Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Abu Umamah al-Bahili

Abu Umamah Al-Bahili adalah sahabat Nabi Muhammad dan pemimpin Himsh (Homs) di Suriah. Nama lengkapnya yaitu Shudai bin Ajlan bin Wahhab. Ia ikut serta dalam peristiwa Bai'ah ar-Ridwan.

sahabat Muhammad
Diperbarui 15 Oktober 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel bertopik Islam ini berkualitas rendah karena menggunakan gaya bahasa yang berlebihan dan hiperbolis tanpa memberikan informasi yang jelas. Artikel ini kemungkinan menggunakan gaya bahasa naratif, hiperbolisasi, atau gelar-gelar kehormatan Islam (lihat WP:GELARISLAM). Bantu memperbaiki kualitas artikel ini dengan menghapus gelar kehormatan Islam, merombak gaya bahasa naratif menjadi deskriptif dan netralisasi kalimat-kalimat yang hiperbolis. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Abu Umamah Al-Bahili (bahasa Arab: أَبُو أُمَامَة البَاهِليcode: ar is deprecated ) adalah sahabat Nabi Muhammad dan pemimpin Himsh (Homs) di Suriah. Nama lengkapnya yaitu Shudai bin Ajlan bin Wahhab. Ia ikut serta dalam peristiwa Bai'ah ar-Ridwan.

Abu Umamah al-Bahili berasal dari kabilah Arab yang berstatus sosial rendah, yakni Kabilah Bahilah. Saking rendahnya kabilah ini di mata masyarakat Arab saat itu, sampai-sampai ada syair yang mengatakan:

إذا قيل للكلب ياباهلي ***عوى الكلب من شؤم هذا النسب

"Kalau seekor anjing dipanggil, Hei Bahili (orang Bahilah)."

"Pastilah dia menggonggong (marah) mencela garis keturunan ini."

Abu Umamah Al-Bahili kemudian memutuskan untuk memeluk agama Islam, agama yang tidak memandang orang karena nasabnya. Sejak saat itu, Abu Umamah menjadi sahabat Rasulullah SAW dan meriwayatkan ilmu (hadis) darinya. Abu Umamah termasuk salah seorang yang berbaiat di bawah pohon (Baitur Ridhwan).[1]

Ajaran Rasulullah pada Abu Umamah Al-Bahili

Ada riwayat yang menceritakan bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan sesuatu kepada Abu Umamah Al-Bahili.

Abu Umamah al-Bahili mengatakan bahwa Rasulullah SAW melewatinya. Saat itu mulut Abu Umamah sedang komat-kamit. Rasulullah bertanya:

بأيِّ شيءٍ تحرِّكُ شفَتَيكَ يا أبا أمامةَ ؟ . فقلتُ : أذكرُ اللهَ يا رسولَ اللهِ ! فقال : ألا أُخبرُكَ بأكثرَ وأفضلَ من ذِكرِك باللَّيلِ والنَّهارِ ؟ . قلتُ : بلى يا رسولَ اللهِ ! قال : تقولُ : ( سبحان اللهِ عدَدَ ما خلق ، سبحان اللهِ مِلْءَ ما خلَق ، سبحان اللهِ عدَدَ ما في الأرضِ [والسماءِ] سبحان اللهِ مِلْءَ ما في الأرضِ والسماءِ ، سبحان اللهِ عدَدَ ما أحصى كتابُه ، سبحان اللهِ مِلْءَ ما أحصى كتابُه ، سبحان اللهِ عددَ كلِّ شيءٍ ، سبحانَ اللهِ مِلْءَ كلِّ شيءٍ ، الحمدُ للهِ عددَ ما خلق ، والحمدُ لله مِلْءَ ما خلَق ، والحمدُ لله عدَدَ ما في الأرضِ والسماءِ ، والحمدُ لله مِلْءَ ما في الأرضِ والسماءِ ، والحمدُ للهِ عدَدَ ما أحصى كتابُه ، والحمدُ لله مِلْءَ ما أحصى كتابُه ، والحمدُ للهِ عدَدَ كلِّ شيءٍ ، والحمدُ للهِ مِلْءَ كلِّ شيءٍ

“Apa yang sedang kau ucapakan, Abu Umamah”? Aku jawab, “Aku sedang berdzikir kepada Allah, Rasulullah.” Beliau bersabda, “Maukah kau kuberi tahu dengan sesuatu yang lebih banyak dan lebih utama dari dzikirmu itu walaupun dibaca semalaman dan sepanjang siang?" Aku jawab, “Tentu mau, Rasulullah.” Beliau bersabda, “Ucapkanlah: Subhanallah ‘adadd ma khalaqa. Subhanallah mil-a ma khalaqa. Subhanallah ‘adada ma fil ardhi was sama-i. Subhanallah mil-a ma fil ardhi was sama-i. subhanallah ‘adada ma ah-sha kitabuhu. Subhanallah mil-a ma ah-sha kitabuhu. Subhanallah ‘adad kulli syaiin. Subhanallahu mil-a kulli syaiin. Alhamdulillah ‘adada ma khalaqa. Walhamdulillah mil-a ma ‘adada ma fil ardhi was sama-i. walhamdulillah mil-a ma fil ardhi was sama-i. walhamdulillah ‘adada ma ah-sha kitabuhu. Walhamdulillah mil-a ma ah-sha kitabuhu. Walhamdulillah ‘adada kulli syaiin. Walhamdulillah mil-a kulli syaiin.” [Shahih at-Targhib, 1575].[1]

Malaikat Bershalawat untuk Abu Umamah Al-Bahili

Dari Salim bin Amir, ia berkata, “Ada seseorang menemui Abu Umamah lalu berkata, ‘Abu Umamah, aku bermimpi melihat malaikat bershalawat (mendoakanmu) untukmu. Setiap aku masuk dan keluar. Setiap aku berdiri dan duduk’. Abu Umamah menanggapi dengan mengatakan, ‘Aku mohon ampunan kepada Allah. Kusampaikan kepada kalian, kalau kalian mau, malaikatpun akan bershalawat kepada kalian. Kemudian ia membaca firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً * هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” [Quran Al-Ahzab: 41-43].[1]

Riwayat Hadis Abu Umamah Al-Bahili

Keutamaan Memeluk Islam

يقول أبو أمامة الباهلي: شهدت خطبة رسول الله يوم حجة الوداع فقال قولاً كثيرًا حسنًا جميلاً وكان فيها: “من أسلم من أهل الكتابين فله أجره مرتين وله مثل الذي لنا وعليه مثل الذي علينا, ومن أسلم من المشركين فله أجره وله مثل الذي لنا وعليه مثل الذي علينا”.

Abu Umamah berkata, “Aku menyaksikan khutbah Rasulullah di Haji Wada’. Beliau mengucapkan banyak pesan yang indah. Di antaranya adalah ‘Siapa yang memeluk Islam, dan dia dari Yahudi atau Nasrani, baginya pahala dua kali. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti kita. Siapa yang memeluk Islam, dan dia sebelumnya musyrik, baginya juga pahala. Ia juga memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti kita.” [HR. ath-Thabrani].

Keutamaan Membaca Surat Al-Baqarah dan Al-Imran

اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا يَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ يُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ؛ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَاحَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

Abu Umamah al-Bahili mendengar Rasulullah bersabda, “Bacalah ‘dua tangkai bunga indah’, yakni surat al-Baqarah dan Ali Imran. Sebab, keduanya akan datang pada hari Kiamat laksana penaung, atau seperti awan pelindung, atau seperti kelompok burung yang membeberkan sayap-sayapnya dan membela pembaca keduanya. Maka bacalah surat al-Baqarah, sebab di dalamnya terdapat keberkahan. Sedangkan meninggalkannya adalah kerugian. Bahkan, para pelaku kebatilan (para ahli sihir) pun tak mampu menembusnya.” [HR. Muslim 804].

Keutamaan Puasa

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قاَلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، مُرْنِيْ بِأَمْرٍ يَنْفَعُنِيَ اللهُ بِهِ، قاَلَ: عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ

Dari Abu Umamah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, perintahkanlah aku satu amalan yang Allah akan memberiku manfaat dengannya (masuk surga).” Beliau bersabda, “Kerjakanlah puasa, tak ada amalan yang setara dengannya.” [HR. Nasa’i]

Keutamaan Ikhlas

Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah,

أرأيتَ رجلًا غزا يلتمِسُ الأجرَ والذِّكرَ ما له ؟ فقال : لا شيءَ له , فأعادها ثلاثةَ مرَّاتٍ يقولُ لا شيءَ له , ثمَّ قال : إنَّ اللهَ لا يقبلُ من العملِ إلَّا ما كان خالصًا وابتُغي به وجهُه

“Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang mencari balasan dan ketenaran, apa yang dia dapatkan”? Nabi menjawab, “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Nabi mengulangi jawabannya 3x. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali kalau amalan tersebut ikhlas berharap wajah Allah.” [Shahih an-Nasai, 3140].

Keutamaan Salat Malam

Dari Abu Umamah al-Bahili, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عليكُم بقيامِ اللَّيلِ ، فإنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحينَ قبلَكُم ، و قُربةٌ إلى اللهِ تعالى ومَنهاةٌ عن الإثمِ و تَكفيرٌ للسِّيِّئاتِ ، ومَطردةٌ للدَّاءِ عن الجسَدِ

“Hendaknya kalian menjaga shalat malam. Karena ini adalah ciri orang-orang shaleh sebelum kalian. Salah satu amalan yang mendekatkan kepara Allah Ta’ala. Mencegah dari perbuatan dosa. Dan menghapus dosa. Serta mengusir penyakit dari badan.” [Shahih al-Jami’, 4079].[1]

Abu Umamah Al-Bahili wafat pada tahun 86 Hijriyah.[2] Ada pula riwayat yang menyebutkan Abu Umamah wafat pada tahun 81 Hijriyah, pada usia 91 tahun.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 admin (2021-04-19). "Abu Umamah al-Bahili". Cerita kisah cinta penggugah jiwa (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-15.
  2. ↑ Musyarofah, Umi (2012). Hadits Dakwah & Komunikasi. Pondok Gede: TASNIM. hlm. 98. ISBN 978-979-15182-3-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
  • İslâm Ansiklopedisi

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Ajaran Rasulullah pada Abu Umamah Al-Bahili
  2. Malaikat Bershalawat untuk Abu Umamah Al-Bahili
  3. Riwayat Hadis Abu Umamah Al-Bahili
  4. Keutamaan Memeluk Islam
  5. Keutamaan Membaca Surat Al-Baqarah dan Al-Imran
  6. Keutamaan Puasa
  7. Keutamaan Ikhlas
  8. Keutamaan Salat Malam
  9. Referensi

Artikel Terkait

Sahabat Nabi

sahabat, murid, atau anggota keluarga Nabi Muhammad

Pesta Sahabat

teater musikal

Muhammad

nabi utama dan pendiri agama Islam (c. 570-632)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026