Da Idicode: ace is deprecated dan dosen tari di Institut Kesenian Jakarta,[4] di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.[8][10]
Pada Agustus 2000, di bawah label Joe Project dan Nuansa Media Pusaka Jakarta, dan dengan anggaran sekitar $38.000,[4][6] Komunitas Nyawöung merilis album Nyawöungcode: ace is deprecated , yang berisi 10 lagu dalam bahasa Aceh.[1][3][6]
Setelah dirilis, album ini cepat menarik perhatian dan dicintai oleh masyarakat Aceh; edisi pertama sebanyak 5.000 kaset habis terjual.[4] Secara total, sekitar 30.000 dari 45.000 kopi kaset yang diproduksi terjual di Aceh dalam waktu enam bulan. Salah satu faktor kesuksesan Nyawöungcode: ace is deprecated adalah kualitas rekamannya, karena merupakan album daerah pertama yang diproduksi dengan standar rekaman internasional.[1] Lagu-lagu Nyawöungcode: ace is deprecated dapat didengar di seluruh provinsi hingga menjadi identik dengan Aceh.[1][6] Lagu-lagu Nyawöungcode: ace is deprecated juga populer di kalangan anggota Gerakan Aceh Merdeka.[4]
Setelah rilisnya Nyawöungcode: ace is deprecated dan popularitasnya yang luas, Joe mendapat kabar bahwa album menjadi target pemberangusan. Penggerebekan terhadap kaset Nyawöung mulai dilakukan di toko-toko kaset di beberapa daerah Aceh.[4] Pada Mei 2001, beberapa toko kaset di Pidie digerebek oleh tentara Indonesia; mereka dipaksa mengeluarkan semua kaset berbahasa Aceh, khususnya Nyawöungcode: ace is deprecated . Setelah dikumpulkan, kaset-kaset tersebut dibakar di depan toko; kasus serupa juga terjadi di Aceh Tengah dan Aceh Utara.[1][4] Setelah mendengar laporan dari beberapa orang di Aceh tentang penggerebekan terhadap Nyawöungcode: ace is deprecated , distribusi dihentikan untuk menghindari masalah lebih lanjut.[1][6]
Pada 19 Mei 2003, beberapa musisi dan penyanyi Aceh dipanggil untuk dimintai keterangan oleh Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh. Pada November tahun yang sama, beberapa lagu yang dilabeli sebagai separatis atau mengganggu ketertiban dilarang, termasuk Nyawöungcode: ace is deprecated .[4][6]
Pada September 2004, Nyawöungcode: ace is deprecated diizinkan untuk dipasarkan kembali dengan catatan lagu Harô-Haracode: ace is deprecated (terj. har. 'Kekacauan') dihapus, dan digantikan dengan lagu Trôh Bak Watèëcode: ace is deprecated (terj. har. 'Saatnya Telah Tiba') dari album kedua mereka, World Music from Aceh.
| No. | Judul | Lirik | Penyanyi | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| 1. | "Saleum" (Salam) | Tradisional, Mukhlis | Mukhlis | 3:05 |
| 2. | "Prang Sabil" (Perang Suci) | N.N. | Mukhlis | 3:41 |
| 3. | "Harô-Hara" (Kekacauan) | Di Husen | Cut Aja Rizka | 3:13 |
| 4. | "Nyawöung" (Semangat) | Di Husen | Mukhlis | 4:44 |
| 5. | "Adak Na" (Jika) | Dedy Adrian, Echend Meukek | Mukhlis | 3:28 |
| 6. | "Nanyeum Meurumpök" (Menenun Pandangan) | N.N. | Mukhlis | 3:51 |
| 7. | "Untong Kamoë Nyoë" (Betapa Beruntungnya Kita) | Dedy Adrian | Mukhlis | 5:35 |
| 8. | "Panglima Prang" (Komandan Perang) | N.N. | Cut Aja Rizka | 3:42 |
| 9. | "Dôdodaidi" (Nina Bobo Aceh) | Traditional, Di Husen | Cut Aja Rizka | 5:08 |
| 10. | "Nyan Dum Abeuh" (Itu Saja) | Dedy Adrian | Mukhlis | 3:39 |
| 11. | "Trôh Bak Watèë" (Saatnya Telah Tiba) | Traditional, Sibas | Kurniatun Z. | 2:54 |
| Durasi total: | 43:05 | |||