Alacahöyük adalah situs arkeologi penting di Turki yang dulunya merupakan permukiman pada masa Neolitikum dan Het. Situs ini berada di dekat desa Alacahüyük, Distrik Alaca, Provinsi Çorum, di timur laut Boğazkale (Boğazköy), lokasi Hattusa ibu kota kuno Kekaisaran Het. Meskipun lokasinya dekat dengan ibu kota Het, nama Het asli dari Alacahöyük masih belum diketahui secara pasti. Para ahli telah mengaitkannya dengan nama-nama seperti Arinna, Tawiniya, dan Zippalanda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Alaca Höyük | |
Alacahöyük (juga dikenal sebagai Alaca Höyük, Alacahüyük, Euyuk, atau Evuk) adalah situs arkeologi penting di Turki yang dulunya merupakan permukiman pada masa Neolitikum dan Het. Situs ini berada di dekat desa Alacahüyük, Distrik Alaca, Provinsi Çorum, di timur laut Boğazkale (Boğazköy), lokasi Hattusa ibu kota kuno Kekaisaran Het. Meskipun lokasinya dekat dengan ibu kota Het, nama Het asli dari Alacahöyük masih belum diketahui secara pasti. Para ahli telah mengaitkannya dengan nama-nama seperti Arinna, Tawiniya, dan Zippalanda.[1][2]
Gundukan (yang dalam bahasa Turki: höyük) Alacahöyük memiliki ukuran 310 meter kali 275 meter dengan ketinggian sekitar 14 meter. Bentuknya ditandai dengan adanya tanjakan berbentuk kerucut di bagian selatan dan timur laut.
Situs ini terdiri dari 14 lapisan hunian yang mewakili berbagai periode sejarah:
Lapisan 14 hingga 9 di Alacahöyük menandai fase awal permukiman, yang terjadi selama Kalkolitik (juga dikenal sebagai Zaman Tembaga).



Lapisan 8 sampai 5 menandai periode Zaman Perunggu Awal, ketika gundukan Alacahöyük menjadi pusat budaya yang maju dan sibuk. Situs ini terintegrasi dalam Jaringan Perdagangan Anatolia yang luas. Sejak periode tersebut, permukiman di gundukan ini telah berlangsung tanpa henti hingga sekarang, berkembang menjadi desa kecil modern.
Empat belas makam poros yang dikenal sebagai "Makam Kerajaan" di Alacahöyük berasal dari periode Zaman Perunggu Awal (2850–2450 SM), menjadikannya sezaman dengan penemuan-penemuan penting seperti Makam Kerajaan Ur dan Troya tingkat II. Makam-makam ini dibangun dengan desain poros yang khas, dengan kedalaman sekitar 1,5 meter, dan ditutup rapat dengan balok kayu. Di dalamnya, jenazah diletakkan dengan kaki terlipat menghadap ke barat dan disertai persembahan berupa kepala dan kaki banteng yang diletakkan di atas panggung. Bukti kekayaan ditemukan melalui hiasan jenazah berupa fibula emas, diadem, ikat pinggang, dan figur-figur repoussé berlapis emas. Secara keseluruhan, penggalian makam ini berhasil menemukan tujuh patung logam, dengan empat di antaranya terbuat dari perunggu dan tiga dari perak.[3]