Kiai Mutamakkin atau Syekh Ahmad Mutamakkin adalah tokoh sufi dan diyakini sebagai waliyullah dan tokoh penyebar Islam di daerah Pati. Nama Mutamakkin merupakan gelar yang diberikan setelah melakukan perjalanan intelektual mencari ilmu di berbagai wilayah di Timur Tengah. Nama tersebut diambil dari bahasa Arab yang memiliki arti orang yang meneguhkan hati atau orang yang diyakini kesuciannya. Kiai Mutamakkin juga memiliki nama laqab Mbah Cebolek, yang diketahui dari tempat kediaman dan maqbarah-nya. Sementara itu beliau juga mendapatkan gelar Suma Hadiwijoyo sebagai gelar keningratan karena memiliki garis keturunan dari para raja Jawa. Nasab keraton mengalir dalam darahnya, dari mulai Kerajaan Majapahit hingga Kesultanan Bintaro Demak.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kiai Mutamakkin atau Syekh Ahmad Mutamakkin adalah tokoh sufi dan diyakini sebagai waliyullah dan tokoh penyebar Islam di daerah Pati. Nama Mutamakkin merupakan gelar yang diberikan setelah melakukan perjalanan intelektual mencari ilmu di berbagai wilayah di Timur Tengah. Nama tersebut diambil dari bahasa Arab yang memiliki arti orang yang meneguhkan hati atau orang yang diyakini kesuciannya. Kiai Mutamakkin juga memiliki nama laqab Mbah Cebolek, yang diketahui dari tempat kediaman dan maqbarah-nya. Sementara itu beliau juga mendapatkan gelar Suma Hadiwijoyo sebagai gelar keningratan karena memiliki garis keturunan dari para raja Jawa. Nasab keraton mengalir dalam darahnya, dari mulai Kerajaan Majapahit (Brawijaya ke-V) hingga Kesultanan Bintaro Demak.[1]
Raden Fatah mempunyai enam anak, yaitu Ratu Mas (istri Sunan Gunung Jati), Pati Unus (Pengarang Sabrang Lor), Pangeran Sedo Lepen, Sultan Trenggono (Ahmad Abdul Arifin), Pangeran Kandhuwuran, dan Pangeran Pamekasan. Dari jalur ayah, mengalir darah dari Sultan Trenggono bin Sultan Fatah, Raja Pertama Kesultanan Demak Islam, yang tidak lain adalah putra dari Raja Brawijaya V, yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit. Sultan Trenggono mempunyai empat orang anak, yaitu Putri Sekar Taji, Sunan Prawoto (Raden Bagus Mukmin), Ratu Kalinyamat (istri Pangeran Hadirin, Jepara) dan putri istri Pangeran Timur di Madiun.[1] Putri Sekar Taji ini dinikahi Jaka Tingkir (Sultan Pajang, Sultan Hadiwijaya). Dari pernikahan ini lahir anak bernama Suma Hadiningrat (Sunan Benawa I). Sunan Benawa I ini mempunyai putra bernama Sumahadinegara (Sunan Benawa II). Perkawinan antara Sunan Benawa II dengan Putri Raden Tanu melahirkan Suma Hadiwajaya alias Kiai Ahmad Mutamakkin. Dari jalur Jaka Tingkir, Kiai Mutamakkin merupakan keturunan raja-raja Majapahit. Ini bisa dilihat dari perkawinan Brawijaya V (raja Majapahit terakhir) dengan Murdaningrum saudara perempuan Candra Wulan (putri Campa) dari kerajaan Islam Campa. Dari perkawinan ini, lahir Raden Patah dan Ratu Pembayun. Ratu Pembayun mempunyai putra bernama Ki Ageng Pengging dalam babad dijelaskan sebagai murid Syekh Siti Jenar. Ki Ageng Pengging ini adalah ayah Jaka Tingkir. Sedangkan dari jalur ibu, Kiai Mutamakin masih keturunan dari Sayyid Ali Akbar dari Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Sayyid Ali Akbar mempunyai seorang putra bernama Raden Tanu. Selanjutnya Raden Tanu memiliki keturunan seorang putri. Putri tersebutlah yang menjadi ibu dari Kiai Mutamakin.[1]
Syekh Mutamakkin juga dikenal sebagai Mbah Mbolek. Gelar tersebut di ambil dari nama desa kelahirannya. Sedangkan kata al-Mutamakkin diambil dari proses rihlah ilmiahnya di Timur Tengah yang memiliki arti orang yang meneguhkan hati atau orang yang diyakini kesuciannya. Nama ningrat Syekh Mutamakkin adalah Sumohadiwijaya. Syekh Mutamakkin seorang ulama tasawuf terkenal pada masanya. Ajaran tasawufnya ia peroleh dari seorang tokoh tarekat Naqsabandiyah yakni Syekh Zayn al-Mizjaji al-Yamani sehingga ia diangkat menjadi khalifahnya di Nusantara. Tidak dapat diketahui secara pasti kapan Syekh Mutamakkin belajar kepada Syekh Zayn, juga kepada guru-guru lainnya. Akan tetapi, hubungan guru-murid dapat dilacak melalui wafatnya Syaikh Zayn yaitu tahun 1633 dan kematian putranya (Abdul Kholiq Ibn Zayn) tahun 1740 M. Dengan demikian Syekh Mutamakiin berguru pada beliau sekitar masa itu. Syekh Mutamakkin memiliki tiga orang anak yakni Nyai Alfiyah Godek, Kiai Bagus, dan Kiai Endro. Kiai Bagus menetap di Jawa Timur. Sedangkan Nyai Alfiyah Godeg dan Kiai Endro tetap tinggal di Kajen, Pati.[2]
Dalam bidang akidah, menurut Syekh Mutamakkin, pondasi ilmu pengetahuan adalah syahadat yang terbagi kedalam dua kategori. Yakni syahadat untuk orang umum dan orang khos (khusus) dengan kalimat Lailaha illallah. Di dalam lafadz lailaha illallah, lanjutnya, terkandung empat hal yaitu:
Dalam bidang syariat (fikih) ia membahas tentang wudhu, mandi dan shalat. Pada aspek ini, pendapatnya tidak jauh berbeda dengan umumnya kitab-kitab fikih, akan tetapi Madzhab Syafi’i mendominasi pemikirannya. Dalam bidang akhlaq dan tasawuf, Syekh Mutamakkin mengutip hadis yang menceritakan sosok perempuan yang dilihat Nabi ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Hadis tersebut, menurut Syekh Mutamakkin, berkaitan dengan pentingnya menjaga hubungan baik antara sesama dengan cara menampilkan akhlak yang terpuji. Perhatian secara teologis terhadap perilaku (akhlaq) manusia serta tanggung jawab didasarkan kepada kewajibannya untuk mencapai Ridho Allah hingga pada akhirnya sampai pada tahap ru’yatullah.
Sementara dalam bidang tasawuf, ia mengungkapkan beberapa tarekat yang melibatkan dirinya seperti Qadariyyah, Naqsabandiyah, Sattariyah, Khalwatiyah, serta beberapa tarekat lainnya. Sampai pada titik ini, dapat disimpulkan bahwa Mbah Mutamakkin memiliki karakteristik tasawuf sunni. Ditambah lagi ia mengutip beberapa tokoh tasawuf berakiran sunni seperti al-Ghozali dan al-Asy’ari. Walaupun di dalam beberapa kesempatan beliau juga mengutip pemikiran Ibn ‘Arabi sehingga menjadikannya bercorak tasawuf falsafi.
Dalam bidang pendidikan, Mbah Mutamakkin menggunakan metode yang telah diterapkan oleh Walisongo yakni pendektan kultural-kontekstual. Pendekatan ini dilakukan beberapa tahap, pertama, penanaman nilai tauhid dengan menekankan pada asas keimanan. Setelah faham dengan sendirinya manusia itu akan berubah dan meninggalkan perkara khurafat dan kekufuran. Kedua, pendekatan yang dikenal dengan aluran Tuban atau Ambangan. Pendekatan ini didekati dengan dua tahap. Tahap pertama adalah menghindari konfrotasi secara langsung atau tidak menggunakan kekerasan dalam menyebarkan agama Islam. Analogi ini diumpamakam seperti kita menangkap ikan tapi tidak membuat keruh airnya. Adapun tahap kedua adalah mengubah kepercayaan secara perlahan dengan melakukan penyesuaian. Melalui pendektan kultural-kontesktual inilah Mbah Mutamakkin mampu menyentuh hati setiap masyarakatnya. Mbah Mutamakkin juga lebih memilih tasawuf sebagai jalan dakwahnya.[2]
Sebagai seorang waliyullah, Syekh Ahmad Mutamakkin diyakini memiliki berbagai karomah (keistimewaan) yang diberikan oleh Allah SWT. Kisah-kisah tentang karomah beliau banyak beredar di kalangan masyarakat, menjadi bukti akan kedekatan beliau dengan Sang Khalik. Beberapa kisah yang sering diceritakan antara lain kemampuan beliau untuk mengetahui hal-hal yang belum terjadi, menyembuhkan penyakit dengan izin Allah, dan berbagai kejadian luar biasa lainnya yang menunjukkan kekuasaan Allah melalui hamba-Nya yang saleh.[3]
Syekh Ahmad Mutamakkin wafat dan dimakamkan di Kajen, Pati. Makam beliau hingga kini ramai diziarahi oleh para santri, alumni, dan masyarakat umum yang mengharapkan keberkahan dan meneladani jejak spiritual beliau. Warisan Syekh Ahmad Mutamakkin tidak hanya berupa pesantren yang masih berdiri kokoh hingga kini, tetapi juga ajaran-ajaran dan nilai-nilai luhur yang beliau tanamkan kepada para santrinya dan masyarakat. Semangat beliau dalam memperjuangkan pendidikan Islam, keteladanan akhlak, dan kedalaman spiritual terus menginspirasi generasi demi generasi.[3]