Alaungsithu atau Sithu I adalah raja dari Dinasti Pagan di Burma (Myanmar) dari sekitar 1112 sampai 1167.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Alaungsithu အလောင်းစည်သူcode: my is deprecated Sithu I | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Dilukis sebagai Min Sithu nat (jiwa) | |||||||||
| Raja Kerajaan Pagan | |||||||||
| Berkuasa | sekitar 1112 – 1167 | ||||||||
| Pendahulu | Kyansittha | ||||||||
| Pengganti | Narathu | ||||||||
| Kepala Menteri | Aleimma | ||||||||
| Kelahiran | 13 Desember 1089 Kamis, bulan purnama Tabodwe 451 ME Pagan | ||||||||
| Kematian | 1167 (usia 77) 529 ME[1] Pagan | ||||||||
| Permaisuri | Yadanabon Tri Lawka Sanda Yazakumari Taung Pyinthe | ||||||||
| Keturunan | Min Shin Saw Narathu Htaukhlayga Taungpha Shwe Kyu Chit Oo Kyaungdaw | ||||||||
| |||||||||
| Wangsa | Pagan | ||||||||
| Ayah | Sawyun | ||||||||
| Ibu | Shwe Einthi | ||||||||
| Agama | Buddha Theravada | ||||||||
Alaungsithu atau Sithu I (bahasa Burma: အလောင်းစည်သူcode: my is deprecated [ʔəláʊɴ sìθù]; juga Cansu I; 1089–1167) adalah raja dari Dinasti Pagan di Burma (Myanmar) dari sekitar 1112 sampai 1167.
Sithu lahir dengan nama Zeyathura Sithu (bahasa Burma: ဇေယျ သူရ စည်သူcode: my is deprecated , Pali: Jayyasura Cansucode: pi is deprecated )[2] dari pasangan Sawyun (putra dari Raja Sawlu) dan Shwe Einthi (putri dari Raja Kyansittha) pada 13 Desember 1089.[note 1] Pada masa pemerintahannya, kerajaan mencapai zaman kemakmuran di mana Pagan menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari rute perdagangan darat dan laut.
Selain itu, Sang Raja juga melakukan perluasan pembangunan besar-besaran di seluruh negeri, yang meliputi wilayah jajahan, benteng, dan pos terdepan di lokasi yang cocok untuk memperkuat wilayah perbatasan, balai pengangkatan pemimpin agama dan pagoda untuk mendukung ajaran agama, serta waduk, bendungan, dan perbaikan lahan lainnya untuk membantu kaum petani. Raja Alaungsithu juga memperkenalkan timbangan dan ukuran standar di seluruh negeri untuk membantu perhitungan dan perdagangan. Raja juga telah memimpin dimulainya peralihan dari budaya Mon ke Burma yang khas.
Sang Raja juga dikenal sebagai raja yang gemar berkelana, mengadakan perjalanan luas ke seluruh wilayahnya, membangun monumen, dan menjaga ajaran kebajikan Buddha Theravada.