Acer palmatum, yang secara umum dikenal sebagai mapel Jepang, mapel menjari, atau mapel Jepang halus, merupakan spesies tumbuhan berkayu yang berasal dari Korea, Jepang, Tiongkok, Mongolia timur, dan Rusia tenggara. Berbagai kultivar dari mapel ini telah diseleksi dan dibudidayakan di seluruh dunia karena keragaman bentuknya yang menawan, variasi bentuk daun, serta warna musim gugurnya yang spektakuler.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Acer palmatum | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Rosidae |
| Ordo: | Sapindales |
| Famili: | Sapindaceae |
| Genus: | Acer |
| Seksi: | Acer sect. Palmata |
| Series: | Acer ser. Palmata |
| Spesies: | A. palmatum |
| Nama binomial | |
| Acer palmatum Thunb. 1784 bukan Raf. 1836 | |
| Sinonim[2] | |
|
Daftar
| |
Acer palmatum, yang secara umum dikenal sebagai mapel Jepang,[3] mapel menjari,[4] atau mapel Jepang halus[5] (Korea: danpungnamu [단풍나무code: ko is deprecated ]; Jepang: irohamomiji [イロハモミジcode: ja is deprecated ] atau momiji [紅葉code: ja is deprecated ]), merupakan spesies tumbuhan berkayu yang berasal dari Korea, Jepang, Tiongkok, Mongolia timur, dan Rusia tenggara.[6] Berbagai kultivar dari mapel ini telah diseleksi dan dibudidayakan di seluruh dunia karena keragaman bentuknya yang menawan, variasi bentuk daun, serta warna musim gugurnya yang spektakuler.[7]
Acer palmatum bersifat luruh daun, dengan habitus pertumbuhan menyerupai semak atau pohon kecil yang mencapai ketinggian 6 hingga 10 m (20 hingga 33 ft)[butuh rujukan], meski terkadang mencapai 16 m (52 ft)[butuh rujukan], dengan lebar tajuk dewasa antara 45 hingga 10 m (148 hingga 33 ft).[8] Di habitat aslinya, spesies ini sering tumbuh sebagai tumbuhan bawah di hutan yang teduh. Batangnya dapat berjumlah jamak yang bercabang dekat dengan permukaan tanah. Secara perawakan, kanopinya sering kali membentuk kubah, terutama pada pohon yang telah dewasa.[9] Daunnya memiliki panjang dan lebar antara 4–12 cm (1+1⁄2–4+3⁄4 in), bercangap menjari dengan lima, tujuh, atau sembilan lobus yang berujung runcing. Bunganya tersusun dalam perbungaan terbatas (cyme) kecil, dengan masing-masing bunga memiliki lima sepal merah atau ungu dan lima petal keputihan. Buahnya berupa sepasang samara bersayap, dengan masing-masing samara sepanjang 2–3 cm (3⁄4–1+1⁄4 in) yang membungkus biji berukuran 6–8 mm (1⁄4–5⁄16 in). Biji Acer palmatum dan spesies serupa memerlukan stratifikasi agar dapat berkecambah.[9][10]
Bahkan di alam liar, Acer palmatum menunjukkan variasi genetik yang luas; semai dari pohon induk yang sama biasanya menunjukkan perbedaan dalam sifat-sifat seperti ukuran, bentuk, dan warna daun. Bentuk pertumbuhan pohon secara keseluruhan juga bervariasi dari tegak hingga merunduk (weeping).[9]
Terdapat tiga subspesies yang diakui:[9][10]


Acer palmatum telah dibudidayakan di Jepang selama berabad-abad dan di wilayah beriklim sedang di seluruh dunia sejak tahun 1800-an.[9] Spesimen pertama dari pohon ini mencapai Britania Raya pada tahun 1821.
Ketika dokter sekaligus botanis asal Swedia, Carl Peter Thunberg, melakukan perjalanan di Jepang pada akhir abad ke-18, ia membuat ilustrasi dari sebuah pohon kecil yang kelak menjadi sinonim dengan seni tinggi taman oriental.[11] Ia memberikan nama spesies palmatum berdasarkan bentuk daunnya yang menyerupai telapak tangan, serupa dengan nama Jepang kuno kaede dan momiji, yang masing-masing merujuk pada 'tangan' katak[12] dan tangan bayi.[butuh rujukan]
Ahli hortikultura Jepang telah lama mengembangkan berbagai kultivar dari mapel yang ditemukan di Jepang serta negara tetangga seperti Korea dan Tiongkok. Pohon ini merupakan pilihan populer bagi para penggemar bonsai[13] dan telah lama menjadi subjek dalam karya seni.
Sejumlah besar kultivar populer di Eropa dan Amerika Utara, dengan varian berdaun merah menjadi yang paling diminati, diikuti oleh semak hijau merunduk dengan daun yang terbelah sangat dalam.[9]
Acer palmatum mencakup ribuan kultivar yang telah diberi nama dengan beragam bentuk, warna, tipe daun, ukuran, serta kondisi pertumbuhan yang disukai. Ketinggian spesimen dewasa berkisar antara 0,5 hingga 25 m, bergantung pada jenisnya.
Sediaan dari ranting dan daunnya digunakan sebagai pengobatan dalam pengobatan tradisional Tiongkok.[14] Daunnya juga dapat dimakan; hidangan lokal yang berasal dari Minoh, yaitu momiji tempura, melibatkan proses perendaman daun selama satu tahun sebelum dilapisi tepung, biji wijen, dan gula, lalu digoreng hingga garing.[15]
[Kata kaede berasal dari kaeru te "tangan katak" dan melewati bentuk perantara kaende]