Air Terang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tiloan, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Air Terang | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Sulawesi Tengah | ||||
| Kabupaten | Buol | ||||
| Kecamatan | Tiloan | ||||
| Kode pos | 94565 | ||||
| Kode Kemendagri | 72.05.07.2003 | ||||
| Luas | - | ||||
| Jumlah penduduk | 4.717 jiwa | ||||
| Kepadatan | - | ||||
| |||||
Air Terang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tiloan, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia.[1]
Sebelum menjadi kawasan transmigrasi, Air Terag masih hutan lebat dengan jalan masuk selebar dua depa. Desa ini terdapat Sungai Seropan yang airnya jernih dan terang, dari sungai ini penamaan Desa Air Terang. Sungai Seropan merupakan sumber air desa dan kelompok penjaga hutan bernama "Arter" singkatan dari Air Terang, menanam rotan dan pohon-pohon di sekeliling sungai untuk menampung air dan menahan erosi.[2]
Selain pendatang Bugis dan Makassar, beragam etnis tinggal di desa ini. Ada yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, dan Lombok yang datang bertransmigrasi tahun 1993. Transmigran yang lebih awal datang ke desa-desa lain di Kecamatan Tiloan pada tahun 1982.[2]
Para transmigran dan penduduk asli Buol melakukan pertukaran pengetahuan tentang bercocok tanam, perayaan kesenian, hingga ragam kuliner yang disajikan. Dalam bercocok tanam, penduduk asli Buol bertanam padi di ladang. Cara bertanamnya dengan sistem tugal, cara bertanam dengan menggunakan sebatang kayu dengan ujung yang runcing dan tajam untuk melubangi tanah tempat benih padi ditaburkan. Parang jadi alat utama penduduk asli Buol membuka ladang. Cara ini dinamakan baparas. Transmigran dari Jawa dengan bekal bibit padi dari pemerintah memperkenalkan bertanam padi di sawah, menggunakan sistem irigasi, dan dengan cara membajak. Cara bercocok tanam dengan mencangkul tanah diperkenalkan pertama kali di Buol oleh para transmigran. Pertukaran pengetahuan tentang cara menanam padi antara transmigran dan penduduk asli Buol.[2]
Dulu sebelum transmigran melakukan pertukaran pengetahuan, penduduk asli Buol membuang bagian kepala, kulit kaki dan jeroan pada sapi yang disembelih untuk pesta pernikahan. Ketika transmigran datang, para perempuan memperkenalkan kerupuk rambak dari kulit sapi dan tumisan krecek, juga menunjukkan kulit, kaki dan kepala sapi masih bisa diolah menjadi kuliner soto.[2]