Ad hominem, singkatan dari argumentum ad hominemcode: la is deprecated , merujuk pada beberapa jenis argumen yang mana pembicara menyerang karakter, motif, atau atribut lainnya dari orang yang mengemukakan argumen, alih-alih menyerang substansi dari argumen itu sendiri. Hal ini menghindari perdebatan yang sesungguhnya dengan menciptakan pengalihan, sering kali menggunakan atribut karakter atau latar belakang lawan yang sama sekali tidak relevan namun sangat memancing emosi. Bentuk paling umum dari kesesatan berpikir ini adalah ketika "A" membuat klaim berupa "fakta", lalu "B" meresponsnya dengan menegaskan bahwa "A" memiliki sifat pribadi, kualitas, atau atribut fisik yang buruk sehingga menyimpang dari topik, dan dari hal itu "B" menyimpulkan bahwa "fakta" dari "A" itu salah – tanpa pernah menyinggung pokok perdebatan itu sendiri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Ad hominem (Bahasa Latin: 'tertuju pada orangnya'), singkatan dari argumentum ad hominemcode: la is deprecated , merujuk pada beberapa jenis argumen yang mana pembicara menyerang karakter, motif, atau atribut lainnya dari orang yang mengemukakan argumen, alih-alih menyerang substansi dari argumen itu sendiri. Hal ini menghindari perdebatan yang sesungguhnya dengan menciptakan pengalihan, sering kali menggunakan atribut karakter atau latar belakang lawan yang sama sekali tidak relevan namun sangat memancing emosi. Bentuk paling umum dari kesesatan berpikir ini adalah ketika "A" membuat klaim berupa "fakta", lalu "B" meresponsnya dengan menegaskan bahwa "A" memiliki sifat pribadi, kualitas, atau atribut fisik yang buruk sehingga menyimpang dari topik, dan dari hal itu "B" menyimpulkan bahwa "fakta" dari "A" itu salah – tanpa pernah menyinggung pokok perdebatan itu sendiri.
Penggunaan lain dari istilah ad hominemcode: la is deprecated lebih bersifat tradisional, yang merujuk pada argumen yang secara khusus disesuaikan dengan audiens tertentu, dan dapat dijumpai dalam penggunaan filosofis khusus. Hal ini biasanya merujuk pada strategi dialektika yang menggunakan keyakinan dan argumen target itu sendiri untuk menyerang balik mereka, tanpa perlu menyetujui keabsahan dari keyakinan dan argumen tersebut. Argumen ad hominemcode: la is deprecated pertama kali dipelajari pada zaman Yunani Kuno; John Locke menghidupkan kembali kajian terhadap argumen ad hominemcode: la is deprecated pada abad ke-17.
Kesalahpahaman yang lazim terjadi adalah anggapan bahwa serangan ad hominemcode: la is deprecated bersinonim dengan hinaan. Hal ini tidaklah benar, meskipun beberapa argumen ad hominemcode: la is deprecated mungkin saja dianggap menghina oleh pihak yang menerimanya.

Berbagai jenis argumen ad hominemcode: la is deprecated telah dikenal di Dunia Barat setidaknya sejak zaman Yunani Kuno. Aristoteles, dalam karyanya Bantahan Sofistik, merincikan kesesatan berpikir apabila seseorang menguji sang penanya alih-alih argumennya.[2] Deskripsinya sedikit berbeda dari pemahaman modern, yang mana ia merujuk pada suatu kelas sofisme yang menerapkan pertanyaan ambigu tentang orang-orang kepada individu tertentu. Bantahan yang tepat, tulisnya, bukanlah memperdebatkan atribut dari orang tersebut (solutio ad hominemcode: la is deprecated ) melainkan mengatasi ambiguitas aslinya.[3] Banyak contoh argumen ad hominemcode: la is deprecated kuno yang tidak sesat (non-falasia) dipertahankan dalam karya filsuf Pironis Sextus Empiricus. Dalam argumen-argumen tersebut, konsep dan asumsi lawan digunakan sebagai bagian dari strategi dialektika untuk menyerang mereka guna menunjukkan ketidaktepatan argumen dan asumsi mereka sendiri. Dengan cara ini, argumen-argumen tersebut tertuju pada orangnya (ad hominemcode: la is deprecated ), namun tanpa menyerang sifat dari individu yang melontarkan argumen tersebut.[4] Jenis argumen ini juga dikenal sebagai "argumen dari komitmen".
Tokoh Italia Galileo Galilei dan filsuf Inggris John Locke juga meneliti argumen dari komitmen, sebuah bentuk dari argumen ad hominemcode: la is deprecated , yang berarti menguji sebuah argumen berdasarkan apakah argumen tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip orang yang membawakannya. Pada pertengahan abad ke-19, pemahaman modern akan istilah ad hominemcode: la is deprecated mulai terbentuk, dengan definisi luas yang diberikan oleh ahli logika Inggris Richard Whately. Menurut Whately, argumen ad hominemcode: la is deprecated "ditujukan pada keadaan, karakter, pendapat yang diakui, atau perilaku masa lalu individu yang khas".[5]
Seiring berjalannya waktu, istilah ini memperoleh makna yang berbeda; pada awal abad ke-20, istilah ini dikaitkan dengan kesesatan logika, di mana seorang pendebat, alih-alih membantah sebuah argumen, malah menyerang lawannya. Pendekatan ini juga dipopulerkan dalam buku-buku teks filsafat pada pertengahan abad ke-20, dan ditentang oleh filsuf Australia Charles Leonard Hamblin pada paruh kedua abad ke-20. Dalam sebuah karya yang terperinci, ia menyarankan bahwa penyertaan pernyataan yang menyerang seseorang dalam sebuah argumen tidak serta-merta menjadikannya argumen yang sesat, karena frasa tersebut bukanlah premis yang mengarah pada kesimpulan. Meskipun kritik Hamblin tidak diterima secara luas, filsuf Kanada Douglas N. Walton meneliti kesesatan argumen ad hominemcode: la is deprecated lebih jauh lagi.[6] Kecuali dalam diskursus filosofis khusus, penggunaan kontemporer dari istilah ad hominemcode: la is deprecated menggambarkan serangan langsung terhadap karakter dan etos seseorang, dalam upaya untuk mematahkan argumen mereka.[7]
Frasa Latin argumentum ad hominemcode: la is deprecated berarti 'argumen yang menentang orangnya'.[8] Dalam konteks ini, adcode: la is deprecated berarti 'melawan' atau 'menentang', namun dapat juga berarti 'kepada' atau 'menuju'.[9]
Istilah ad mulieremcode: la is deprecated dan ad feminamcode: la is deprecated telah digunakan secara khusus ketika orang yang menerima kritik tersebut adalah perempuan[10] namun istilah hominemcode: la is deprecated (bentuk akusatif dari homocode: la is deprecated ) bersifat netral gender dalam bahasa Latin, dan hanya menyiratkan bahwa penerima hinaan tersebut adalah hominid awal, alih-alih manusia modern yang terbentuk secara budaya.[11]
Penalaran ad hominemcode: la is deprecated yang sesat dikategorikan ke dalam kesesatan informal, atau lebih tepatnya sebagai kesesatan genetik, sebuah subkategori dari kesesatan relevansi.[12]
Kesesatan ad hominemcode: la is deprecated dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti tu quoquecode: la is deprecated , ad hominemcode: la is deprecated sirkumstansial, bersalah karena asosiasi, dan ad hominemcode: la is deprecated kasar. Semuanya memiliki kesamaan dengan skema umum argumen ad hominemcode: la is deprecated , yakni alih-alih menangani esensi dari argumen seseorang atau mencoba mematahkannya, lawan bicaranya malah menyerang karakter pendukung argumen tersebut dan menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan alasan yang cukup untuk mengabaikan argumen awalnya.[13]
Ad hominem tu quoquecode: la is deprecated (secara harfiah berarti 'kamu juga') adalah tanggapan terhadap sebuah argumen ad hominemcode: la is deprecated yang dengan sendirinya menjadi ad hominemcode: la is deprecated .[14]
Tu quoquecode: la is deprecated /[tuː koʊ.kweɪ]/ muncul sebagai berikut:
Sebuah contoh yang diberikan oleh profesor George Wrisley untuk mengilustrasikan hal di atas adalah:
Seorang pengusaha dan politikus sedang memberikan kuliah di sebuah universitas tentang seberapa bagus perusahaannya dan seberapa baik sistemnya bekerja. Seorang mahasiswa bertanya kepadanya, "Benarkah Anda dan perusahaan Anda menjual senjata kepada penguasa dunia ketiga yang menggunakan senjata tersebut untuk melawan rakyatnya sendiri?" dan pengusaha itu menjawab, "Benarkah universitas Anda mendapatkan pendanaan dari perusahaan yang sama yang Anda klaim menjual senjata ke negara-negara tersebut? Anda juga bukanlah merpati putih." Tuduhan ad hominemcode: la is deprecated mahasiswa tersebut tidaklah sesat, karena relevan dengan narasi yang coba dibangun oleh pengusaha tersebut. Di sisi lain, serangan pengusaha terhadap mahasiswa tersebut (yaitu, fakta bahwa mahasiswa tersebut tidak konsisten) tidak relevan dengan narasi pembukanya. Jadi, tanggapan tu quoquecode: la is deprecated dari pengusaha tersebut adalah sesat.[16]
Filsuf Kanada Christopher Tindale memiliki pendekatan yang sedikit berbeda mengenai kesesatan tu quoquecode: la is deprecated . Menurut Tindale, kesesatan tu quoquecode: la is deprecated muncul ketika tanggapan terhadap sebuah argumen didasarkan pada rekam jejak orang yang berargumen. Argumen ini juga tidak valid karena tidak membantah premisnya; jika premisnya benar, maka sumber A mungkin saja seorang yang munafik atau bahkan telah mengubah pikirannya, tetapi hal ini tidak membuat pernyataan tersebut menjadi kurang kredibel dari sudut pandang logis. Contoh umum yang diberikan oleh Tindale adalah ketika seorang dokter menyarankan pasiennya untuk menurunkan berat badan, tetapi pasien tersebut berargumen bahwa ia tidak perlu melakukan diet karena sang dokter juga kelebihan berat badan.[17]
Ad hominemcode: la is deprecated sirkumstansial menyoroti bahwa seseorang berada dalam keadaan (misalnya, pekerjaan, kekayaan, properti, atau relasi mereka) yang membuat mereka cenderung mengambil posisi tertentu. Hal ini merupakan serangan terhadap bias dari suatu sumber. Sama halnya dengan jenis argumen lainnya, ad hominemcode: la is deprecated sirkumstansial bisa saja sesat ataupun tidak. Hal ini bisa menjadi sesat karena kecenderungan untuk membuat argumen tertentu tidak lantas membuat argumen tersebut menjadi tidak valid; hal ini tumpang tindih dengan kesesatan genetik (argumen bahwa suatu klaim salah karena sumbernya). Namun, argumen ini juga bisa menjadi argumen yang logis, jika premis-premisnya benar dan bias tersebut relevan dengan argumennya.[18]
Contoh sederhananya adalah: seorang ayah mungkin memberitahu putrinya untuk tidak merokok karena hal itu akan merusak kesehatannya, lalu sang putri mungkin menunjuk pada fakta bahwa ayahnya adalah perokok atau pernah menjadi perokok. Hal ini tidak mengubah fakta bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit. Ketidakkonsistenan ayahnya bukanlah alasan yang tepat untuk menolak klaimnya.[19]
Douglas N. Walton, filsuf dan pakar dalam kesesatan informal, berargumen bahwa argumen ad hominemcode: la is deprecated sirkumstansial bisa jadi tidak sesat. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang (A) menyerang kepribadian orang lain (B), yang membuat argumen (a) sementara kepribadian B relevan dengan argumen a, misalnya B berbicara sebagai seorang figur otoritas. Untuk mengilustrasikan penalaran ini, Walton memberikan contoh seorang saksi di pengadilan: jika ia pernah ketahuan berbohong dan berbuat curang dalam hidupnya, haruskah juri begitu saja mempercayai perkataannya? Tidak, menurut Walton.[20]
Bersalah karena asosiasi, yaitu menuduh seseorang yang berargumen karena dugaan keterkaitannya dengan orang atau kelompok yang didiskreditkan, terkadang juga dapat menjadi jenis kesesatan ad hominemcode: la is deprecated ketika argumen tersebut menyerang suatu sumber karena adanya kesamaan antara pandangan seseorang yang membuat argumen dengan pendukung argumen lainnya.[21]
Bentuk argumen ini adalah sebagai berikut:[21]
Akademisi Leigh Kolb memberikan contoh bahwa kandidat wakil presiden AS 2008 Sarah Palin menyerang Barack Obama karena pernah bekerja sama dengan Bill Ayers, yang pernah menjadi pemimpin kelompok teroris Weather Underground pada tahun 1960-an. Meskipun Obama mengecam setiap tindakan terorisme, lawan-lawannya tetap mengaitkannya dengan terorisme.[22]
Bersalah karena asosiasi sering ditemukan dalam perdebatan sosial dan politik. Hal ini juga muncul setelah peristiwa besar (seperti skandal dan terorisme) yang dikaitkan dengan kelompok tertentu. Kolb mengutip puncak serangan terhadap umat Islam di AS setelah Serangan 11 September.[22]
Argumen ad hominemcode: la is deprecated kasar (atau ad hominemcode: la is deprecated langsung) dikaitkan dengan serangan terhadap karakter orang yang membawakan argumen. Jenis argumen ini, selain biasanya sesat, juga kontraproduktif, karena dialog yang baik sulit dicapai setelah serangan semacam itu.[23][24][25]
Isu utama dalam menguji sebuah argumen untuk menentukan apakah hal tersebut merupakan kesesatan ad hominemcode: la is deprecated atau bukan adalah apakah tuduhan terhadap orang tersebut benar atau tidak, dan apakah tuduhan tersebut relevan dengan argumennya. Contohnya adalah dialog di pengadilan, saat pengacara melakukan pemeriksaan silang terhadap saksi mata, yang mengungkap fakta bahwa saksi tersebut pernah dihukum di masa lalu karena berbohong. Jika kesimpulan pengacara adalah bahwa saksi tersebut sedang berbohong, hal itu adalah salah. Namun, jika argumennya adalah bahwa saksi tersebut tidak dapat dipercaya, itu bukanlah suatu kesesatan.[26]
Argumen ad hominemcode: la is deprecated dari komitmen adalah jenis argumen valid yang menggunakan strategi dialektika, yaitu penggunaan eksklusif atas keyakinan, pendirian, dan asumsi dari mereka yang memegang posisi yang sedang ditentang, yakni argumen yang dibangun berdasarkan apa yang dianggap benar oleh orang lain. Penggunaan ini umumnya hanya dijumpai dalam diskursus filosofis khusus atau dalam penggunaan sebelum abad ke-20.[27] Jenis argumen ini juga dikenal sebagai argumen ex concessiscode: la is deprecated (bahasa Latin untuk 'dari apa yang telah diakui').[28]
Kesesatan ad hominemcode: la is deprecated dianggap tidak beradab dan tidak membantu menciptakan suasana yang konstruktif agar dialog dapat berkembang.[29] Serangan ad hominemcode: la is deprecated adalah serangan terhadap karakter target yang cenderung merasa perlu membela diri dari tuduhan bersikap munafik. Walton mencatat bahwa ini adalah argumen yang sangat kuat sehingga sering digunakan dalam banyak perdebatan politik. Karena dikaitkan dengan hal-hal negatif dan taktik kotor, argumen ini mendapat reputasi buruk karena selalu dianggap sesat.[30]
Penulis Eithan Orkibi, yang telah mempelajari politik Israel menjelang pemilihan umum, menggambarkan dua bentuk serangan ad hominemcode: la is deprecated lainnya yang umum terjadi selama masa pemilihan. Keduanya bergantung pada memori kolektif yang dibagikan oleh pendukung maupun audiens. Yang pertama adalah "ad hominemcode: la is deprecated preseden", yang mana menurut argumen ini riwayat masa lalu seseorang menandakan bahwa mereka tidak pantas untuk menduduki jabatan tersebut. Bentuknya seperti ini: "Lawan saya (diduga) salah di masa lalu, oleh karena itu dia salah sekarang". Yang kedua adalah ad hominemcode: la is deprecated perilaku: "lawan saya tidak pantas dalam argumennya di masa lalu, jadi dia juga tidak pantas sekarang". Serangan semacam ini didasarkan pada ketidakmampuan audiens untuk memiliki pandangan yang jelas mengenai jumlah pernyataan palsu yang dibuat oleh kedua belah pihak dalam perdebatan tersebut.[31]
Walton berpendapat bahwa penalaran ad hominemcode: la is deprecated tidaklah selalu sesat, dan dalam beberapa kasus, pertanyaan mengenai perilaku pribadi, karakter, motif, dan lain-lain, adalah sah dan relevan dengan pokok permasalahan,[32] misalnya ketika hal tersebut secara langsung melibatkan kemunafikan, atau tindakan yang bertentangan dengan perkataan subjek tersebut.
Filsuf Charles Taylor berpendapat bahwa penalaran ad hominemcode: la is deprecated (membahas fakta-fakta tentang pembicara atau penulis sehubungan dengan nilai dari pernyataan mereka) sangat penting untuk memahami masalah moral tertentu karena adanya hubungan antara individu dengan moralitas (atau klaim moral), dan ia membedakan penalaran semacam ini dengan penalaran apodiktik (melibatkan fakta-fakta yang tidak dapat dibantah atau telah ditetapkan secara jelas) dari naturalisme filosofis.[33]