Agüeybaná adalah cacique Taíno yang paling kuat di pulau "Boriken" saat bangsa Spanyol tiba di pulau tersebut pada 19 November 1493. Namanya berarti "matahari besar". Ia tinggal dengan sukunya di Guaynia, yang terletak di dekat sungai dengan nama yang sama di bagian selatan pulau. Semua cacique lain merupakan bawahannya, meskipun masing-masing kepala suku memerintah suku-suku mereka sendiri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2022) |
Agüeybaná (meninggal tahun 1510) adalah cacique (kepala suku) Taíno yang paling kuat di pulau "Boriken" (Puerto Riko) saat bangsa Spanyol tiba di pulau tersebut pada 19 November 1493.[1] Namanya berarti "matahari besar". Ia tinggal dengan sukunya di Guaynia (kini Guayanilla), yang terletak di dekat sungai dengan nama yang sama di bagian selatan pulau. Semua cacique lain merupakan bawahannya, meskipun masing-masing kepala suku memerintah suku-suku mereka sendiri.
Agüeybaná menerima conquistador Juan Ponce de León pada tahun 1508. Berdasarkan tradisi Taíno, Agüeybaná menjalankan ritual "guatiao", yaitu ritual di mana ia dan Juan Ponce de León menjadi teman dan bertukar nama. Ponce de León kemudian membaptis ibu Agüeybaná dan memberinya nama Inés. Keramahan Agüeybaná memudahkan upaya bangsa Spanyol untuk menaklukkan pulau Boriken.[2]
Agüeybaná bergabung dengan Ponce de León dalam penjelajahan pulau Boriken. Setelah penjelajahan selesai dilakukan, Agüeybaná turut serta dalam perjalanan ke pulau La Española (kini merupakan bagian dari Republik Dominika dan Haiti), di mana ia diterima dengan baik oleh gubernur Nicolás de Ovando[3] Tindakan-tindakan Agüeybaná membantu memelihara perdamaian antara Taíno dengan bangsa Spanyol. Namun, perdamaian ini tidak berlangsung lama. Orang-orang Taíno dipaksa bekerja di tambang emas dan diperlakukan seperti budak dalam upaya pembangunan sebuah benteng. Banyak orang Taino yang meninggal akibat perlakuan kejam orang-orang Spanyol.[2]
Setelah kematian Agüeybaná pada tahun 1510, saudaranya[4][5][6] Güeybaná (lebih dikenal dengan nama Agüeybaná II) menjadi cacique yang paling kuat di pulau. Agüeybaná II mempermasalahkan cara orang-orang Spanyol memperlakukan orang-orang Taíno dan melancarkan perang melawan mereka. Bangsa Taíno akhirnya dikalahkan dalam Pertempuran Yagüecas.[7] Setelah itu, orang-orang Taíno yang tersisa melarikan diri dari pulau atau diperbudak oleh bangsa Spanyol.[8] Banyak yang tewas akibat merebaknya penyakit variola pada tahun 1519.[2][9]